Bermunculannya beragam coffee shop di Kota Bandung menjadi pemandangan yang semakin merata. Coffee shop yang menjamur hingga ke pelosok gang menjadi saksi bisu perubahan besar ini. Generasi Z tengah memimpin revolusi gaya hidup baru, yaitu menukar segelas koktail dengan cangkir latte atau segelas matcha.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pergeseran dalam cara anak muda memandang kesehatan, kontrol diri, dan interaksi sosial. Data global maupun nasional mengonfirmasi bahwa bagi Gen Z, minuman keras bukan lagi cara bersenang-senang.
US National Institute on Drug Abuse mencatat penurunan tajam konsumsi alkohol pada remaja sejak awal tahun 2000-an. Fenomena ini menjadi indikator kuat adanya perubahan gaya hidup anak muda secara global.
Senada dengan temuan tersebut, Forbes juga melaporkan bahwa sekitar 21% Gen Z memutuskan untuk tidak mengonsumsi alkohol sama sekali, sementara 39% lainnya hanya minum sesekali. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial atau Gen X pada usia yang sama. Pilihan ini didorong oleh peningkatan kesadaran kesehatan dan keinginan untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih sehat.
Dalam survei global State of Beverages, tercatat bahwa lebih dari 60% Gen Z memilih minuman non-alkohol saat bersosialisasi. Hal ini merupakan persentase tertinggi dibandingkan generasi lain. Alasan di balik pilihan ini diperkuat oleh temuan dari Survei Kantar, yang mengungkapkan bahwa preferensi terhadap minuman tanpa alkohol dipengaruhi oleh keinginan Gen Z untuk memiliki kontrol diri yang lebih baik dan menjaga citra diri di media sosial. Bagi mereka, kehilangan kendali akibat alkohol dianggap tidak menarik dan berisiko.
Pergeseran ini bahkan terjadi di negara dengan budaya minum yang kuat seperti Jepang. Anak muda mulai meninggalkan tradisi pesta minum bersama rekan kerja. Menurut Survei Kesehatan dan Gizi Nasional dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, tingkat kebiasaan minum pria Jepang berusia 20-an dan 30-an saat ini hanya sekitar setengah dari angka dua dekade sebelumnya. Lebih drastis lagi, wanita berusia 20-an di Jepang memiliki tingkat kebiasaan minum yang sangat rendah, yakni hanya sekitar 3%.
Tren global ini juga tercermin di Indonesia. Konsumsi alkohol di Indonesia memang tergolong sangat rendah dibandingkan rata-rata dunia. Mengutip Global Status Report on Alcohol and Health dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi alkohol di Indonesia hanya berkisar kurang lebih 0,8 liter per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai kurang lebih 5,8 liter.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai tren penurunan ini. BPS mencatat konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas hanya berada di angka 0,30 liter per kapita. Konsumsi alkohol di pedesaan mengalami penurunan sebesar 0,08 liter per kapita, sementara penurunan di wilayah perkotaan hanya 0,01 liter per kapita. Data ini menunjukkan adanya perbedaan jenis alkohol yang dikonsumsi antarwilayah dan perubahan perilaku konsumsi yang tidak seragam.
Berdasarkan jenis kelamin, konsumsi alkohol oleh penduduk laki-laki berusia 15 tahun ke atas tercatat 19 kali lebih besar dibandingkan perempuan. Meskipun demikian, tren penurunan tetap terjadi pada kedua kelompok.
Kopi menjadi alternatif minuman generasi Z setelah meninggalkan alkohol. Data International Coffee Organization (ICO) dan USDA Coffee Report menunjukkan lonjakan konsumsi kopi domestik yang signifikan. Pada tahun 2010, konsumsi kopi Indonesia berada di kisaran 190 ribu ton. Angka ini meroket hingga lebih dari 370 ribu ton pada tahun 2023, dengan pertumbuhan yang stabil setiap tahunnya.
Survei dari Jakpat mempertegas hal ini. Sekitar 66% Gen Z di Indonesia mengaku minum kopi secara rutin. Budaya ngopi bukan lagi sekadar meminum kafein, melainkan menjadi kebiasaan sosial. Coffee shop sekarang menawarkan ruang untuk bekerja, berdiskusi, atau sekadar bersantai tanpa tekanan sosial untuk mengonsumsi zat memabukkan.
Selain kopi, Gen Z juga menunjukkan ketertarikan besar pada minuman lainnya seperti matcha. Laporan Restaurant Business mencatat sekitar 40% Gen Z memesan matcha dalam enam bulan terakhir. Matcha dan kopi dianggap sebagai minuman yang mendukung produktivitas, memberikan energi, namun tetap sejalan dengan nilai-nilai kesehatan yang dipegang teguh oleh generasi ini.
