Kisah Lengkap Isra Miraj, Perjalanan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha | Giok4D

Posted on

Isra Miraj adalah dua peristiwa agung yang penting untuk diamini umat Muslim. Peristiwa tersebut terjadi dalam satu malam, dan diriwayatkan dalam berbagai hadis.

Di malam tersebut, Nabi Muhammad S.A.W melakukan Isra, yakni perjalanan fisik dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), dilanjut dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah SWT (Mi’raj).

Peristiwa ini salah satunya dipaparkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Hammad ibn Salamah dari Tsabit, dari Anas r.a. Hadis tersebut dinilai sebagai hadis yang paling kuat tentang Isra Mi’raj dan bebas dari perselisihan.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Imam Al Qusyairi melalui bukunya Kisah dan Hikmah Mikraj Rasulullah mengatakan bahwa riwayat hadis ini dianggap sahih dan merupakan salah satu narasi paling rinci tentang Isra Mi’raj yang digunakan oleh para ulama. Imam Muslim (juga Imam Ahmad dalam Musnadnya) meriwayatkannya melalui jalur ini.

Sahabat-sahabat yang lain juga meriwayatkan hadis tentang Isra Mi’raj, namun hadis yang diriwayatkan Anas r.a dinilai lebih terperinci dan jelas. Berikut adalah petikan lengkap hadis tersebut beserta rangkumannya.

Dalam hadis tersebut, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit, yakni Nabi Adam, Isa dan Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Dalam perjalanan itu, beliau menunggangi Buraq dan didampingi oleh malaikat Jibril.

Nabi Muhammad SAW kemudian memasuki Baitul Makmur, tempat di mana 70.000 malaikat beribadah setiap harinya, serta Sidratul Muntaha, yakni pohon bidara batas tertinggi di atas langit ketujuh. Di Sidratul Muntaha-lah, Beliau bertemu Allah SWT dan menerima perintah salat secara langsung.

Mulanya, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat wajib 50 kali sehari. Namun, beliau kemudian berkali-kali meminta keringanan kepada Allah SWT atas saran Nabi Musa AS hingga menyisakan perintah shalat wajib lima waktu setiap harinya.

Berikut adalah petikan lengkap riwayat tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW ketika diangkat hingga langit ketujuh, sebagaimana dilansir dari buku Isra Miraj karya Jalaludin as-Suyuthi.

Imam Muslim meriwayatkan:

Syaiban ibn Farukh telah menyampaikan kepada kami dari Hammad ibn Salaman, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik r.a bahwa Rasulullah S.A.W bercerita :

Dibawakan kepadaku Buraq, yakni sejenis hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal, yang langkah kakinya sejauh matanya memandang. Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan oleh para nabi.

Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat di sana. Setelah aku keluar, malaikat Jibril a.s membawakan ke hadapanku segelas arak dan segelas susu. Aku lantas memilih susu. Jibril pun berkata : “Engkau telah memilih fitrah”.

Selanjutnya kami dinaikan ke langit terdekat (pertama). Jibril lalu memintanya agar pintunya dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”

Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Adam AS Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit kedua. Jibril juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami, dan aku bertemu dengan dua orang sepupuku, Isa ibn Maryam a.s dan Yahya ibn Zakariya a.s. Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit ketiga. Jibril juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Yusuf AS yang ternyata ketampanannya luar biasa. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keempat. Jibril AS pun meminta agar pintu langit dibukakan. Dia (oleh penjaga pintunya) ditanya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Idris a.s. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Memang benar firman Allah : “Dan kami telah mengangkatnya (Idris a.s) ke martabat yang tinggi”.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit kelima. Jibril a.s juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Harun AS Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keenam. Jibril meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Kemudian, pintunya dibukakan untuk kami. Di sana, aku bertemu dengan Musa AS Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit ketujuh. Jibril a.s juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Ibrahim a.s yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur.

Setiap harinya, Baitul Ma’mur dikunjungi oleh 70 ribu malaikat yang tidak pernah mengunjunginya lagi sesudahnya. Kemudian Jibril membawaku ke (pohon) Sidratul Muntaha yang daun-daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahannya sebesar kendi.

Tatkala Allah menitahkan perintah-Nya, (pohon) Sidratul Muntaha langsung berubah sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggambarkannya karena sangat indah. Allah pun memberiku wahyu dan mewajibkan shalat lima puluh kali kepadaku dalam sehari semalam.

Kemudian aku turun lagi dan bertemu dengan Musa AS.
Dia bertanya, “Apakah yang diwajibkan Tuhamu kepada umatmu?”
Aku menjawab, “Lima puluh kali shalat sehari semalam”
Dia berkata, “Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil”.
Maka aku kembali menghadap Tuhanku dan memohon,” Wahai Tuhanku! Berikanlah keringanan kepada umatku.”

Allah SWT lantas mengurangi lima (shalat) dariku. Kemudian aku kembali menemui Musa dan kukatakan, “Allah telah mengurangi lima (shalat) dariku”. Namun Musa berkata, “Umatmu tidak akan mampu melakukan itu. Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi”.

