Di tengah gemerlap “Parijs van Java”, berdiri sebuah bangunan megah yang menjadi pusat hiburan kaum elite: De Majestic. Bukan sekadar gedung tua, De Majestic adalah saksi bisu transformasi budaya menonton di Kota Bandung.
Mengutip atmosfer yang digambarkan dalam buku Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950 karya Sudarsono Katam, kawasan ini bukan hanya jalanan biasa, melainkan etalase peradaban modern Hindia Belanda pada masanya.
Jalan Braga, atau yang dulu dikenal sebagai Bragaweg, adalah nadi kehidupan sosialita Eropa di Bandung. Di sinilah Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek kenamaan yang juga guru dari Ir. Soekarno, berkarya. Pada tahun 1925, Schoemaker merancang bangunan bioskop yang awalnya bernama Concordia Bioscoop.
Gaya arsitektur yang diusung sangat unik, memadukan Art Deco yang geometris dengan sentuhan lokal Nusantara. Hal ini terlihat jelas pada fasad bangunan. Jika diperhatikan dengan saksama, terdapat ornamen Batara Kala, sosok raksasa dalam pewayangan yang menghiasi bagian depan gedung. Penggunaan ornamen ini bukan tanpa alasan. Dalam filosofi Jawa, Batara Kala dipercaya sebagai pengusir bala. Schoemaker mengawinkan estetika barat dengan simbolisme lokal Nusantara, menciptakan sebuah Indo-Europeeschen Architectuur Stijl yang ikonik.
Merujuk pada catatan sejarah dan referensi dari Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe, bioskop ini pada awalnya menerapkan aturan segregasi yang ketat. Concordia Bioscoop dibangun khusus untuk kalangan warga Belanda dan kaum elite Eropa lainnya. Masyarakat pribumi (Inlanders) umumnya dilarang masuk, kecuali mereka yang memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan atau kaum bangsawan (Menak).
Suasana Bragaweg antara tahun 1930 hingga 1950 digambarkan sebagai pusat gaya hidup. Para noni dan tuan Belanda akan menghabiskan sore hari dengan berbelanja di Onderling Belang atau toko Fuchs en Rens, lalu menutup malam dengan menonton film bisu atau film bicara awal di Concordia.
Tiket masuknya pun tergolong mahal, menegaskan statusnya sebagai bioskop kelas atas. Berbeda dengan bioskop-bioskop kecil atau layar tancap yang mulai muncul di pinggiran kota untuk rakyat jelata, Concordia menawarkan pengalaman menonton yang eksklusif, sejalan dengan standar sosial yang membatasi akses warga pribumi di masa itu.
Salah satu tonggak sejarah terpenting yang terjadi di gedung ini adalah pemutaran film Loetoeng Kasaroeng pada 31 Desember 1926. Film ini tercatat sebagai film bisu pertama yang diproduksi di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.
Meski disutradarai oleh orang Belanda, L. Heuveldorp, dan diproduseri oleh G. Krugers, seluruh pemainnya adalah orang pribumi, termasuk anak-anak Bupati Bandung saat itu, Wiranatakusumah V. Pemutaran perdana ini dilakukan di dua bioskop elite, yaitu Bioskop Elita dan Bioskop Oriental. Namun, Majestic kemudian menjadi salah satu tempat utama yang memutar film-film yang mengangkat kearifan lokal dalam bingkai produksi modern tersebut.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya peran Bandung dalam pengembangan kreativitas dan seni peran di tanah air. Gedung ini menjadi catatan sejarah saat cerita rakyat Sunda dihidupkan dalam layar perak untuk pertama kalinya.
Seiring berjalannya waktu dan pergolakan kemerdekaan, nama dan fungsi gedung ini pun berubah. Setelah masa kemerdekaan, Pemerintah mulai menasionalisasi atau mengganti nama-nama berbau Belanda. Concordia Bioscoop sempat berganti nama menjadi Bioskop Dewi yang memutar film-film Indonesia dan India, menyesuaikan dengan selera pasar yang lebih merakyat.
Pada tahun 2000-an, gedung ini sempat difungsikan sebagai Asia Africa Cultural Centre (AACC). Transformasi ini membawa angin segar, sebab gedung tua ini kembali hidup dengan berbagai kegiatan seni, diskusi budaya, dan pemutaran film independen. Namun, nama “Majestic” akhirnya dikembalikan untuk menghormati sejarah panjangnya sebagai “De Majestic”.
Kini, De Majestic dikelola oleh pemerintah daerah dan sering digunakan untuk acara kebudayaan, pameran, hingga pertunjukan musik. Upaya revitalisasi yang dilakukan tetap mempertahankan bentuk asli bangunan, menjaga warisan Schoemaker agar tetap bisa dinikmati oleh generasi muda.
Mengunjungi De Majestic hari ini bukan sekadar melihat tumpukan batu bata tua. Ini adalah perjalanan menyelami identitas kota. Seperti yang tersirat dalam Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe, merawat ingatan tentang sebuah kota adalah cara terbaik untuk mencintainya.
De Majestic menawarkan lokasi fotografi yang estetik sekaligus edukatif. Berdiri di depannya, kita bisa merasakan aura kemegahan masa lalu yang berpadu dengan hiruk-pikuk Bandung modern.
Pelestarian gedung ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga bangunan cagar budaya (heritage). Di tengah gempuran pembangunan hotel dan mal modern, De Majestic berdiri tegak sebagai monumen sejarah yang mengajarkan kita tentang seni arsitektur, sejarah perfilman, dan dinamika sosial masyarakat Bandung.
De Majestic bukan sekadar bangunan tua di Jalan Braga. Ia adalah prasasti hidup yang merekam jejak perfilman, karya arsitektur ikonik Wolff Schoemaker, dan dinamika sosial masyarakat Bandung dari masa kolonial hingga modern. Melestarikan De Majestic berarti menjaga nyala api sejarah, memastikan warisan arsitektur dan sosial Bandung ini tetap relevan bagi generasi mendatang.
