Gula menjadi zat yang rutin dikonsumsi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Zat ini memberikan rasa manis yang membuat makanan atau minuman lebih lezat sehingga digemari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Namun, tidak semua gula sama. Beberapa jenis gula memberikan dampak berbeda bagi tubuh. Ada gula yang terkandung secara alami dalam bahan makanan, ada pula gula tambahan yang dimasukkan saat proses pengolahan.
Memahami perbedaan antara gula alami dan gula tambahan dapat membantu Anda memilih makanan secara bijak, menjaga pola makan seimbang, dan mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh. Berikut penjelasan lengkapnya.
Gula alami adalah jenis gula yang terkandung dalam bahan pangan tanpa proses penambahan eksternal. Jenis ini biasanya ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran.
Gula alami terdiri dari beberapa jenis, seperti fruktosa, laktosa, glukosa, dan sukrosa. Fruktosa ditemukan dalam buah dan sayur, laktosa terdapat dalam susu sapi, sukrosa pada tumbuhan, sedangkan glukosa jamak ditemukan pada buah, sayur, serta umbi-umbian.
Tubuh mencerna gula alami dalam waktu lebih lama karena kandungan serat dan zat gizinya. Proses pencernaan yang lambat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memberikan energi yang lebih tahan lama atau tidak fluktuatif. Oleh karena itu, makanan dengan gula alami menjadi pilihan tepat untuk diet seimbang.
Sumber Gula Alami:
1. Buah-buahan (pisang, alpukat, anggur, mangga, dll).
2. Sayuran (labu, wortel, dan sayuran hijau).
3. Madu.
4. Produk susu tanpa pemanis tambahan (susu murni, keju, yoghurt plain).
5. Biji-bijian.
6. Kacang-kacangan.
Berbeda dengan gula alami, gula tambahan adalah gula yang dimasukkan saat proses pengolahan makanan untuk meningkatkan rasa dan memperbaiki tekstur. Penambahan ini secara otomatis meningkatkan kandungan kalori dalam makanan tersebut.
Gula tambahan diproses tubuh dengan cepat sehingga memicu kenaikan gula darah secara mendadak. Lonjakan energi ini biasanya tidak bertahan lama dan diikuti penurunan drastis yang membuat tubuh lemas, sehingga muncul keinginan untuk mengonsumsi makanan manis kembali.
Meski terasa lezat, konsumsi gula tambahan secara berlebihan berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, batasi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan tinggi.
Contoh Makanan dan Minuman dengan Gula Tambahan:
1. Permen dan es krim.
2. Kue dan sereal.
3. Kopi dan teh manis.
4. Minuman bersoda dan minuman olahraga.
5. Saus kemasan dan buah kalengan.
6. Sirup.
1. Obesitas: Gula tambahan meningkatkan asupan kalori secara signifikan. Selain itu, jenis gula ini meningkatkan rasa lapar tanpa memberi efek kenyang, sehingga memicu keinginan untuk terus mengudap.
2. Kerusakan Gigi: Gula tambahan menjadi pakan bagi bakteri di mulut yang menyebabkan gigi berlubang, terutama jika kebersihan mulut tidak terjaga.
3. Diabetes: Konsumsi gula berlebih memicu resistensi insulin, di mana tubuh tidak lagi mampu mengubah gula menjadi energi secara efektif, sehingga kadar gula dalam darah melonjak.
4. Penyakit Jantung: Kadar gula tinggi memicu obesitas, tekanan darah tinggi, dan peradangan kronis yang merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.
5. Kerusakan Kulit: Melansir laman Ayo Sehat Kemenkes, gula berlebih dapat merusak protein kulit melalui proses glikasi, membuat kulit kehilangan elastisitas dan mempercepat penuaan. Selain itu, gula tambahan juga memicu timbulnya jerawat akibat peradangan sistemik.
Gula alami adalah pilihan yang jauh lebih sehat. Karena berasal dari makanan utuh, gula alami menyediakan nutrisi pendamping yang memperlambat pencernaan dan menstabilkan gula darah. Dengan memahami perbedaan ini, Anda dapat lebih bijak dalam memilih asupan demi menjaga kesehatan jangka panjang. Batasi konsumsi gula tambahan agar terhindar dari berbagai risiko penyakit kronis.
