Batu ‘Prasasti’ Cimaung’ Diragukan, Simbol Diukir Pakai Obeng

Posted on

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung membeberkan hasil temuan terbaru soal batu yang diduga prasasti di Gang Cimaung, RW 07, Kelurahan Tamansari, Kota Bandung. Batu seberat 2,5 ton yang disebut-sebut sebagai Prasasti Cimaung itu diragukan keasliannya sebagai peninggalan zaman dulu.

Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan mengatakan, batu Cimaung sudah diteliti tim arkelogi dari sejumlah kampus. Hasilnya, tim tersebut meragukan batu di dekat Sungai Cikapundung itu adalah prasasti kuno.

“Betul. Sejauh ini kajiannya memang bukan prasasti kuno,” kata Adi Junjunan saat berbincang dengan infoJabar, Senin (19/1/2026).

Adi membeberkan, ada sejumlah temuan tim peneliti di lapangan yang membuat batu Cimaung itu diragukan sebagai prasasti. Mulai dari tanah di sekitar batu ditemukan sampah-sampah modern seperti plastik dan keramik saat dilakukan penggalian.

Kemudian, tulisan di batu itu juga diyakini berbeda dengan aksara Sunda kuno. Bahkan yang mengejutkan, muncul pengakuan seorang warga sekitar bahwa dia telah mengukir tulisan di batu tersebut menggunakan obeng dan palu sekitar tahun 1987-an.

“Jadi informasinya, orang tersebut saat itu masih berusia 13 tahun. Pengakuannya, simbol yang dia ukir karena termotivasi kepada aksara asing sewaktu kecil. Jadi klaim ini mengubah total status batu tersebut dari peninggalan sejarah menjadi ‘karya seni anak-anak’, report yang kami terima seperti itu,” bebernya.

Meski demikian, Adi menyatakan Disbudpar akan terlebih dahulu melakukan pendalaman atas laporan ini. Mulai dari mengundang tim peneliti, termasuk mengklarifikasi kepada warga sekitar yang sudah mengukir berbagai simbol di batu Cimaung tersebut.

“Kita masih akan klarifikasi, karena dulu kan spekulasinya ini diperkirakan dari abad ke-7 sampe 11. Rencannya di pekan ini kita akan ada pendalaman, klarifikasi dari hasil kajian tersebut,” pungkasnya.