Sebuah kampung di pelosok Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menyimpan jejak prasejarah yang sangat penting dan langka. Peninggalan prasejarah tersebut berada di sebuah batu di lereng tepi Sungai Cijolang di Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa. Masyarakat menyebutnya Situs Batu Tulis Citapen.
Lokasi situs tersebut memang tidak mudah dijangkau. Jalan setapak sempit, licin oleh lumut, dan kontur tebing yang curam menjadi pengantar sebelum sampai ke lokasi batu bergores yang telah bertahan ribuan tahun.
Tim infoJabar, mencoba mendatangi lokasi pada Kamis (22/1/2026). Namun sesampainya di wilayah Citapen, warga setempat menyarankan untuk tidak ke lokasi di saat cuaca sekarang ini karena akses jalan menuju lokasi terjal dan licin, sehingga membahayakan.
Menurut warga setempat, situs Batu Tulis Citapen sudah diketahui sejak lama. Namun karena lokasinya yang tersembunyi, situs tersebut jarang dikunjungi.
Situs tersebut juga telah diteliti oleh para peneliti baik dari Ciamis dan juga luar daerah. Diketahui, situs ini juga telah diterapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Ciamis tahun 2023.
Di Batu Tulis Citapen, terdapat goresan-goresan yang menyerupai berbagai motif bentuk makhluk hidup seperti manusia, kadal dan monyet. Ada juga yang berbentuk goresan acak yang mirip dengan urat-urat dedaunan dan menyerupai bentuk telapak tangan, atau menyerupai gajah.
Dalam jurnal berjudul Seni Cadas Petroglif Citapen: Tinggalan Prasejarah di Bagian Barat Pulau Jawa yang disusun oleh Ahmad Rizky Fauzi, Yulia Sofiani, Lutfi Yondri, Pandu Nur Madea, dari Tapakkaruhun Nusantara Indonesia dan Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Indonesia yang diterbitkan oleh BRIN tahun 2024, dijelaskan Situs Citapen ditemukan pertama kali pada tahun 1856 oleh ahli litografi Hindia-Belanda yang bernama Frans Carel Wilsen. Batu Tulis ini adalah salah satu situs seni cadas yang lebih awal ditemukan dibandingkan situs prasejarah lainnya.
Ahmad Rizky Fauzi salah satu anggota tim peneliti menjelaskan, Batu Tulis Citapen terletak pada dinding tebing yang menjulang sekitar 150 meter, dengan tingkat kemiringan mendekati 80 derajat. Sebagian bidang tebing tertutup material longsoran, sehingga hanya sebagian permukaannya yang masih dapat terlihat.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalur setapak yang cukup terjal dengan lebar kurang lebih satu meter dan permukaan yang licin akibat lumut. Akses menuju situs ini berjarak sekitar 500 meter dari ruas jalan Citapen-Giriharja, menambah tantangan tersendiri sebelum tiba di lokasi.
Fauzi mengatakan, berdasarkan karakter goresannya, seni cadas Citapen menunjukkan dua tipe kedalaman, yakni berbentuk “U” dan “V”. Goresan tumpul berbentuk “U” diduga dibuat menggunakan benda tumpul atau alat batu, sedangkan goresan tajam dan halus berbentuk “V” mengindikasikan penggunaan alat berbahan logam.
“Perbedaan teknik ini menyulitkan penentuan waktu pembuatan secara pasti, sehingga diperlukan penelitian lanjutan melalui uji laboratorium. Namun demikian, sementara ini seni cadas Citapen diperkirakan berasal dari masa Mesolitik hingga Paleometalik (ribuan tahun lalu),” ujar Fauzi saat ditemui, Kamis (22/1/2026).
Menurut Fauzi, Situs Citapen yang oleh Djubiantono (2002) dan Morwood (2001) disebut sebagai rock art, menunjukkan kemiripan dengan seni cadas Aborigin di Australia, terutama dari segi pola dan coraknya.
“Morwood bahkan mengklasifikasikan seni cadas Citapen sebagai petroglif pertama di Indonesia yang berhasil ditemukan dan dikaji secara ilmiah,” jelasnya.
Fauzi menjelaskan bahwa kajian yang dilakukan di Situs Citapen berhasil mengidentifikasi keberadaan Petroglif yang diperkirakan berasal dari masa mesolitik hingga paleometalik.
Menurutnya, karakter goresan yang ditemukan menunjukkan adanya dua teknik berbeda, yakni goresan kasar yang diduga dibuat menggunakan benda tumpul dan lunak seperti batuan, serta goresan tajam dan halus yang mengindikasikan pemakaian alat berujung runcing dan keras, kemungkinan berbahan logam.
“Keberagaman teknik tersebut menunjukkan bahwa seni cadas Citapen kemungkinan dikerjakan oleh lebih dari satu individu, baik tokoh masyarakat, kepala suku, maupun pemimpin spiritual pada masanya,” ungkapnya.
Fauzi menyebut, dari motif-motif yang tergambar, ia menyimpulkan masyarakat pendukungnya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, dengan aktivitas yang berkaitan dengan berburu dan bercocok tanam.
“Temuan ini turut memperkaya pemahaman kronologi prasejarah Indonesia pada periode Mesolitik-Paleometalik, mengingat seni cadas Citapen merupakan jenis petroglif yang tergolong langka di indonesia, di mana sebagian besar seni cadas umumnya berupa lukisan atau cap tangan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengungkap makna simbolis serta keterkaitan ekologis dan geologis dari seni cadas tersebut secara lebih mendalam,” pungkasnya.
Fauzi mengungkapkan kondisi Situs Citapen saat ini masih memprihatinkan dan berpotensi mengalami kerusakan lebih lanjut. Akses menuju lokasi yang terjal serta kerap terputus akibat longsoran tanah menyulitkan pengunjung untuk mencapai situs.
Selain faktor alam, aksi vandalisme oleh oknum pengunjung juga menjadi ancaman serius karena telah merusak sebagian permukaan seni cadas, termasuk bagian inti batu. Ia menambahkan, pelataran situs terus meninggi akibat material longsoran, sementara lingkungan sekitar belum didukung fasilitas memadai seperti akses jalan yang layak, saung, papan penanda, pembatas kawasan, maupun musala.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
