Cimahi, kota kecil di pinggir Kota Bandung tak selalu jadi tujuan orang berkunjung. Tak heran hotel dan penginapan yang ada di kota dengan tiga kecamatan itu cuma sedikit, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Namun di Kota Cimahi, ada satu hotel yang berdiri sejak tahun 1927. Menjadikannya hotel bersejarah, saksi mata bagaimana pendudukan Belanda di Cimahi pada masa lalu hingga merdeka dan berkembang seperti sekarang.
Namanya Hotel Tjimahi. Hotel sederhana yang berdiri di tepi Jalan Raya Amir Machmud. Tepat di pusat kota, strategis, namun kini kejayaannya memudar sampai akhirnya sang pemilik memutuskan menjual hotel tersebut.
Di masa lalu, Hotel Tjimahi pernah menjadi tempat tinggal sementara sejumlah tokoh. Sebut saja keluarga Sarwo Edhie Wibowo, termasuk di dalamnya sang putri yakni Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono. Selain mendiang Ani Yudhoyono, ada pula nama Doni Monardo, mantan Kepala BNPB. Hingga penjahat perang di Sulawesi, yakni Raymond Westerling.
Keberadaan keluarga Sarwo Edhie serta Doni Monardo di Kota Cimahi, berkaitan erat dengan status daerah yang di zaman Belanda sebagai garnisun dan pusat pendidikan militer. Mereka datang ke Cimahi untuk mengikuti pendidikan militer, seperti Sarwo Edhie di Pusdiklatpassus Batujajar, serta ayah dari Doni Monardo merupakan seorang Korps Polisi Militer (CPM).
“Jadi tahun 50-an itu kan orang-orang tentara masuk di sini, jadi dulu kita tuh enggak pernah kosong. Termasuk ya keluarga Pak Sarwo Edhie dan Pak Doni Monardo. Mereka tinggal di sini selama pendidikan di Cimahi,” kata Thea Gerungan Soetamanggala, pemilik dan pengelola Hotel Tjimahi, Rabu (14/1/2026).
Thea ingat betul keluarga Sarwo Edhie mengisi kamar nomor 21 dan 22 selama beberapa waktu. Namun ia tak tahun pasti dimana kamar keluarga Doni Monardo kala itu. Sementara Raymond Westerling, menginap di kamar nomor 12 selama bersembunyi dari kejaran TNI atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya.
Tahun 1950-an bertepatan dengan masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Saat itu boleh dibilang menjadi masa kejayaan Hotel Tjimahi. TNI yang mengisi kamar-kamar di hotel itu dibiayai oleh negara, bukan gratis.
“Masa jayanya (Hotel Tjimahi) itu di tahun 50-60-an lah. Waktu itu kan orang-orang tentara masuk di sini. Jadi kita tuh enggak pernah kosong. Yang kosong tuh yang belakang. Tapi kalau depan semua penuh, diisi sama tentara. Teman saya 50 orang, anak-anak tentara. Satu keluarga ada anaknya tujuh, enam, delapan kan zaman dulu mah, termasuk itu Pak Doni Monardo sama keluarganya Pak Sarwo Edhie,” kata Thea.
“Nah, itu penuh semua sama tentara. Artinya kami cukup dong, bukan cukup lagi, kaya kan? Nah itu kondisi kami tahun itu, jadi sangat sejahtera pada zaman Presiden Soekarno,” imbuhnya.
Namun roda nasib berputar dengan sangat cepat. Peralihan presiden dari Soekarno ke Soeharto jadi awal ambruknya kejayaan Hotel Tjimahi, yang di tahun 2026 ini berusia 99 tahun. Pemerintah tak lagi membayar biaya penginapan para tentara.
Saat itu Hotel Tjimahi dikelola oleh orangtuanya setelah dilungsurkan oleh kakek dan nenek Thea sebagai pendiri Hotel Tjimahi. Hotel Tjimahi sendiri didirikan oleh pasangan suami istri Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan suaminya seorang pria berkewarganegaraan Belanda, Veen.
Dulunya, Hotel Tjimahi merupakan sebuah villa dan kebun mawar tempat tinggal Nyi Fatimah dan Veen. Kemudian bangunan itu dijadikan pension. Barulah di tahun 1927, izin bangunan diubah menjadi hotel sekaligus menandai tahun berdirinya Hotel Tjimahi.
“Tahun ’65 beralih ke zaman Soeharto. Realitanya, kami tidak dibayar. Ada banyak kalau mau menyusuri hotel-hotel yang dipakai kan sama tentara, tidak pernah dibayar. Kami mana bisa mengeluarkan mereka? Tahun segitu setiap nagih, saya nih waktu masih 5 tahun, ikut papa nagih bayaran hotel, enggak pernah berhasil,” kata Thea.
Utang pemerintah, menurut pengakuan Thea, saat itu mencapai Rp10 juta. Hotelnya penuh, namun tak ada pemasukan. Sebagai pemilik hotel, aneh keluarganya tergolong susah. Thea mengenang bagaimana dampak dari piutang itu membuatnya terpaksa memupus mimpi membeli mainan hingga baju yang ia mau.
“Kami miskin karena piutang loh, bukan karena hutang dan itu fakta karena saya sendiri yang merasakan. Kami miskin, susah hanya untuk makan, sempat sampai di kondisi satu telur dibagi empat, susah,” tutur Thea.
