Sebutan Kota Kembang bagi Bandung bukan sekadar romantisme masa lalu. Di kawasan Taman Cibeunying, identitas itu masih hidup dan tumbuh di antara rimbun tanaman hias yang berjajar di tengah denyut kota. Di sini, jual beli tanaman bukan hanya soal transaksi, tetapi juga tentang sejarah panjang, keahlian yang diwariskan, dan ketekunan para florist yang bertahan lintas generasi.
Sejak puluhan tahun lalu, kawasan sekitar Taman Cibeunying dikenal sebagai sentra tanaman hias. Deretan tanaman yang memenuhi sisi jalan menghadirkan ruang hijau di tengah kawasan perkotaan yang padat. Dani, salah satu pedagang, menjadi saksi bagaimana usaha ini bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Zaman almarhum kakek, dia sudah petani di Cihideung, Parongpong. Turun ke bapak saya, dari bapak ke saya. Jadi ini mah turun-temurun,” ungkap Dani, Senin (5/1/2026).
Ia menceritakan, pada masa awal, kawasan ini belum seperti sekarang. Tidak ada kios permanen atau lapak tertata. Para pedagang hanya menghamparkan tanaman di sepanjang jalan Taman Cibeunying.
“Kakek saya dari awal sudah ada di sini jualan, tapi belum seperti sekarang, dulu masih hamparan tanaman saja,” tambahnya.
Seiring waktu, wajah usaha tanaman hias di Cibeunying ikut berubah. Jika dulu pedagang hanya menjual tanaman satuan dan perlengkapan berkebun, kini mereka menyesuaikan diri dengan tren kebutuhan masyarakat perkotaan. Permintaan terhadap penataan halaman rumah hingga mini garden mendorong pedagang memperluas layanan.
“Sekarang mulai muncul tren tanaman-tanaman hias yang dibentuk di halaman, relief, kolam, sampai vertical garden. Kita jadi menyediakan jasa untuk pembuatannya,” jelas Dani.
Perubahan ini membuka peluang ekonomi baru. Pepep, pedagang tanaman hias lainnya, mengaku jasa pembuatan taman dan relief kini justru menjadi sumber pendapatan utama. Nilai proyeknya pun tidak kecil.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Contohnya bikin kolam minimalis, kemarin itu di kisaran 40 juta sudah termasuk tanamannya. Sudah termasuk mesin, ada alat pengkabut juga di atasnya,” jelasnya.
Menurut Pepep, setiap proyek dikerjakan berdasarkan permintaan konsumen, mulai dari konsep hingga penyesuaian dengan luas lahan. Ia memilih terlibat langsung dalam pengerjaan untuk menjaga kualitas hasil akhir.
“Saya langsung terjun sendiri, jadi langsung saya yang mengerjakannya,” jelasnya.
Meski bisnis berkembang semakin kompleks, para pedagang tetap membuka ruang edukasi bagi warga kota yang baru ingin mengenal dunia tanaman hias. Bagi mereka, memilih tanaman yang tepat adalah kunci agar hobi berkebun tidak berhenti di tengah jalan.
“Awal-awal bagusnya coba tanaman yang bandel, seperti jenis Sansevieria (Lidah Mertua), kaktus, atau Bromelia. Itu awet. Kalau kita terlambat menyiram atau lupa menyiram dua minggu juga masih kuat,” saran Dani.
Di Taman Cibeunying, tanaman hias bukan sekadar komoditas. Ia adalah jejak sejarah, sumber penghidupan, sekaligus simbol bagaimana Kota Bandung menjaga julukan Kota Kembang tetap berakar, meski zaman terus bergerak maju.
