Puluhan warga penerima manfaat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari subjek Reforma Agraria di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, mulai menjalankan sistem peternakan terintegrasi. Selain memanfaatkan lahan untuk beternak, warga juga didorong menanam berbagai tanaman yang dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Plt Kepala Badan Bank Tanah, Hakiki Sudrajat, mengatakan sebelum pemanfaatan lahan dijalankan, pihaknya terlebih dahulu memberikan pelatihan kepada warga, salah satunya terkait pembuatan pakan silase.
Badan Bank Tanah juga bekerja sama dengan sebuah yayasan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat bagi penerima HPL, guna memberikan pelatihan peternakan dan pertanian terintegrasi. Menurut Hakiki, langkah tersebut bertujuan agar pengelolaan peternakan rakyat dapat berjalan maksimal dan efisien, khususnya dalam pemenuhan pakan.
“Pelatihannya dilakukan selama dua hari, dimana di hari pertama dilatih untuk pengolahan pakan. Kemudian dilanjutkan dengan studi banding pengelolaan peternakan modern berkelanjutan di Garuda Farm Bogor. Supaya puluhan warga yang ikut pelatihan ini dapat observasi langsung terhadap penerapan sistem peternakan terintegrasi, manajemen pakan, serta pengelolaan usaha peternakan berbasis keberlanjutan,” kata Hakiki, Sabtu (10/1/2025).
Ia menegaskan, program pemberdayaan merupakan bagian penting dari pelaksanaan Reforma Agraria agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Reforma Agraria tidak hanya soal legalitas lahan, tetapi juga bagaimana lahan tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif. Peningkatan kapasitas masyarakat menjadi kunci untuk mendorong kemandirian ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Hakiki menambahkan, Badan Bank Tanah terus memberikan berbagai pelatihan dan mendorong pemanfaatan lahan secara bertahap di wilayah HPL Cianjur sebagai strategi jangka menengah untuk memperkuat implementasi Reforma Agraria dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pasca pelatihan, sekarang sudah mulai ada yang menjalankan pemanfaatan lahan untuk peternakan dan pertanian terintegrasi tersebut,” ucapnya.
Sementara itu, Perwakilan Yayasan Astha Cita Masykur, Wakhid Masykur, menyebut sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola usaha peternakan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
“Kami melihat pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara bertahap dan konsisten. Melalui pelatihan dan studi banding ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai pengelolaan usaha peternakan yang lebih terstruktur, efisien, dan berorientasi jangka panjang. Sinergi dengan Badan Bank Tanah diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah Reforma Agraria,” ujarnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