Jejak tokoh-tokoh yang sempat menghuni kamar di Hotel Tjimahi, tak bisa menolong keberlangsungan hotel. Thea bergulat dengan batinnya sendiri selama enam tahun belakangan. Sampai akhirnya, di tahun 2026 ia memutuskan menjual hotel bersejarah itu.
Kabar soal penjualan hotel yang berdiri sejak tahun 1927 silam itu muncul di media sosial. Salah satu akun TikTok mengunggah harga jual hotel yang dibangun di atas tanah seluas 3.254-an meter persegi itu senilai Rp35 miliar.
“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya bahasa sundanya. Terus memang mungkin sudah waktunya, ya. Sudah waktunya saya melepas ini,” kata Thea.
Ia menyebut selain karena cost operasional yang sudah tak sanggup ia bayar, penyebab lainnya yakni tak ada lagi anggota keluarga yang mau meneruskan mengelola hotel tersebut.
“Bayangkan, buat PBB saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena kan ini premium. Kemudian anak saya ada 3, itu enggak ada yang mau ngelanjutin juga. Mereka udah fokus di jalannya masing-masing, tapi semuanya di dunia selam. 2 sudah jadi instruktur, 1 lagi nyusul,” kata Theresia.
Kesulitannya menjalankan roda pengelolaan hotel yang kini berusia 99 tahun itu sangat dirasakan saat pandemi COVID-19 melanda. Hotel dipaksa tutup namun ia berusaha tak memangkas pegawainya yang sudah lama mengabdi.
“Jadi waktu pandemi COVID-19 itu enggak ada yang saya rumahkan, padahal kan hotel tutup. Kemudian enggak ada bantuan dari pemerintah, kan misalnya ada diskon PBB, seperti teman saya di Tangerang itu dapat potongan 30 persen. Waktu saya ke pemkot, malah didenda. Ya nangis saya,” kata Theresia.
Vila dan Kebun Mawar
Dulunya, Hotel Tjimahi merupakan sebuah villa dan kebun mawar tempat tinggal Nyi Fatimah dan Veen. Kemudian bangunan itu dijadikan pension. Barulah di tahun 1927, izin bangunan diubah menjadi hotel sekaligus menandai tahun berdirinya Hotel Tjimahi.
“Tahun ’65 beralih ke zaman Soeharto. Realitanya, kami tidak dibayar. Ada banyak kalau mau menyusuri hotel-hotel yang dipakai kan sama tentara, tidak pernah dibayar. Kami mana bisa mengeluarkan mereka? Tahun segitu setiap nagih, saya nih waktu masih 5 tahun, ikut papa nagih bayaran hotel, enggak pernah berhasil,” kata Thea.
Utang pemerintah, menurut pengakuan Thea, saat itu mencapai Rp10 juta. Hotelnya penuh, namun tak ada pemasukan. Sebagai pemilik hotel, aneh keluarganya tergolong susah. Thea mengenang bagaimana dampak dari piutang itu membuatnya terpaksa memupus mimpi membeli mainan hingga baju yang ia mau.
“Kami miskin karena piutang loh, bukan karena hutang dan itu fakta karena saya sendiri yang merasakan. Kami miskin, susah hanya untuk makan, sempat sampai di kondisi satu telur dibagi empat, susah,” tutur Thea.
Jejak tokoh-tokoh yang sempat menghuni kamar di Hotel Tjimahi, tak bisa menolong keberlangsungan hotel. Thea bergulat dengan batinnya sendiri selama enam tahun belakangan. Sampai akhirnya, di tahun 2026 ia memutuskan menjual hotel bersejarah itu.
Kabar soal penjualan hotel yang berdiri sejak tahun 1927 silam itu muncul di media sosial. Salah satu akun TikTok mengunggah harga jual hotel yang dibangun di atas tanah seluas 3.254-an meter persegi itu senilai Rp35 miliar.
“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya bahasa sundanya. Terus memang mungkin sudah waktunya, ya. Sudah waktunya saya melepas ini,” kata Thea.
Ia menyebut selain karena cost operasional yang sudah tak sanggup ia bayar, penyebab lainnya yakni tak ada lagi anggota keluarga yang mau meneruskan mengelola hotel tersebut.
“Bayangkan, buat PBB saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena kan ini premium. Kemudian anak saya ada 3, itu enggak ada yang mau ngelanjutin juga. Mereka udah fokus di jalannya masing-masing, tapi semuanya di dunia selam. 2 sudah jadi instruktur, 1 lagi nyusul,” kata Theresia.
Kesulitannya menjalankan roda pengelolaan hotel yang kini berusia 99 tahun itu sangat dirasakan saat pandemi COVID-19 melanda. Hotel dipaksa tutup namun ia berusaha tak memangkas pegawainya yang sudah lama mengabdi.
“Jadi waktu pandemi COVID-19 itu enggak ada yang saya rumahkan, padahal kan hotel tutup. Kemudian enggak ada bantuan dari pemerintah, kan misalnya ada diskon PBB, seperti teman saya di Tangerang itu dapat potongan 30 persen. Waktu saya ke pemkot, malah didenda. Ya nangis saya,” kata Theresia.
