Kasus dugaan perundungan di Kota Bandung masih jadi persoalan. Sebab belakangan, seorang siswa SMP penyandang disabilitas keterlambatan bicara (speech delay) dilaporkan mengalami kejadian ini hingga membuatnya harus putus sekolah.
Setelah insiden ini jadi sorotan, pihak sekolah tempat siswa itu belajar turut memberikan tanggapan. Mereka memastikan berkomitmen melindungi sang anak dari dugaan perundungan yang dia terima.
Mulanya, kepala sekolah siswa itu belajar, Aisyah Amiawaty, membenarkan bahwa siswa yang diduga menjadi korban perundungan itu adalah peserta didiknya. Dia diterima lewat jalur zonasi saat masuk ke salah satu SMP negeri di Kota Bandung.
“Anak ini Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Karena masuk melalui jalur zonasi, kami tidak bisa menolak. Kami tidak tahu (kondisinya) karena tidak ada tes saat masuk. Setelah diterima, baru kami ketahui bahwa anak ini PDBK,” ujar Aisyah, Rabu (21/1/2026).
Kondisi ini kemudian jadi dilema. Meski kemudian, pihak tak serta merta tutup mata. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung pun dilakukan mengingat kondisi si anak mengalami keterlambatan dalam aspek kognitif, seperti kesulitan membaca dan mencerna pelajaran.
Hasilnya, sejumlah opsi pun kemudian ditawarkan. Salah satunya, pihak sekolah juga mengarahkan orang tua siswa agar memindahkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) demi mendapatkan penanganan yang lebih tepat sesuai kebutuhannya.
“Kami arahkan ke sekolah yang khusus menangani PDBK, bahkan sempat diantar oleh guru kami ke sana. Namun, pihak keluarga belum bersedia. Padahal kami terus berusaha agar anak ini tetap sekolah. Kasihan, anak yang sekolah saja banyak tantangannya, apalagi jika sampai tidak sekolah,” bebernya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Namun sepertinya, opsi itu tak menemukan titik terang. Sampai akhirnya, kabar soal sang anak jadi perbincangan hangat setelah kondisinya diunggah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Meski demikian, Aisyah menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan siswa dari sekolahnya. Hingga saat ini, sekolah masih berupaya membujuk siswa tersebut agar kembali belajar atau bersedia pindah ke SLB.
“Kami tidak mengeluarkan siswa tersebut, statusnya masih anak didik kami. Kami masih berusaha agar dia mau belajar lagi. Kalaupun memang tidak mau di sini, kami arahkan ke sekolah yang khusus,” pungkasnya.
