Isra Miraj adalah peristiwa agung dalam sejarah Nabi Muhammad SAW sekaligus bukti nyata kebesaran Allah SWT. Peringatan ini jatuh setiap 27 Rajab. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, periode yang dikenal sebagai Amul Huzn (Tahun Kesedihan) karena wafatnya dua pelindung utama Rasulullah, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib.
Merujuk jurnal Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya oleh Yuyun Yunita (2021), Isra Miraj merupakan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan suci ini, Jibril mendampingi Rasulullah melintasi tujuh lapis langit.
Dalam studi Fatoni Achmad & Ivonia (2018), dijelaskan bahwa Rasulullah menempuh perjalanan ini menggunakan Buraq-makhluk berwarna putih yang ukurannya di antara keledai dan baghal.
Titik awal perjalanan adalah Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Di sana, Jibril meminta Nabi Muhammad SAW mengimami salat dua rakaat sebelum bertolak menuju langit dunia. Di setiap pintu langit, terjadi dialog antara Jibril dan malaikat penjaga untuk memastikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan yang telah diizinkan naik.
Di langit pertama, Nabi bertemu Nabi Adam AS. Di langit kedua, beliau disambut Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Perjalanan berlanjut ke langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS, langit keempat Nabi Idris AS, dan langit kelima Nabi Harun AS.
Saat tiba di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa AS yang menangis haru karena melihat jumlah umat Nabi Muhammad yang masuk surga melampaui umatnya. Terakhir, di langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar di Baitul Makmur.
Nabi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Berdasarkan jurnal Kisah Isra dan Mi’raj oleh Team Tarbiyah Wa Da’wah DPP Rabithah Alawiyah (2024), tempat ini digambarkan memiliki pohon raksasa dengan daun selebar telinga gajah dan buah sebesar tempayan. Di sana terdapat empat sungai: dua sungai batin di surga, serta dua sungai lahir yakni Sungai Nil dan Sungai Eufrat.
Sidratul Muntaha merupakan batas akhir segala urusan bumi dan tempat berhentinya arwah para syuhada. Bahkan, malaikat pun tidak mengetahui apa yang ada setelahnya. Dari titik ini, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan sendirian menuju Mustawa untuk menghadap Allah SWT.
Di Mustawa, Allah SWT memerintahkan salat 50 waktu sehari bagi umat Islam. Saat turun, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa AS yang menyarankan untuk meminta keringanan mengingat keterbatasan fisik umat manusia. Setelah Nabi Muhammad bolak-balik menghadap Allah atas saran Nabi Musa, jumlah tersebut akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam. Allah berfirman dalam Hadis Riwayat Muslim nomor 62: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah lima salat sehari semalam, setiap salat pahalanya sepuluh, maka semuanya (setara) lima puluh salat.”
Peristiwa luar biasa ini mengandung hikmah mendalam bagi kehidupan sehari-hari, di antaranya:
1. Menegaskan kewajiban salat fardu lima waktu sebagai tiang agama.
2. Mempertebal iman terhadap kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
3. Membuktikan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah dan utusan terakhir.
4. Memberikan pesan optimisme bahwa di balik setiap kesulitan dan kesedihan (Amul Huzn), Allah selalu menyiapkan kemuliaan.
5. Menjadi pengingat akan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Isra Miraj adalah momentum refleksi bagi umat Muslim untuk memperbaiki kualitas ibadah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun pencapaian duniawi seseorang, komunikasi dengan Sang Pencipta melalui salat tetap menjadi sumber kekuatan dan ketenangan spiritual yang utama.
Kronologi Perjalanan Suci Rasulullah SAW
Puncak Perjalanan: Sidratul Muntaha dan Mustawa
Hikmah Isra Miraj bagi Umat Muslim
Nabi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Berdasarkan jurnal Kisah Isra dan Mi’raj oleh Team Tarbiyah Wa Da’wah DPP Rabithah Alawiyah (2024), tempat ini digambarkan memiliki pohon raksasa dengan daun selebar telinga gajah dan buah sebesar tempayan. Di sana terdapat empat sungai: dua sungai batin di surga, serta dua sungai lahir yakni Sungai Nil dan Sungai Eufrat.
Sidratul Muntaha merupakan batas akhir segala urusan bumi dan tempat berhentinya arwah para syuhada. Bahkan, malaikat pun tidak mengetahui apa yang ada setelahnya. Dari titik ini, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan sendirian menuju Mustawa untuk menghadap Allah SWT.
Di Mustawa, Allah SWT memerintahkan salat 50 waktu sehari bagi umat Islam. Saat turun, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa AS yang menyarankan untuk meminta keringanan mengingat keterbatasan fisik umat manusia. Setelah Nabi Muhammad bolak-balik menghadap Allah atas saran Nabi Musa, jumlah tersebut akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam. Allah berfirman dalam Hadis Riwayat Muslim nomor 62: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah lima salat sehari semalam, setiap salat pahalanya sepuluh, maka semuanya (setara) lima puluh salat.”
Peristiwa luar biasa ini mengandung hikmah mendalam bagi kehidupan sehari-hari, di antaranya:
1. Menegaskan kewajiban salat fardu lima waktu sebagai tiang agama.
2. Mempertebal iman terhadap kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
3. Membuktikan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah dan utusan terakhir.
4. Memberikan pesan optimisme bahwa di balik setiap kesulitan dan kesedihan (Amul Huzn), Allah selalu menyiapkan kemuliaan.
5. Menjadi pengingat akan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Isra Miraj adalah momentum refleksi bagi umat Muslim untuk memperbaiki kualitas ibadah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun pencapaian duniawi seseorang, komunikasi dengan Sang Pencipta melalui salat tetap menjadi sumber kekuatan dan ketenangan spiritual yang utama.
