Riuh Pasar Simpang Dago yang Kini Memudar

Posted on

Pagi di Pasar Simpang Dago kini terasa berbeda. Lapak-lapak masih terbuka, aroma sayur segar masih tercium, dan riuh transaksi sesekali terdengar. Namun, denyut kehidupannya tak lagi sama.

Pasar yang dulu menjadi penggerak ekonomi rakyat itu kini terasa lengang. Pembeli datang lebih jarang, pedagang pun tak lagi seramai dahulu. Simpang Dago, yang pernah menjadi pusat perputaran kebutuhan pokok warga, perlahan kehilangan keramaiannya.

Padahal bertahun-tahun silam, kawasan ini bukan sekadar ruang transaksi. Simpang Dago adalah tempat banyak orang menggantungkan hidup. Waktu subuh menjadi saat paling sibuk, ketika aktivitas jual beli dimulai bahkan sebelum matahari terbit.

Kala itu, sejak pukul 02.00 WIB, sayur mayur dan kebutuhan pokok sudah berpindah tangan dengan cepat. Pasar hidup hampir tanpa jeda. Kini, ritme itu berubah drastis. Aktivitas jual beli baru dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dan berakhir lebih cepat. Banyak pedagang menutup lapak sebelum tengah hari karena arus pembeli yang terus menurun.

Oman (63) masih mengingat jelas masa-masa ketika Pasar Simpang Dago menjadi pusat transaksi dari berbagai daerah. Ia telah menjadi bagian dari pasar tersebut sejak 1990.

Kala itu, pasar tidak hanya berpusat pada satu bangunan utama, tetapi meluber hingga memenuhi jalan Simpang Dago.

“Di dalam pasar itu penuh sekitar 40 kios. Sisanya di luar, tiga jalur. Bisa sampai 300 pedagang,” kata Oman.

Arus pembeli yang silih berganti menghidupkan suasana pasar sepanjang hari. Bagi pedagang kaki lima seperti Oman, pasar bukan sekadar tempat berdagang, melainkan ruang untuk bertahan hidup.

Situasi itu mulai berubah ketika pemerintah membatasi aktivitas jual beli di bahu jalan. Pedagang terpaksa terpecah ke beberapa lokasi. Tahun 2008 menjadi titik balik yang hingga kini masih membekas dalam ingatan para pedagang.

Penggusuran yang terjadi saat itu menjadi awal dari perubahan besar di Pasar Simpang Dago. Aksi protes sempat dilakukan, namun tak membuahkan solusi. Tidak ada relokasi resmi yang terstruktur. Para pedagang akhirnya harus mencari jalan sendiri.

“2008 itu. Sebelum pada pindah, sempat demo dulu di kota madya. Semua pedagang, sekitar 400 orang, nginep di sana, bawa makan segala macam. Tapi tetap nggak ada solusi, harus pindah aja pokoknya,” tutur Oman.

Kondisi pasar saat itu memang tak mampu menampung seluruh pedagang. Di dalam bangunan hanya tersedia sekitar 40 kios, sementara ratusan pedagang lainnya membuka lapak di bahu jalan hingga menutup akses jalan umum.

Hal serupa juga dirasakan Eva, pedagang plastik yang memilih bertahan di dalam pasar. Ia menilai suasana Pasar Simpang Dago saat ini sangat jauh berbeda dibanding awal dirinya berjualan pada awal 2000-an.

“Bedanya jauh, kalau dulu itu pasar rame. Kalau sekarang mungkin sisa sekitar sepertiganya,” kata Eva.

Eva menyebut, sebagian pedagang menyadari kesalahan berjualan di sepanjang jalan saat pembatasan diberlakukan. Namun, keterbatasan pilihan membuat mereka berpindah ke kawasan lain, seperti Terminal Dago dan Tubagus Ismail.

“Mungkin karena disitu juga kan penjual bingung mau ke mana. Ada yang kordinator akhirnya memilih yaudah kita pindah,” ucapnya.

Perpindahan itu membuat Pasar Simpang Dago semakin sepi. Eva menjelaskan, Terminal Dago yang sebelumnya bukan kawasan pasar, perlahan berubah menjadi tujuan baru pembeli karena banyaknya pedagang yang berpindah ke sana.

Namun, relokasi bukan satu-satunya faktor. Eva menilai, perubahan zaman turut memberi tekanan besar bagi pasar tradisional. Sistem jual beli modern dan menurunnya daya beli masyarakat menjadi tantangan yang terus bertambah.

Hadirnya platform jual beli online memangkas rantai distribusi yang selama ini menjadi ruang hidup pedagang pasar.

“Kalau dulu kan pabrik ke distributor, ke agen, ke grosir, baru ke pasar. Sekarang produsen bisa langsung ke konsumen lewat online. Istilahnya pelanggan kita jadi diambil,” kata Eva.

Pedagang Pasar Simpang Dago yang mayoritas pedagang eceran semakin terjepit oleh harga dan kecepatan distribusi. Di sisi lain, kawasan Dago sebagai pusat kota dengan factory outlet, restoran, dan kafe ikut menggeser pola belanja masyarakat.

Bagi para pedagang, kondisi ini bukan sekadar soal sepinya pembeli. Ini tentang ruang hidup yang perlahan menyempit. Di tengah perubahan wajah kota dan cara orang berbelanja, Pasar Simpang Dago masih berusaha bertahan, meski zaman terus melaju lebih cepat darinya.