Bau tak sedap dirasakan wisatawan yang melewati saluran pembuangan limbah di depan salah satu hotel di Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Pasalnya, di titik tersebut diduga merupakan instalasi pembuangan air limbah (IPAL) hotel maupun rumah sekitar kawasan tersebut.
Bau menyengat dan airnya yang berwarna hijau kehitaman pekat menandai kotornya titik pantai tersebut. Akibatnya, wisatawan menjadi tidak nyaman untuk berenang.
Bahkan, wisatawan yang melewati saluran IPAL itu seringkali menutup hidung sembari menunjukkan wajah masam. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaknyamanan pengunjung.
Air limbah dari saluran itu langsung menuju ke Pantai Barat Pangandaran, tempat wisatawan berenang.
Pantauan infoJabar di Pantai Barat Pangandaran pada Jumat siang. Saluran yang lebarnya sekitar 2 meter itu mengalir langsung ke laut, warnanya cukup kotor dan terdapat sampah.
Salah seorang wisatawan, Ade Suhendar (46), yang mengaku sejak 5 tahun terakhir ke Pantai Pangandaran menemukan saluran tersebut tak kunjung diperbaiki. “Terakhir ke sini sebelum pandemi, saluran limbah ini masih ada sampai sekarang,” katanya.
Wisatawan lainnya, Adi Nurdiansyah, mengatakan jika saluran pembuangan itu terus dibiarkan, dikhawatirkan akan berbahaya bagi kondisi air laut. “Khawatir saja menyebabkan gatal-gatal, karena itu airnya kotor,” ucap wisatawan asal Garut itu.
Ia berpendapat, wisatawan yang sudah membayar mahal untuk masuk Pantai Pangandaran seharusnya mendapatkan kondisi yang sesuai dengan harapan. “Kalau saya memang mau menikmati pantai saja, nongkrong. Tapi mereka (anak-anak) inginnya berenang. Jadi saya lihat lagi, geser ke arah Pos 1-2 yang jauh dari pembuangan air limbah,” katanya.
Sementara itu, penjaga warung di tempat itu mengaku terganggu oleh bau yang bersumber dari saluran limbah tersebut.
“Kadang suka bau, terutama jika hujan deras. Airnya mengalir langsung ke laut,” kata Bunga (nama samaran), pedagang di dekat saluran IPAL itu.
Menurutnya, kadang-kadang wisatawan yang melewati saluran itu mengipas hidung dan merasa tak nyaman. “Saya lihat, kalau ada wisatawan lewat, mereka langsung mengerutkan dahi sembari menunjukkan wajah tak nyaman,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Pangandaran Irwansyah mengatakan ada setidaknya empat titik saluran limbah di Pantai Pangandaran, di antaranya depan pondok seni, depan Hotel Krisna, depan Hotel Bumi Nusantara, dan depan Hotel Laut Biru.
“Memang saluran itu merupakan IPAL hotel dan restoran,” ucap Irwansyah saat dihubungi infoJabar.
Ia mengatakan sejumlah hotel ada yang sudah mempunyai IPAL, namun belum semuanya. “Belum semua hotel yang ada di Pantai Pangandaran ada Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Kemarin baru selesai fokus ke Nataru. Dalam waktu dekat, kami akan kembali melakukan pendataan. Nanti kita tinjau mana yang sudah ada dan belum sama sekali,” terangnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Bahkan, hotel besar di Pangandaran, kata Irwansyah, belum semuanya mempunyai IPAL. Pemerintah daerah sudah memberikan peringatan kepada para pemilik hotel sejak zaman Bupati Pangandaran periode sebelumnya.
“Sudah ada peringatan sejak zaman Bupati Pangandaran yang sebelumnya. Karena saya juga menjabat belum lama di sini, nanti akan saya cek ulang hotel yang belum pasang atau IPAL-nya tidak berfungsi,” ucapnya.
