Majalengka Lagi Dingin, Warga: Malam Selimutan, Pagi Mandi Air Hangat

Posted on

Suhu malam di Kabupaten Majalengka belakangan ini terasa berbeda. Udara yang biasanya masih menyisakan hangat, kini terasa lebih dingin hingga ‘menusuk tulang’.

Perubahan suhu ini dirasakan warga dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya Dessy Hendriyanti warga Kecamatan Panyingkiran. Baginya, udara dingin terasa saat malam tiba. Kebiasaan yang selama ini dijalani pun mau tak mau berubah.

“Iya, betul. Sudah dua hari terakhir ini dinginnya kerasa, apalagi malam. Biasanya saya tidur masih pakai kipas angin, sekarang malah pakai selimut,” kata Dessy kepada infoJabar, Kamis (15/1/2026).

Tak hanya saat beristirahat malam, hawa dingin juga masih terasa hingga pagi hari. Dessy mengaku, udara dingin membuat aktivitas pagi terasa sedikit lebih berat, terutama saat harus bersiap berangkat kerja.

“Bahkan pagi-pagi air buat mandi juga terasa lebih dingin dari biasanya. Sekarang mah malah masak air dulu sebelum mandi, biar bisa mandi pakai air hangat,” ujarnya.

Perubahan suhu itu juga memengaruhi pilihan pakaian. Jika sebelumnya jaket jarang dipakai, kini perlengkapan tersebut kembali jadi andalan.

“Kalau berangkat kerja sekarang pasti pakai jaket. Soalnya kalau nggak, dinginnya kerasa banget,” tuturnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan warga lainnya. Ilham Disy Abraramrullah, warga Sindangkasih, Kecamatan Majalengka. Ia mengaku, udara dingin bahkan membuatnya mengubah rutinitas sebelum berangkat kuliah.

“Kemarin saya ke kampus sampai nggak mandi karena dingin. Kalau masak air dulu kan lama, sementara saya harus buru-buru masuk kelas,” ujar Ilham.

“Jadi ke kampus cuma cuci muka sama pake minyak wangi aja. Terus mandinya siang setelah pulang dari kampus. Soalnya rumah sama kampus juga dekat,” sambungnya.

Untuk mengantisipasi dinginnya udara di pagi hari, Ilham kini mulai menyiapkan air hangat sejak malam sebelumnya. Air tersebut disimpan di termos agar bisa langsung digunakan keesokan paginya.

“Sekarang biasanya nyiapin dulu air hangat di termos malam harinya, jadi paginya bisa langsung dipakai mandi,” ucapnya.

Prakirawan BMKG Kertajati Dyan Anggrainy menjelaskan, fenomena udara dingin ini merupakan hal yang wajar terjadi pada musim hujan. Salah satu pemicunya adalah tebalnya tutupan awan.

“Pemicunya karena banyaknya tutupan awan pada siang hari, sehingga pemanasan dari matahari tidak maksimal,” ujar Dyan.

Dyan mengatakan, kondisi udara dingin ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Bahkan, potensi tersebut dapat terjadi hingga akhir Januari.

“Kondisi ini diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga akhir Januari. Ini merupakan hal normal pada musim hujan,” ucapnya.

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Jatiwangi, dalam tiga hari terakhir suhu maksimum tercatat mencapai 31,9 derajat Celsius. “Suhu minimumnya berada di angka 22,4 derajat Celsius,” ungkapnya.

Selain membuat suhu terasa dingin, tebalnya tutupan awan juga berpotensi memicu munculnya kabut. Hal ini disebabkan proses penguapan yang tidak berlangsung maksimal.

“Jika suhu relatif rendah ditambah banyaknya tutupan awan, penguapan menjadi tidak maksimal. Akibatnya uap air berkumpul di dekat permukaan dan membentuk kabut,” jelas Dyan.

Menurutnya, kabut di wilayah Majalengka umumnya terjadi sejak malam hingga pagi hari. “Kabut ini biasanya muncul pada malam sampai pagi,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan prakiraan BMKG Kertajati, hujan diperkirakan kembali mengguyur wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan (Ciayumajakuning), serta Sumedang pada Jumat (16/1) hingga Sabtu (17/1). Intensitas hujan diprediksi rendah hingga sedang dan berpotensi turun sejak siang hingga malam hari.

Adapun suhu udara di wilayah tersebut diperkirakan berada pada kisaran 18 hingga 30 derajat Celsius. Kabupaten Majalengka dan Sumedang tercatat sebagai daerah dengan suhu minimum terendah, yakni mencapai 18 derajat Celsius.