Korea Utara pernah memiliki sebuah hotel terapung di kawasan wisata Gunung Kumgang, wilayah pegunungan yang terletak dekat perbatasan Korea Selatan. Hotel tersebut disebut-sebut sebagai hotel terapung pertama di dunia, yang awal pembuatannya dimulai sejak 1986.
Namun, hotel itu bukanlah hasil karya Korea Utara. Melansir infoProperti yang mengutip dari CNN, hotel terapung tersebut awalnya dirancang oleh seorang penyelam profesional asal Italia. Korea Utara kemudian membelinya pada akhir 1999 dengan tujuan menarik wisatawan asing ke kawasan Gunung Kumgang.
Pengelolaan hotel ini terbilang unik karena melibatkan perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Asan. Hotel tersebut juga menjadi bagian dari paket wisata lintas batas menuju wilayah perbatasan Korea Selatan. Kerja sama ini terjalin pada masa ketika hubungan antar-Korea tengah mencair dan kedua negara berupaya membangun jembatan kerja sama, termasuk di sektor pariwisata.
Keputusan menggandeng pengelola dari Korea Selatan diambil setelah disadari bahwa sebagian besar hotel di Korea Utara saat itu belum ramah bagi wisatawan asing.
Hotel tersebut resmi dibuka pada Oktober 2000 dengan nama Hotel Haegumgang. Pengoperasian ini menjadi fase ketiga perjalanan hotel terapung tersebut setelah sebelumnya beroperasi di Singapura.
Menurut juru bicara Hyundai Asan, Park Sung-uk, kawasan wisata Gunung Kumgang telah menarik lebih dari dua juta wisatawan selama bertahun-tahun beroperasi.
“Tur Gunung Kumgang berkontribusi dalam meningkatkan rekonsiliasi antar-Korea dan menjadi titik penting pertukaran antar-Korea, termasuk sebagai pusat pertemuan kembali keluarga yang terpisah akibat perpecahan nasional,” ujarnya, seperti dikutip infocom, Sabtu (17/1/2026).
Operasional Hotel Haegumgang berjalan relatif lancar selama delapan tahun hingga terjadi insiden fatal. Seorang wisatawan perempuan asal Korea Selatan berusia 53 tahun ditembak mati oleh tentara Korea Utara setelah tersesat dan memasuki zona militer terlarang di luar area wisata.
Peristiwa tersebut memicu penghentian seluruh tur Gunung Kumgang oleh Hyundai Asan. Sejak saat itu, Hotel Haegumgang resmi ditutup dan tidak lagi menerima wisatawan.
Keberadaan hotel terapung ini hingga kini masih menjadi tanda tanya. Berdasarkan laporan, hotel tersebut disebut hanya digunakan secara terbatas oleh anggota Partai Pekerja Korea, partai penguasa di Korea Utara.
Pada 2019, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan mengunjungi kawasan wisata Gunung Kumgang dan mengkritik kondisi berbagai fasilitas di sana, termasuk Hotel Haegumgang, yang dinilainya kumuh dan tidak sesuai standar. Ia kemudian memerintahkan pembongkaran sejumlah fasilitas sebagai bagian dari rencana penataan ulang kawasan wisata agar mencerminkan gaya budaya Korea Utara.
Hotel terapung ini merupakan gagasan Doug Tarca, seorang penyelam profesional dan pengusaha kelahiran Italia yang bermukim di Townsville, Queensland, Australia. Ia ingin membangun akomodasi di atas laut untuk memudahkan wisatawan menikmati terumbu karang dan aktivitas snorkeling.
Awalnya, Tarca berencana menambatkan kapal pesiar secara permanen. Namun, konsep tersebut dinilai tidak ramah lingkungan. Ia kemudian memilih membangun hotel terapung sebagai alternatif.
Pembangunan hotel dimulai pada 1986 di galangan kapal Bethlehem di Singapura. Modal yang dikeluarkan mencapai sekitar 45 juta dolar AS atau setara Rp 760 miliar. Setelah selesai, hotel tersebut diangkut menggunakan kapal pengangkut berat ke John Brewer Reef di kawasan Taman Laut Great Barrier Reef.
Hotel itu diberi nama Four Seasons Barrier Reef Resort dan resmi dibuka pada 9 Maret 1988.
“Itu adalah hotel bintang lima dengan tarif yang tidak murah,” kata Robert de Jong, kurator Museum Maritim Townsville.
Hotel tersebut memiliki 176 kamar dan mampu menampung hingga 350 tamu. Fasilitasnya mencakup klub malam, dua restoran, laboratorium penelitian, perpustakaan, toko perlengkapan selam, hingga lapangan tenis.
Meski menawarkan kemewahan, operasional hotel ini hanya bertahan sekitar dua tahun. Biaya operasional yang tinggi, akses terbatas yang bergantung pada kapal cepat dan helikopter, serta kondisi cuaca yang kerap tidak bersahabat menjadi faktor utama kegagalannya.
Hotel tersebut kemudian dijual kepada perusahaan asal Vietnam, namun kembali mengalami kerugian. Akhirnya, hotel terapung itu berpindah tangan ke Korea Utara, menandai babak baru perjalanan bangunan unik yang pernah menjadi simbol ambisi pariwisata lintas negara.
Artikel ini sudah tayang di infoProperti
