Perjuangan Aseng Garap Sawah di Cianjur Berbuah Satyalencana Wira Karya

Posted on

Bertani sudah menjadi pekerjaan sehari-hari Aseng. Namun dari ladang sawah Desa Susukan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, kegigihan Aseng dalam bertani justru jadi inspirasi bahkan dianugerahi penghargaan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Pria 56 tahun ini jadi satu dari sekian banyak petani di Jawa Barat yang mendapat penghargaan Satyalencana Wira Karya. Aseng dan kelompok taninya dinilai sukses dalam program nyata swasembada pangan.

Bagi Aseng, penghargaan ini bukan semata-mata bak durian runtuh. Banyak peluh dirasakannya setelah lebih dari dua dekade bekerja di sawah.

Aseng mulai menggarap lahan sejak 2005. Dari desa kecil itu, Aseng kemudian menjadi bagian dari kelompok tani yang mengelola 15 hektare sawah.

Bersama 35 petani lainnya, perlahan, mereka mengubah cara bertani yang lebih terukur, tepat waktu, dan memanfaatkan bantuan pemerintah secara maksimal.

Hasilnya terasa nyata. Panen terakhir mencatat lonjakan produksi yang signifikan, hampir 25 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Memang di panen tahun kemarin ada peningkatan produksi. Biasanya dari satu hektar itu menghasilkan 6 ton beras, kini menghasilkan 8 ton beras. Jadi total dari 15 hektar itu menghasilkan 120 ton, dari yang biasanya hanya 80 ton,” kata Aseng kepada infoJabar, Kamis (8/1/2026).

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Bagi Aseng, itu adalah bukti bahwa swasembada pangan bukan sekadar jargon. Ia menyaksikan sendiri bagaimana bibit unggul dan pupuk yang mudah diakses mengubah hasil panen para petani di desanya.

“Awalnya saya pakai bibit biasa. Tapi kemarin pakai bibit unggul dari bantuan pemerintah. Ternyata hasilnya luar biasa. Pupuknya juga tidak sulit. Stok pupuk melimpah, harga murah. Jadi petani bisa memberikan pupuk tepat waktu,” ujarnya.

Perubahan itu juga menggeser nasib petani. Jika dulu bertani hanya cukup untuk bertahan hidup, kini hasil sawah mulai benar-benar memberi penghidupan yang layak. Aseng tak lagi sekadar menutup modal, tetapi membawa pulang keuntungan yang nyata.

“Dulu kan bibit mahal, pupuk mahal, harga jual rendah. Kalau sekarang harga jual lumayan tinggi, pupuk dan bibit murah bahkan ada bantuan juga. Jadi hasilnya bisa dibawa pulang. Dari 500 meter persegi saja, sekali panen saya bisa dapat uang Rp 3 juta lebih,” katanya.

Baginya, keberhasilan ini bukan hanya soal dirinya. Ia melihat peluang besar jika pertanian terus didukung secara konsisten. Swasembada pangan, menurut Aseng, akan berjalan seiring dengan lahirnya kembali martabat petani.

“Kalau seperti ini terus, tentu bertani bisa sangat menjanjikan. Generasi muda yang enggan menjadi penerus juga bakal mau bertani. Produksi melimpah untuk stok pangan nasional, hasilnya juga bisa cukup untuk keperluan rumah,” ujarnya.

Keberhasilan itu juga membawa Aseng meraih penghargaan dari Presiden Prabowo. Hingga kabar mendadak sampai ke telinganya. Dia diminta menghadiri acara di Karawang.

“Kasih tau sama penyuluh, katanya disuruh ikut ke Karawang. Itu juga dikasih taunya sehari sebelum kegiatan,” kata Aseng.

Ia berangkat tanpa ekspektasi. Bagi Aseng, memenuhi undangan pemerintah saja sudah cukup membanggakan. Namun apa yang terjadi di Karawang jauh melampaui bayangannya. Di tengah acara, namanya dipanggil. Ia maju ke depan, dan di sanalah Presiden RI Prabowo Subianto menyematkan Satyalencana Wira Karya langsung di dadanya.

“Tidak menyangka, bisa bertemu langsung bahkan disematkan lencana ini oleh presiden. Bahagia dan terharu. Masih serasa mimpi saja acara kemarin itu,” ungkapnya.