Pernah merasa sebuah hal tiba-tiba “muncul di mana-mana” setelah dipikirkan sebelumnya? Mobil merah yang mendadak sering terlihat, istilah asing yang berulang muncul, atau topik tertentu yang terasa mengejar ke mana pun melangkah.
Fenomena ini dikenal sebagai Red Car Theory, sebuah konsep psikologi kognitif yang menjelaskan bagaimana perhatian manusia bekerja secara selektif dalam keseharian yang penuh rangsangan.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Red Car Theory merujuk pada kecenderungan otak untuk lebih menyadari informasi tertentu setelah perhatian diarahkan ke sana. Istilah ini bukan diagnosis klinis, melainkan metafora populer dari konsep selective attention dan frequency illusion. Ketika otak memberi label “penting” pada suatu objek atau ide, informasi serupa menjadi lebih mudah dikenali.
Setiap hari manusia menerima ribuan stimulus visual dan auditori. Otak menyaringnya melalui sistem perhatian untuk mencegah kelelahan kognitif. Melansir American Psychological Association, perhatian selektif membantu fokus pada informasi relevan dan mengabaikan sisanya. Red Car Theory bekerja saat otak mengaktifkan filter ini, bukan karena dunia berubah, melainkan persepsi yang menajam.
Fenomena ini seringkali muncul ketika seseorang memfokuskan diri mereka pada suatu objek atau hal-hal tertentu. Misalnya ketika ia sedang terpikirkan mengenai sebuah becak, maka beberapa saat kemudian kemungkinan orang tersebut akan melihat lebih banyak becak lagi di jalan.
Secara positif, Red Car Theory membantu fokus, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Namun, jika tidak disadari, fenomena ini dapat memicu bias kognitif, seperti menganggap suatu hal lebih umum atau mendesak dari kenyataan. Badan riset psikologi kognitif menyebut bias ini berpengaruh pada cara menilai risiko dan realitas sosial.
Kesadaran menjadi kunci. Mengenali bahwa persepsi bersifat selektif membantu menjaga objektivitas. Membatasi konsumsi informasi berulang dan memperluas sudut pandang dapat mengurangi bias. Dalam konteks lokal Jawa Barat, literasi media menjadi penting agar perhatian publik tidak terjebak pada satu narasi sempit.
Red Car Theory mengingatkan bahwa apa yang terlihat sering kali ditentukan oleh apa yang diperhatikan. Dunia tidak selalu berubah, tetapi cara otak memaknainya yang bergeser. Dengan memahami mekanisme ini, perhatian dapat dikelola lebih sadar, kritis, dan proporsional di tengah derasnya informasi modern.