Aku terus mondar-mandir antara Tuhanku dan Musa AS hingga akhirnya Allah berfirman :

“Hai Muhammad! Shalat yang Ku wajibkan adalah lima kali dalam sehari semalam. Pahala tiap-tiap shalat itu digandakan sepuluh kali lipat. Oleh karena itu, mendirikan shalat lima kali sama saja dengan mendirikan shalat lima puluh kali. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan namun dia tidak jadi melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu keburukan namun dia tidak jadi melaksanakannya, maka keburukan tersebut tidak dicatat sama sekali. Akan tetapi, jika dia melaksanakannya, maka hanya dicatat satu keburukan saja,”.

Aku turun lagi menemui Musa AS dan memberinya penjelasan. Dia masih berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi”.

Aku pun menukas, “Aku telah berulang kali menemui Tuhanku, aku merasa malu terhadap-Nya”. (HR. Muslim).

Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Petikan Hadis Lengkap Tentang Isra Miraj

Berikut adalah petikan lengkap riwayat tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW ketika diangkat hingga langit ketujuh, sebagaimana dilansir dari buku Isra Miraj karya Jalaludin as-Suyuthi.

Imam Muslim meriwayatkan:

Syaiban ibn Farukh telah menyampaikan kepada kami dari Hammad ibn Salaman, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik r.a bahwa Rasulullah S.A.W bercerita :

Dibawakan kepadaku Buraq, yakni sejenis hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal, yang langkah kakinya sejauh matanya memandang. Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan oleh para nabi.

Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat di sana. Setelah aku keluar, malaikat Jibril a.s membawakan ke hadapanku segelas arak dan segelas susu. Aku lantas memilih susu. Jibril pun berkata : “Engkau telah memilih fitrah”.

Selanjutnya kami dinaikan ke langit terdekat (pertama). Jibril lalu memintanya agar pintunya dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”

Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya kembali, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Adam AS Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit kedua. Jibril juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami, dan aku bertemu dengan dua orang sepupuku, Isa ibn Maryam a.s dan Yahya ibn Zakariya a.s. Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit ketiga. Jibril juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Yusuf AS yang ternyata ketampanannya luar biasa. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keempat. Jibril AS pun meminta agar pintu langit dibukakan. Dia (oleh penjaga pintunya) ditanya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Idris a.s. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Memang benar firman Allah : “Dan kami telah mengangkatnya (Idris a.s) ke martabat yang tinggi”.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit kelima. Jibril a.s juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Harun AS Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Selanjutnya kami dinaikkan ke langit keenam. Jibril meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”.
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Kemudian, pintunya dibukakan untuk kami. Di sana, aku bertemu dengan Musa AS Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kami selanjutnya dinaikkan ke langit ketujuh. Jibril a.s juga meminta agar pintu langit dibukakan, dan ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”.
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad”
Penjaga pintu kembali bertanya, “Apakah dia diutus (untuk naik menghadap Allah)?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus”.
Maka pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Ibrahim a.s yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur.

Setiap harinya, Baitul Ma’mur dikunjungi oleh 70 ribu malaikat yang tidak pernah mengunjunginya lagi sesudahnya. Kemudian Jibril membawaku ke (pohon) Sidratul Muntaha yang daun-daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahannya sebesar kendi.

Tatkala Allah menitahkan perintah-Nya, (pohon) Sidratul Muntaha langsung berubah sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggambarkannya karena sangat indah. Allah pun memberiku wahyu dan mewajibkan shalat lima puluh kali kepadaku dalam sehari semalam.

Kemudian aku turun lagi dan bertemu dengan Musa AS.
Dia bertanya, “Apakah yang diwajibkan Tuhamu kepada umatmu?”
Aku menjawab, “Lima puluh kali shalat sehari semalam”
Dia berkata, “Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil”.
Maka aku kembali menghadap Tuhanku dan memohon,” Wahai Tuhanku! Berikanlah keringanan kepada umatku.”

Allah SWT lantas mengurangi lima (shalat) dariku. Kemudian aku kembali menemui Musa dan kukatakan, “Allah telah mengurangi lima (shalat) dariku”. Namun Musa berkata, “Umatmu tidak akan mampu melakukan itu. Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi”.

Aku terus mondar-mandir antara Tuhanku dan Musa AS hingga akhirnya Allah berfirman :

“Hai Muhammad! Shalat yang Ku wajibkan adalah lima kali dalam sehari semalam. Pahala tiap-tiap shalat itu digandakan sepuluh kali lipat. Oleh karena itu, mendirikan shalat lima kali sama saja dengan mendirikan shalat lima puluh kali. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan namun dia tidak jadi melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu keburukan namun dia tidak jadi melaksanakannya, maka keburukan tersebut tidak dicatat sama sekali. Akan tetapi, jika dia melaksanakannya, maka hanya dicatat satu keburukan saja,”.

Aku turun lagi menemui Musa AS dan memberinya penjelasan. Dia masih berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan lagi”.

Aku pun menukas, “Aku telah berulang kali menemui Tuhanku, aku merasa malu terhadap-Nya”. (HR. Muslim).

Petikan Hadis Lengkap Tentang Isra Miraj