Melek Kemajuan Zaman ala ‘Hantu’ di Lembang

Posted on

Sejak pagi, ‘hantu-hantu’ tradisional Indonesia seperti pocong hingga kuntilanak sudah gentayangan di sepanjang Jalan Raya Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Mereka bukan hantu sesungguhnya, melainkan para cosplayer yang mencari nafkah dari para pelancong dan pengendara di kawasan wisata. Fenomena ini lumrah terjadi di beberapa kota besar dalam beberapa tahun belakangan.

Di kawasan Lembang, para ‘hantu’ biasanya menanti di sepanjang Jalan Panorama. Akses menuju objek wisata Floating Market itu kerap macet di akhir pekan. Mereka akan berjejer dari Jalan Panorama sampai ke Simpang Grand Hotel.

Aksi ini hanya efektif di jalan yang macet. Saat kendaraan berhenti, para cosplayer akan mendekati mobil untuk mengintip dari kaca, menakut-nakuti anak kecil dan penumpang di dalamnya. Jika mobil maju perlahan, para hantu akan berjalan pelan hingga orang di dalamnya memberikan uang.

Namun belakangan, ada pemandangan agak lain. Para hantu itu berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Mereka membawa kertas berwarna putih bergambar kode QR atau QRIS alias kode batang. Ya, hantu-hantu itu tak cuma menerima uang tunai, tapi memfasilitasi ‘sumbangan’ secara digital.

Salah satunya Iing Nasihin, pria asli Lembang yang merupakan salah satu cosplayer hantu dengan kostum ‘kuntilanak’. Ia berdiri di tepi Jalan Grand Hotel, menunjukkan kode QR miliknya.

“Agar memudahkan wisatawan, kalau tidak punya uang receh bisa pakai ini,” kata Iing saat berbincang dengan infoJabar.

Belum lama, pemuda 28 tahun itu menggunakan kode QR saat beraksi sebagai hantu. Langkah itu tak cuma dilakukan Iing, melainkan oleh puluhan cosplayer hantu lain yang mencari nafkah di kawasan wisata Lembang.

“Di sini ada 23 hantu, sudah banyak yang pakai seperti ini (kode QR), tetapi tidak semua. Hanya yang mau, sebab ini bukan paksaan,” kata Iing.

Iing sendiri sudah hampir 4 tahun menjadi cosplayer hantu. Ia bahagia tatkala musim liburan tiba. Peluang meraup penghasilan terbuka lebar. Seperti pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) beberapa waktu belakangan.

“Kalau libur panjang seperti ini tidak terlalu ramai, kemarin ramai saat Nataru dan Lebaran. Lumayan, sekarang bisa dapat Rp200.000 sehari,” ungkap Iing.

Namun periode pendapatan tertinggi cosplayer hantu di Lembang terjadi sekitar empat tahun lalu. Momen setelah pandemi COVID-19, ketika masyarakat berbondong-bondong liburan ke Lembang setelah dua tahun dilarang berwisata.

“Ramai setelah COVID-19, kalau tidak salah, sehari bisa dapat Rp500.000. Kalau sekarang menurun, hari-hari biasa sulit dapat Rp100.000, sepi,” tutur Iing.

Sebelum terjun sebagai cosplayer hantu secara penuh, ia bekerja serabutan. Segala pekerjaan ia lakoni demi memastikan dapur tetap ngebul. Ia tak merasa keberadaan cosplayer hantu lainnya sebagai pesaing, justru sebagai rekan seperjuangan.

“Semua pekerjaan dikerjakan. Kami bersama-sama mencari nafkah di sini. Jika ada yang sepi, kami bantu agar dia dapat uang. Kami biasanya keluar dari jam 12 siang sampai 6 sore, kami hanya berusaha menghibur, bukan mengganggu,” kata Iing.