Berbeda dengan alkohol yang bersifat depresan, kopi dan matcha menawarkan zat yang dianggap positif bagi produktivitas dan kreativitas. Hal ini sejalan dengan karakteristik Gen Z yang dikenal ambisius dan peduli pada kesehatan mental.
Pergeseran ini membawa dampak besar bagi industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia. Pelaku bisnis tidak bisa lagi mengandalkan menu beralkohol sebagai daya tarik utama bagi segmen muda. Sebaliknya, inovasi pada menu kopi, seperti es kopi susu gula aren yang menjadi fenomena nasional serta varian teh artisan dan mocktail menjadi kunci untuk memenangkan hati konsumen Gen Z.
Gen Z telah menetapkan standar baru dalam pergaulan sosial. Keputusan untuk lebih memilih kopi dan matcha dibandingkan minuman keras bukan sekadar soal selera, melainkan manifestasi dari nilai-nilai seperti kesehatan, kesadaran penuh, dan produktivitas.
Survei Berkurangnya Konsumsi Alkohol oleh Gen Z
Gen Z Lebih Memilih Kopi dibanding Alkohol
Dampak bagi Industri F&B
Tren global ini juga tercermin di Indonesia. Konsumsi alkohol di Indonesia memang tergolong sangat rendah dibandingkan rata-rata dunia. Mengutip Global Status Report on Alcohol and Health dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi alkohol di Indonesia hanya berkisar kurang lebih 0,8 liter per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai kurang lebih 5,8 liter.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai tren penurunan ini. BPS mencatat konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas hanya berada di angka 0,30 liter per kapita. Konsumsi alkohol di pedesaan mengalami penurunan sebesar 0,08 liter per kapita, sementara penurunan di wilayah perkotaan hanya 0,01 liter per kapita. Data ini menunjukkan adanya perbedaan jenis alkohol yang dikonsumsi antarwilayah dan perubahan perilaku konsumsi yang tidak seragam.
Berdasarkan jenis kelamin, konsumsi alkohol oleh penduduk laki-laki berusia 15 tahun ke atas tercatat 19 kali lebih besar dibandingkan perempuan. Meskipun demikian, tren penurunan tetap terjadi pada kedua kelompok.
Kopi menjadi alternatif minuman generasi Z setelah meninggalkan alkohol. Data International Coffee Organization (ICO) dan USDA Coffee Report menunjukkan lonjakan konsumsi kopi domestik yang signifikan. Pada tahun 2010, konsumsi kopi Indonesia berada di kisaran 190 ribu ton. Angka ini meroket hingga lebih dari 370 ribu ton pada tahun 2023, dengan pertumbuhan yang stabil setiap tahunnya.
Survei dari Jakpat mempertegas hal ini. Sekitar 66% Gen Z di Indonesia mengaku minum kopi secara rutin. Budaya ngopi bukan lagi sekadar meminum kafein, melainkan menjadi kebiasaan sosial. Coffee shop sekarang menawarkan ruang untuk bekerja, berdiskusi, atau sekadar bersantai tanpa tekanan sosial untuk mengonsumsi zat memabukkan.
Selain kopi, Gen Z juga menunjukkan ketertarikan besar pada minuman lainnya seperti matcha. Laporan Restaurant Business mencatat sekitar 40% Gen Z memesan matcha dalam enam bulan terakhir. Matcha dan kopi dianggap sebagai minuman yang mendukung produktivitas, memberikan energi, namun tetap sejalan dengan nilai-nilai kesehatan yang dipegang teguh oleh generasi ini.
Berbeda dengan alkohol yang bersifat depresan, kopi dan matcha menawarkan zat yang dianggap positif bagi produktivitas dan kreativitas. Hal ini sejalan dengan karakteristik Gen Z yang dikenal ambisius dan peduli pada kesehatan mental.
Gen Z Lebih Memilih Kopi dibanding Alkohol
Pergeseran ini membawa dampak besar bagi industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia. Pelaku bisnis tidak bisa lagi mengandalkan menu beralkohol sebagai daya tarik utama bagi segmen muda. Sebaliknya, inovasi pada menu kopi, seperti es kopi susu gula aren yang menjadi fenomena nasional serta varian teh artisan dan mocktail menjadi kunci untuk memenangkan hati konsumen Gen Z.
Gen Z telah menetapkan standar baru dalam pergaulan sosial. Keputusan untuk lebih memilih kopi dan matcha dibandingkan minuman keras bukan sekadar soal selera, melainkan manifestasi dari nilai-nilai seperti kesehatan, kesadaran penuh, dan produktivitas.
