Telapak tangan yang basah sering kali dirasa mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari menulis, memegang ponsel, sampai pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan alat elektronik. Kondisi ini juga terkadang membuat kita malu saat berjabatan tangan dengan orang lain.
Rasa tidak nyaman ini kerap muncul tanpa sebab yang jelas, bahkan saat tubuh tidak sedang kepanasan. Menurut Kementerian Kesehatan RI, produksi keringat tidak selalu berkaitan dengan panas, tetapi juga respons saraf terhadap kondisi psikologis dan hormonal.
Menariknya, telapak tangan memiliki jenis kelenjar keringat yang berbeda dibandingkan bagian tubuh lain. Kelenjar ini, yang disebut kelenjar ekrin, dimana kelenjar ini sangat sensitif terhadap rangsangan emosional seperti stres, cemas, atau gugup. Inilah sebabnya telapak tangan bisa berkeringat meskipun suhu udara normal.
Secara umum, telapak tangan yang berkeringat bukanlah penyakit berbahaya dan menular. Namun, jika berlangsung lama dan berlebihan, kondisi ini dapat berdampak pada psikologis, dimana penderitanya akan mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan aktivitas sosial dan pekerjaan, sampai risiko iritasi kulit dan infeksi jamur.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dampak psikososial hiperhidrosis sering kali lebih berat dibandingkan dampak fisiknya, terutama pada usia produktif.
1. Hiperhidrosis Palmar
Hiperhidrosis palmar merupakan kondisi medis dimana terdapat aktivitas berlebih pada saraf simpatik yang membuat keringat berlebih pada telapak tangan tanpa pemicu suhu atau aktivitas fisik. Kondisi ini dapat muncul sejak remaja.
2. Stress dan Kecemasan Berlebih
Tekanan psikologis dapat memicu pelepasan hormon adrenalin yang secara langsung merangsang kelenjar keringat di telapak tangan. Situasi seperti ujian, tekanan kerja, atau berbicara di depan umum sering menjadi pemicu utama.
3. Faktor Genetik
Beberapa studi menunjukkan bahwa hiperhidrosis dapat diturunkan dalam keluarga. Jika orang tua mengalami kondisi serupa, risiko pada anak menjadi lebih tinggi. Riset juga menyebutkan sekitar 30-50 persen penderita hiperhidrosis memiliki riwayat keluarga dengan keluhan yang sama.
4. Gangguan Hormon dan Penyakit Tertentu
Ketidakseimbangan hormon tiroid dapat meningkatkan metabolisme dan produksi keringat. Selain itu, telapak tangan yang sering berkeringat bisa menjadi gejala penyakit lain, seperti gangguan tiroid (hipertiroidisme), diabetes, infeksi kronis, hingga gangguan kecemasan menyeluruh.
Kombinasi faktor gaya hidup dan kondisi psikologis sering membuat keluhan semakin sulit dikendalikan jika tidak ditangani secara menyeluruh. Selain penyebab utama, terdapat beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi ini, antara lain:
Konsumsi kafein dan makanan pedas
Kurang tidur
Paparan suhu lembab
Kebiasaan merokok
Tekanan emosional berkepanjangan
1. Perbaiki Gaya Hidup
Cara pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan memperbaiki gaya hidup. Mulai dari pengelolaan stress yang baik, perbanyak relaksasi atau olahraga ringan, mengurangi konsumsi kafein, serta menjaga kebersihan dan kekeringan tangan.
2. Gunakan Anti Perspirant
Produk antiperspirant dengan kandungan aluminium klorida terbukti efektif menekan produksi keringat. Penggunaan rutin dapat mengurangi keringat hingga 60 persen.
Konsultasi ke dokter perlu dipertimbangkan ketika telapak tangan berkeringat terjadi secara terus-menerus tanpa pemicu yang jelas dan mulai mengganggu aktivitas serta kualitas hidup sehari-hari.
Terlebih apabila keluhan tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama, yakni lebih dari tiga hingga empat bulan, pemeriksaan medis sangat dianjurkan guna memastikan tidak adanya penyakit atau gangguan kesehatan lain yang mendasari munculnya keringat berlebih pada telapak tangan.
