Sore di Alun-Alun Kota Bogor tak lagi hanya soal jogging, jajanan kaki lima, atau sekadar duduk melepas lelah. Di beberapa sudut taman, orang-orang kini terlihat menunduk menatap layar ponsel, bukan untuk media sosial, melainkan membaca buku.
Itulah wajah baru literasi di Kota Bogor. Sejak pertengahan Juni 2025, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor menghadirkan Baca Digital, sebuah program perpustakaan berbasis QR code yang bisa diakses siapa saja, kapan saja, langsung dari ruang-ruang publik kota.
“Tujuan utamanya sederhana: mempermudah akses masyarakat terhadap bacaan dan mendorong budaya literasi,” kata Taufik, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor, di Galeri Bumi Parawira, Kamis (8/1/2026).
Program ini kini sudah hadir di lima titik strategis, seperti Alun-Alun Kota Bogor, Taman Heulang, Taman Sempur, RSUD Kota Bogor, dan kawasan Situ Gede.
Di setiap lokasi, tersedia spot khusus berupa kursi taman dan papan kecil dengan QR code. Cukup dipindai lewat ponsel, ratusan judul buku langsung terbuka di layar.
Tak perlu kartu anggota. Tak perlu antre. Tak perlu jam operasional.
Saat ini koleksi yang tersedia sekitar 517 judul buku, mulai dari pengetahuan umum, novel, hingga buku anak. Meski belum mencapai target seribu judul, minat masyarakat sudah lebih dulu melonjak.
“Sejak diluncurkan sampai sekarang, jumlah pengakses sudah hampir 7.000 orang,” ujar Taufik.
Angka itu terus naik, terutama sejak Agustus lalu, ketika warga semakin terbiasa memanfaatkan layanan ini. Yang menarik, buku-buku tersebut tidak bisa diunduh. Pembaca hanya bisa menikmatinya langsung di ponsel, layaknya membuka rak buku digital yang tak pernah tutup.
Sistem ini sekaligus menjaga hak cipta, karena semua koleksi diperoleh secara resmi oleh pemerintah daerah.
Di balik layar, para pustakawan tetap bekerja seperti biasa. Menyeleksi, mengkurasi, dan memastikan buku-buku yang tampil layak dibaca publik.
“Semua koleksi sudah melalui proses seleksi,” kata Taufik.
Respons warga pun relatif tanpa keluhan. Melalui media sosial dan kanal pengaduan, masukan yang paling sering datang justru satu: tambah koleksi.
Pemerintah Kota Bogor pun mulai memikirkan langkah berikutnya. Dalam waktu dekat, Dinas Arsip dan Perpustakaan berencana memperluas titik Baca Digital ke lebih banyak ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan dan area komersial. Kolaborasi dengan penerbit, komunitas literasi, hingga perguruan tinggi pun mulai disiapkan.
“Kami ingin ini jadi gerakan bersama, bukan hanya program dinas,” ujar Taufik.
Namun di lapangan, program ini juga belum sepenuhnya mulus. Saat infoJabar mencoba mengakses, beberapa link seperti di Alun-Alun Kota Bogor susah untuk mengaksesnya.
Ada pula pengalaman ketika judul buku yang dipilih tidak dapat dibuka atau ternyata tidak tersedia, meski tercantum di daftar koleksi.
Gangguan teknis semacam ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi, seiring meningkatnya minat warga.
Tak perlu kartu anggota. Tak perlu antre. Tak perlu jam operasional.
Saat ini koleksi yang tersedia sekitar 517 judul buku, mulai dari pengetahuan umum, novel, hingga buku anak. Meski belum mencapai target seribu judul, minat masyarakat sudah lebih dulu melonjak.
“Sejak diluncurkan sampai sekarang, jumlah pengakses sudah hampir 7.000 orang,” ujar Taufik.
Angka itu terus naik, terutama sejak Agustus lalu, ketika warga semakin terbiasa memanfaatkan layanan ini. Yang menarik, buku-buku tersebut tidak bisa diunduh. Pembaca hanya bisa menikmatinya langsung di ponsel, layaknya membuka rak buku digital yang tak pernah tutup.
Sistem ini sekaligus menjaga hak cipta, karena semua koleksi diperoleh secara resmi oleh pemerintah daerah.
Di balik layar, para pustakawan tetap bekerja seperti biasa. Menyeleksi, mengkurasi, dan memastikan buku-buku yang tampil layak dibaca publik.
“Semua koleksi sudah melalui proses seleksi,” kata Taufik.
Respons warga pun relatif tanpa keluhan. Melalui media sosial dan kanal pengaduan, masukan yang paling sering datang justru satu: tambah koleksi.
Pemerintah Kota Bogor pun mulai memikirkan langkah berikutnya. Dalam waktu dekat, Dinas Arsip dan Perpustakaan berencana memperluas titik Baca Digital ke lebih banyak ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan dan area komersial. Kolaborasi dengan penerbit, komunitas literasi, hingga perguruan tinggi pun mulai disiapkan.
“Kami ingin ini jadi gerakan bersama, bukan hanya program dinas,” ujar Taufik.
Namun di lapangan, program ini juga belum sepenuhnya mulus. Saat infoJabar mencoba mengakses, beberapa link seperti di Alun-Alun Kota Bogor susah untuk mengaksesnya.
Ada pula pengalaman ketika judul buku yang dipilih tidak dapat dibuka atau ternyata tidak tersedia, meski tercantum di daftar koleksi.
Gangguan teknis semacam ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi, seiring meningkatnya minat warga.
