Pesisir Karawang tak lagi menawarkan ketenangan. Di Kecamatan Cibuaya, abrasi bukan sekadar ancaman di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang menghantui warga setiap harinya. Saat musim penghujan tiba, banjir rob datang mengepung, mengubah akses vital menjadi jalur mati yang tak bisa dilalui.
Di Dusun Karangsari, Desa Sedari, deburan ombak besar terus mengamuk, menghantam jalan utama penghubung antar-kecamatan hingga terkoyak. Kepala Desa Sedari, Bisri Mustopa, telah berulang kali menyuarakan kegelisahan warganya. Ia bahkan memboyong Camat hingga anggota DPRD ke lokasi untuk melihat langsung bagaimana daratan perlahan sirna ditelan laut.
“Hasil pantauan di lapangan kian memprihatinkan. Di Dusun Tanjungsari, jalan utama penghubung antar-kecamatan sudah terputus total diterjang air laut sejak akhir 2025. Sementara di Dusun Karangsari, badan jalan rusak berat dan berlumpur sehingga menghambat aktivitas masyarakat,” kata Bisri saat diwawancarai infoJabar, Senin (5/1/2026).
Bagi Bisri, ini bukan sekadar soal infrastruktur yang hancur, melainkan pertaruhan nyawa. Ia menceritakan drama evakuasi warga sakit yang harus berpacu dengan pasang surut air laut karena jalan utama yang sudah hilang tergerus abrasi.
“Kemarin kami mendapat laporan ada seorang nenek yang sakit di Dusun Tanjungsari. Kami kesulitan mengevakuasi karena akses terputus. Beruntung, proses evakuasi berhasil dilakukan setelah perhitungan matang terhadap kondisi air laut,” tuturnya.
Kondisi ini, tegas Bisri, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Keselamatan warga kian terancam setiap kali ombak besar datang. Namun, meski jalur birokrasi telah ditempuh hingga ke tingkat kabupaten, bantuan yang datang barulah sebatas langkah darurat.
“Komunikasi sudah dilakukan dengan Pak Camat dan Ibu Dewan. Ternyata solusinya memang baru sebatas pemasangan karung pasir dan penahan ombak sementara,” ucap Bisri.
Camat Cibuaya, Ahmad Mustopa, mengakui peliknya situasi di lapangan. Pihaknya kini tengah mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Karawang untuk segera mengambil tindakan nyata.
“Kami mengusulkan pemasangan Apostrap (penahan ombak dari ban bekas) sebagai solusi mendesak. Di lokasi yang sudah terpasang alat ini, abrasi relatif bisa dikendalikan,” kata Mustopa.
Namun, Mustopa menyadari belum semua titik terdampak tertangani. “Beberapa titik bahkan masih menggunakan karung pasir. Kami terus mendesak PUPR untuk menangani kondisi ini,” ungkapnya.
Mustopa menjelaskan karakteristik pesisir Cibuaya, mulai dari Sedari hingga Cemarajaya, berbeda dengan wilayah lain. “Pesisir di sini berupa pasir hitam halus, sehingga sangat mudah bagi ombak untuk mengikis daratan,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah segera memberikan solusi jangka panjang yang permanen di tengah keterbatasan anggaran daerah. “Kami sangat berharap pemerintah pusat juga segera memberikan solusi permanen terkait kondisi ini,” pungkasnya.
