Di tengah kawasan strategis Kota Bandung, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju) tak hanya berdiri sebagai penanda sejarah, tetapi juga menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyarakat.
Berlokasi di Jalan Dipatiukur No 48, Monju menyuguhkan museum di lantai bawah tanah yang menawarkan ruang belajar sejarah dengan harga tiket terjangkau. Pemandu museum, Rikrik, menjelaskan bahwa fasilitas dan koleksi di dalam museum tersebut merupakan bagian tak terpisahkan sejak awal pembangunan.
“Sudah satu paket. Monumen ini mencakup museum, ruang pameran, auditorium, ruang informasi, ruang diorama, hingga perpustakaan,” ujarnya, Selasa (7/1/2025).
Museum Monju dibangun guna menghargai jasa para pahlawan, khususnya pejuang asal Jawa Barat. Selain itu, museum ini diproyeksikan menjadi media pembelajaran sejarah bagi generasi muda.
“Tujuannya untuk mewariskan nilai sejarah perjuangan kepada generasi muda, khususnya siswa sekolah sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa,” kata Rikrik.
Di dalam museum, pengunjung disuguhi berbagai visual mulai dari foto, seragam pejuang, film, hingga diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah rakyat Jawa Barat. Hingga kini terdapat sembilan ruang diorama. Awalnya hanya berjumlah tujuh, tetapi pada 2013 ditambah dua diorama baru, yakni Palagan Bojongkokosan dan Sakola Kautamaan Istri.
Penambahan tersebut dilakukan tanpa mengubah struktur utama bangunan. “Sejak diresmikan, struktur bangunan tidak berubah. Kami hanya menambah diorama dan menyekat area kantor untuk mendukung pengelolaan,” jelas Rikrik.
Sebagai ruang publik, museum Monju terbuka untuk umum. Jam operasionalnya Senin-Jumat pukul 07.30-16.00 WIB, serta Sabtu pukul 07.30-14.00 WIB.
Harga tiket masuk mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, yaitu Rp2.000 untuk anak-anak dan pelajar tingkat PAUD hingga SMP, serta Rp3.000 untuk pelajar SMA dan pengunjung umum.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.







