Ancaman Rumah Ambruk Hantui Warga Bantaran Citarum di Karawang | Giok4D

Posted on

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Luapan Sungai Citarum menjadi ancaman serius sekaligus memicu kekhawatiran mendalam bagi warga di Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Ketua RT 04 Kelurahan Adiarsa Barat, Heri (45), mengungkapkan warga yang telah dua hari terdampak banjir kini tidak hanya mencemaskan genangan air, tetapi juga potensi kerusakan bangunan yang fatal.

“Ini hari kedua rumah kebanjiran, karena rumah berlokasi di bibir sungai citarum. Jadi kita mengungsi, dan yang dikhawatirkan sebenarnya bukan kebanjiran, tapi kita takut rumah ambruk karena dampak banjir menggerus tanah sekitar rumah,” kata Heri saat berbincang dengan awak media, Selasa (20/1/2026).

Luapan Citarum memicu erosi yang secara perlahan mengikis lahan fondasi rumah warga di bantaran sungai tersebut.

“Dulu sebenarnya rumah saya ada jarak sekitar 10 meter ke bibir sungai pas dibikin rumah, tapi sekarang kita lihat. Sudah sampai ke tiang rumah tanahnya amblas, ini sebenarnya yang jadi rasa ketakutan kami sebagai warga di sini, bukan hanya soal banjir,” ujarnya.

Ia dan warga lainnya mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata atas kondisi yang mengancam keselamatan jiwa tersebut. “Kami harap pemerintah segera menindaklanjuti kondisi ini, kami sudah merasakan ini bertahun-tahun, dampak banjir berakibat fatal pada rumah tempat berlindung kami,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Karawang, Dian Fahrud Jaman, menyatakan keprihatinannya usai meninjau langsung kondisi warga. Ia menemukan sejumlah dinding rumah warga mulai retak akibat tanah di bawah bangunan yang mulai kosong terkikis erosi.

“Kita lihat kondisi warga terdampak banjir di Kelurahan Adiarsa Barat ini, tadi saya cek ada rumah yang hampir terkikis, karena deras aliran Sunga Citarum yang saat ini meluap,” kata Dian kepada awak media.

Dian menyebutkan, derasnya aliran sungai membuat struktur tanah di bawah rumah warga menjadi tidak stabil.

“Tembok rumah warga suda terlihat retakan-retakan, imbas erosi akibat derasnya luapan aliran Citarum, jadi tanah bawah rumah sebenarnya sudah kopong, sehingga beberapa warga mengganjal pinggiran rumah dengan bambu dan batu,” ungkapnya.

Dian memastikan pihaknya telah menampung aspirasi masyarakat untuk direkomendasikan kepada pemerintah daerah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Keluhan-keluhan masyarakat ini, saya tampung, insya Allah segera jadi catatan kami di DPRD untuk segera ditindaklanjuti pemerintah daerah melalui OPD terkait,” ucap Dian.

Sementara itu, berdasarkan data hingga 20 Januari pukul 15.00 WIB, banjir di Karawang dilaporkan meluas ke 29 desa dan kelurahan di delapan kecamatan, meskipun di beberapa titik air mulai berangsur surut.

“Data yang kami himpun imbas cuaca ekstrem dari tanggal 12 hingga 16 Januari, banjir merendam 29 desa dan kelurahan di 8 kecamatan yakni Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Karawang Barat, Rengasdengklok, Pedes, Pakisjaya, Cibuaya, dan Tirtajaya,” papar Usep dalam keterangan resmi yang diterima infoJabar.

Usep menjelaskan bahwa ribuan rumah terendam dan puluhan ribu jiwa terdampak, dengan sebagian besar warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“6.867 rumah terendam dengan ketinggian mulai 30 centimeter hingga 350 centimeter, 18 diantaranya rusak ringan 6 rusak sedang, dan 7 rusak berat, dan 33.391 jiwa terdampak dan harus mengungsi,” pungkasnya.