Salah satu kelompok masyarakat di Kabupaten Kuningan adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Mereka menetap di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana. Meski menjadi minoritas, keberadaan komunitas Ahmadiyah di desa ini memiliki sejarah yang cukup panjang.
Sore itu, Masjid An Nur yang menjadi pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah Manislor riuh oleh aktivitas. Sejumlah orang sibuk mempersiapkan perayaan hari besar Islam, sementara di ruang utama, sayup-sayup terdengar suara jemaah yang tengah bermusyawarah.
Tak jauh dari masjid, berdiri sebuah gedung yang berfungsi sebagai ruang pertemuan, perpustakaan, dan galeri foto. Juru Bicara Ahmadiyah Manislor, Agus Mulyana, menuturkan bahwa komunitas ini telah eksis sejak 1953. Jejaknya bermula saat seorang mantri bernama Sutarjo memperkenalkan ajaran Ahmadiyah kepada Kepala Desa saat itu, Bening.
“Pak Kuwu Bening kemudian memeluk Ahmadiyah, yang lalu diikuti warga lain. Setelah itu, datanglah mubalig pertama, H. Basyari Hasan, untuk membina jemaah di Manislor,” tutur Agus, belum lama ini.
Seiring waktu, populasi mereka terus bertumbuh. Agus menyebut, saat ini terdapat sekitar 3.500 jemaah Ahmadiyah yang bermukim di Desa Manislor.
“Dulu, pada era Pak Kuwu Bening, hampir 100 persen warga adalah Ahmadiyah. Sekarang komposisinya sekitar 80 persen atau 3.500 jiwa, sedangkan 20 persen sisanya adalah muslim non-Ahmadiyah,” jelas Agus.
Sebagai minoritas, mereka kenyang akan asam garam kehidupan. Menurut Agus, masa terberat dialami jemaah Ahmadiyah Manislor pada rentang 2010 hingga 2011. Kala itu, pecah bentrokan antara jemaah dengan salah satu organisasi kemasyarakatan di Kuningan. Peristiwa kelam itu diakui Agus masih membekas di ingatan jemaah hingga kini.
“Tahun 2010 dan 2011, saat kami hendak mengadakan Jalsah (pertemuan tahunan), terjadi penyegelan masjid. Bahkan, beberapa anggota kami terluka terkena lemparan batu. Itu kejadian luar biasa yang tak terlupakan. Namun, kami selalu menyerukan agar tidak membalas dengan kebencian dan tetap mengedepankan kekeluargaan,” ungkap Agus.
Meski sempat didera trauma, Ahmadiyah Manislor perlahan bangkit. Melalui berbagai aktivitas sosial yang inklusif, mereka kini mulai bisa beribadah dengan tenang.
“Kami meredam ketegangan dengan menjalin silaturahmi. Kesan eksklusif harus dihapus lewat kontribusi aktif dalam berbagai kegiatan. Lambat laun, anggapan negatif itu luruh setelah masyarakat melihat sendiri bahwa Ahmadiyah tidak seperti yang mereka bayangkan,” kata Agus.
Kini, komunitas ini rutin menggelar kegiatan sosial seperti olahraga, donor darah, hingga donor kornea mata. Aksi donor darah dilakukan setiap tiga bulan dengan partisipasi lebih dari 60 pendonor.
“Rata-rata ada 36 pria dan 30 wanita yang rutin mendonorkan darah. Di bidang olahraga, kami juga beberapa kali menggelar turnamen di wilayah Kuningan. Upaya-upaya inilah yang mematahkan stigma eksklusif tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, untuk donor mata, jemaah Ahmadiyah Manislor melakukannya melalui proses eksisi setelah yang bersangkutan meninggal dunia.
“Donor kornea dilakukan saat anggota meninggal dunia. Ini terbuka untuk siapa saja, bukan hanya untuk warga Ahmadiyah. Dorongannya murni kemanusiaan, ingin memberi manfaat bagi sesama,” tutur Agus.
Ia berharap stigma negatif terhadap Ahmadiyah Manislor segera sirna, sehingga jemaah dapat menjalankan ibadah dan kehidupan sosial layaknya masyarakat umum.
“Rumor dari luar sering kali memicu informasi keliru yang bisa menjadi sumbu konflik di Manislor. Kami berharap masyarakat mau mencari tahu sumber aslinya dan yang paling penting adalah mengedepankan dialog sehat,” pungkas Agus.
Meski sempat didera trauma, Ahmadiyah Manislor perlahan bangkit. Melalui berbagai aktivitas sosial yang inklusif, mereka kini mulai bisa beribadah dengan tenang.
“Kami meredam ketegangan dengan menjalin silaturahmi. Kesan eksklusif harus dihapus lewat kontribusi aktif dalam berbagai kegiatan. Lambat laun, anggapan negatif itu luruh setelah masyarakat melihat sendiri bahwa Ahmadiyah tidak seperti yang mereka bayangkan,” kata Agus.
Kini, komunitas ini rutin menggelar kegiatan sosial seperti olahraga, donor darah, hingga donor kornea mata. Aksi donor darah dilakukan setiap tiga bulan dengan partisipasi lebih dari 60 pendonor.
“Rata-rata ada 36 pria dan 30 wanita yang rutin mendonorkan darah. Di bidang olahraga, kami juga beberapa kali menggelar turnamen di wilayah Kuningan. Upaya-upaya inilah yang mematahkan stigma eksklusif tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, untuk donor mata, jemaah Ahmadiyah Manislor melakukannya melalui proses eksisi setelah yang bersangkutan meninggal dunia.
“Donor kornea dilakukan saat anggota meninggal dunia. Ini terbuka untuk siapa saja, bukan hanya untuk warga Ahmadiyah. Dorongannya murni kemanusiaan, ingin memberi manfaat bagi sesama,” tutur Agus.
Ia berharap stigma negatif terhadap Ahmadiyah Manislor segera sirna, sehingga jemaah dapat menjalankan ibadah dan kehidupan sosial layaknya masyarakat umum.
“Rumor dari luar sering kali memicu informasi keliru yang bisa menjadi sumbu konflik di Manislor. Kami berharap masyarakat mau mencari tahu sumber aslinya dan yang paling penting adalah mengedepankan dialog sehat,” pungkas Agus.
