Suasana pergantian tahun tak selalu dengan pesta meriah dan kembang api. Bagi sebagian warga Bandung, Taman Film di kawasan Pasupati justru menjadi ruang alternatif untuk menghabiskan malam tahun baru dengan suasana yang lebih tenang dan ramah keluarga.
Malam itu, rumput sintetis hijau yang menjadi ciri khas taman ini dipenuhi oleh keluarga yang duduk lesehan. Salah satunya adalah Dela (28), warga Cihampelas yang datang memboyong keluarga kecilnya. Bagi Dela, ini adalah pengalaman pertamanya merayakan tahun baru di Taman Film.
“Baru sih, baru kesini, baru nyobain. Alasan milih Taman Film buat tahun baruan karena tempatnya luas ya buat bawa main anak-anak, jadi pas banget buat bawa keluarga ke sini,” ujar Dela sambil memperhatikan buah hatinya berlarian saat ditemui oleh infoJabar.
Dela mengaku terkesan dengan perubahan Taman Film saat ini. Menurutnya, suasana malam pergantian tahun di sini terasa seru namun tetap tenang, sangat cocok bagi mereka yang ingin menghindari hiruk-pikuk kemacetan kota yang berlebihan.
“Sekarang sih keliatannya lebih baik, terus kayaknya aman juga. Saya kan main ke sini, ini juga Taman Film makin dirubah juga kan, nggak kayak dulu. Paling menikmati ya kayak gini, bisa kumpul bareng lihat anak main, apalagi sekarang ada taman bermainnya, dulu kan nggak ada,” tambahnya.
Meski begitu, Dela berharap fasilitas ikonik taman ini bisa dimaksimalkan kembali. “Saran saya, mungkin tempat main anak ditambah lagi speknya. Terus itu TV (layar raksasa) dinyalain lagi biar makin ramai, nggak sepi. Jadi bisa dipake nonton bareng (nobar) gitu,” harap Dela.
Tidak jauh dari posisi Dela, dua pemuda asal Tamansari, Nabil dan Thoriq, juga tampak menikmati suasana. Kakak beradik ini memilih Taman Film karena lokasinya yang dekat dengan rumah, meski awalnya mereka menyimpan ekspektasi lebih terhadap layar raksasa yang ada di sana.
“Sebenernya saya ke sini tuh mau nonton TV, saya kira layarnya nyala, tapi ternyata enggak. Jadi main di taman bermainnya aja. Rencananya habis ini mau keliling-keliling lagi cari suasana yang lebih ramai,” ungkap Thoriq saat berbincang dengan infoJabar
Bagi Nabil, suasana jam 19.30 WIB di Taman Film memang masih tergolong landai. Sebagai santri, ia memiliki pandangan yang cukup moderat dalam memaknai malam pergantian tahun.
“Mungkin karena belum terlalu malem jadi masih sepi, baru anak-anak main bola sama keluarga yang duduk-duduk. Kita juga sebenernya nggak terlalu memikirkan perayaan tahun baru karena memang tidak dianjurkan kita kan anak pesantren ya. Jadi ke sini ya sekadar jalan-jalan saja karena pengen keluar rumah,” jelas Nabil.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Meski mengapresiasi keberadaan Taman Film sebagai ruang publik, Nabil memberikan catatan kritis terkait perawatan fasilitas. Ia menyayangkan beberapa sudut yang tampak kurang terurus.
“Kalau kenyamanan sudah lumayan, tapi kebersihan masih kurang. Banyak fasilitas tidak terawat, kayak tempat baca buku yang sekarang kosong, lampu juga banyak yang mati, sama kamar mandi yang tidak beroperasi,” keluh Nabil.
Nabil dan Thoriq sepakat bahwa Taman Film memiliki potensi besar jika dikelola lebih serius, terutama saat momentum besar seperti tahun baru. Mereka membayangkan tempat ini bisa semeriah pasar malam dengan fasilitas yang berfungsi penuh.
“Harapannya ke depan diadain lagi permainan kayak kora-kora atau pasar malam gitu. Dan yang paling penting, TV-nya dihidupin lagi, minimal setiap malam minggu. Pasti seru banget, rasanya kayak nonton di bioskop tapi versinya lebih terbuka,” pungkas mereka.
Seiring malam yang semakin larut, Taman Film terus didatangi warga. Meski tanpa dentuman musik keras, tawa anak-anak di atas rumput sintetis menjadi bukti bahwa ruang publik yang sederhana pun bisa menjadi tempat istimewa untuk menutup tahun.
Keberadaan Taman Film sebagai ruang publik terbuka menunjukkan bahwa perayaan tahun baru tak selalu harus dirayakan dengan hingar-bingar. Bagi sebagian warga, kebersamaan, ruang terbuka, dan suasana sederhana justru menjadi makna utama menyambut tahun yang baru.
