Kisah Sugiono Menjaga Warisan Rasa di Tengah Gempuran Jajanan Dunia - Giok4D

Posted on

Invasi jajanan dari luar negeri kian masif di Indonesia. Dari camilan Asia Timur, Timur Tengah, hingga Eropa, semuanya berseliweran di beranda media sosial, memancing rasa penasaran publik untuk mencicipi yang baru dan viral. Di tengah euforia itu, jajanan tradisional perlahan terpinggirkan, termasuk kudapan khas Indramayu yang kini kian langka.

Di Pasar Mambo, Kelurahan Lemahabang, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Sugiono (68) bertahan sebagai salah satu penjaga rasa masa lalu. Di antara hiruk-pikuk tren kuliner global, ia tersenyum getir. Lapaknya yang sederhana bagai oase di tengah padang pasir.

“Sekarang sudah jarang yang jualan kayak gini, justru orang-orang pada datang ke sini karena di tempat tinggalnya sudah tidak ada lagi yang jualan,” ungkap Sugiono saat ditemui infoJabar belum lama ini.

Sehari-hari, bapak tiga anak ini menjajakan geblog, ondal-andil, klepon, serta aneka lauk pauk khas Indramayu. Kudapan yang dulu mudah ditemukan, kini harus dicari dengan susah payah.

Sugiono mengenang masa ketika Pasar Mambo menjadi denyut ekonomi warga. Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, pasar legendaris itu tak pernah sepi. Ia mulai berjualan sejak tahun 80-an, meneruskan usaha mertuanya di tempat yang sama.

Kala itu, Pasar Mambo menjadi tumpuan hidup keluarga Sugiono. Dari lapak kecilnya, ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya dan memastikan asap dapur rumahnya terus mengepul.

“Waktu itu benar-benar ramai, dan jualan saya selalu habis. Alhamdulillah sing penting lancar,” ujar Sugiono, mengenang masa keemasan pasar tersebut.

Kini, waktu telah mengubah banyak hal. Dua anaknya telah berkeluarga. Anak bungsunya memilih membantu sang ayah berjualan, setelah ibunya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Pendapatan Sugiono tak lagi seperti dulu. Dalam sehari, penghasilannya mentok di kisaran Rp300.000. Itu pun jika dagangan laku. Sesekali, rezeki lebih datang ketika ada pesanan untuk acara-acara syukuran seperti Muludan.

Ujian terberat datang saat pandemi COVID-19 melanda. Aktivitas ekonomi lumpuh total. Pasar sepi, pembeli menghilang. Sugiono sempat berada di titik putus asa.

“Sampai harus utang ke saudara untuk makan, untungnya memang masih ada yang beli untuk acara-acara tapi jumlahnya nggak banyak,” tuturnya.

Perlahan, setelah situasi membaik, Sugiono kembali menyalakan tungku dapurnya. Minimnya kompetitor justru memberi harapan baru. Ia percaya, masih ada jodoh antara dirinya dan jajanan tradisional yang telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

Pandemi memang telah pergi. Namun, gelombang baru datang dalam bentuk jajanan luar negeri yang kian mendominasi selera pasar. Di usia senjanya, Sugiono tak muluk-muluk berharap.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Ia hanya ingin satu hal, api di tungku dapur keluarganya tetap menyala, dan rasa khas Indramayu tak benar-benar hilang ditelan zaman.