Maestro Dongeng Sunda Mang Jaya, Tetap Berkarya di Usia Senja

Posted on

Di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, bermukim seorang maestro dongeng Sunda yang telah berkiprah selama puluhan tahun. Sosok itu adalah Kuswadijaya Jamsari, atau yang lebih akrab disapa Mang Jaya.

Meski telah menginjak usia 81 tahun, semangat Mang Jaya dalam mendongeng tak pernah padam. Siang itu, di saung rumahnya yang asri berlatar panorama hutan dan persawahan, ia tampak sibuk memproduksi konten untuk kanal YouTube-nya didampingi sang putri.

Baginya, dongeng bukan sekadar cerita, melainkan napas dalam perjalanan hidupnya. Mang Jaya mulai mengenal dunia tutur ini sejak belia, jauh sebelum ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran.

Namun, gejolak politik dan maraknya demonstrasi pada 1965 memaksa Jaya meninggalkan bangku kuliah. Mengisi kekosongan aktivitas di tengah menjamurnya radio swasta, Jaya yang kala itu berusia 23 tahun akhirnya memutuskan terjun ke dunia penyiaran.

“Saya lahir 1945. Dulu sekolah rakyat, lalu kuliah di fakultas ekonomi. Hanya saja saat itu drop out karena banyak demo. Kondisi politik tidak stabil dan ekonomi saya sedang sulit. Di masa transisi Orde Lama ke Orde Baru itulah saya mulai menekuni dunia radio karena saat itu radio berkembang jadi hiburan,” tutur Jaya, Senin (12/1/2025).

Mengawali karier sebagai penyiar, Jaya mulai mempelajari teknik mendongeng Sunda secara otodidak. Pilihannya jatuh pada dunia dongeng karena saat itu peminatnya di radio sangat melimpah.

“Alhamdulillah, beberapa radio mengundang saya siaran sampai akhirnya saya dipercaya menjadi salah satu penanggung jawab di Radio Cicadas Bandung. Dari penyiar, saya beralih menjadi pendongeng dan mulai menggunakan nama panggung Mang Jaya. Saya merasa senang karena saat diputar di radio, pendengarnya sangat banyak,” kata Jaya.

Kala itu, Jaya bersanding dengan para pendongeng legendaris seperti Abah Kabayan, Rachmat Dipradja, Uwa Kepoh, dan Mang Bana. Masa tersebut merupakan era keemasan saat dongeng Sunda digandrungi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua di pelosok desa maupun perkotaan.

“Mulai 1974, dongeng saya didistribusikan ke berbagai daerah menggunakan kaset. Banyak radio yang meminta, mulai dari Kadipaten, Garut, Karawang, hingga Cianjur. Jadi, kaset-kaset ini diputar bergantian dari satu radio ke radio lain,” jelasnya.

Didorong keinginan melestarikan budaya, Mang Jaya pulang ke kampung halamannya di Kuningan pada 1976. Ia mendirikan Radio Siaran Linggarjati Utama (Rasilima). Melalui program ikonik “Dongeng Enteng Mang Jaya”, ia melahirkan berbagai lakon populer seperti Si Kabayan, Sirod Jalma Gaib, Lutung Kasarung, hingga Sangkuriang.

“Radio itu berdiri sejak 1976. Sejak saat itu saya menetap di sini. Sampai akhirnya dongeng saya dikontrak iklan oleh salah satu produsen puyer, sehingga pendanaan mulai terjamin. Dalam sehari saya bisa memproduksi dua episode dengan durasi masing-masing 40 menit. Banyak karya penulis yang saya bawakan, seperti Pak Sukarna, Tatang KS, hingga Ki Leuksa,” kenang Jaya.

Perjalanan Mang Jaya tak luput dari kerikil tajam. Salah satu pengalaman pahit yang paling diingatnya adalah maraknya pembajakan karya di media sosial.

“Segala sesuatu ada suka dan dukanya. Sukanya, saya dikenal luas karena terjun di bidang media massa. Namun dukanya, karya saya banyak dibajak. Tiba-tiba ada di YouTube, padahal saat itu saya tidak punya akun. Itu sangat merugikan,” keluhnya.

Merespons pembajakan tersebut, Mang Jaya akhirnya merambah dunia digital dengan meluncurkan kanal YouTube @MangJayaOfficial. Hingga kini, ia telah mengunggah 2.800 video yang telah ditonton sebanyak 74 juta kali dengan jumlah pelanggan mencapai 130 ribu. Guna memproteksi karyanya, ia juga mendaftarkan hak ciptanya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI.

Dedikasi tanpa batas ini membuahkan berbagai penghargaan, di antaranya Lifetime Achievement dari KPID Jawa Barat (2017), Penghargaan dari Komunitas Wargi Kuningan (2018), dan Kuningan Award sebagai Penggiat Literasi Lisan (2022).

Di tengah gempuran modernisasi, Mang Jaya tetap optimistis dongeng Sunda akan terus bertahan. “Melihat antusiasme di YouTube, peminatnya masih banyak. Pesan saya untuk generasi penerus, teruslah berkarya, jangan takut salah. Belajar terus, yang penting ceritanya menarik,” pungkasnya.

Mendirikan Radio di Kuningan