Pemkot Bandung sedang menyiapkan kebijakan untuk mengubah nama sejumlah taman-taman kota. Salah satu contohnya, Taman Superhero yang nantinya bakal diusulkan diganti namanya menjadi Taman Bengawan.
Usulan itu pertama kali disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Setelah opsi ini dikeluarkan, Pemkot Bandung mulai membahas di Dinas Perumahan dan Pemukiman (DPKP) yang mengurusi taman, hingga ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung.
Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan, perubahan 16 taman itu nantinya akan disesuai dengan toponimi atau sesuai dengan asal-usul tempat atau wilayah geografisnya masing-masing. Salah satu contohnya, Taman Superhero yang direncakan berganti nama menjadi Taman Bengawan karena sesuai dengan asal jalan di sana.
“Toponimi itu kan memang dari Pak Walikota menginginkan supaya si taman-taman ini lebih dekat dikenal lagi oleh masyarakat. Sehingga dikembalikan ke istilahnya itu toponimi ya, atau nama-nama geografis, nama-nama wilayah,” kata Adi, Rabu (21/1/2026).
“Contoh, misalnya ya, tapi ini sekali lagi belum final. Contoh kan ada Taman Superhero, nah itu mungkin akan jadi Taman Bengawan. Terus Taman Radio, itu jadi Taman Ranggamalela. Terus Taman Sister City, itu jadi Taman Seram. Tapi ini masih digodok, nanti sama tim sebelum laporan finalnya entar kita lapor ke Pak Wali Kota,” ucapnya menambahkan.
Adi mengatakan, usulan ini sekarang sedang dirapatkan dengan pakar hingga budayawan. Meski demikian, beberapa taman lain tidak bisa diganti namanya karena sudah melekat sejak lama.
“Jadi nanti ini akan kita laporkan ke Pak Wali Kota, dan nanti dari beliau mungkin akan yang merilis resminya. Kayaknya itu tuh untuk penamaan dan lain-lain soalnya ada prosedur, jadi enggak cuma sekedar ganti nama karena Pak Wali sih penginnya di Januari ini sudah selesai,” tuturnya.
Adi kemudian menjelaskan soal pergantian nama 16 taman yang sedang diusulkan. Farhan kata dia, menginginkan publik lebih mengenal wilayah tersebut yang selama ini kerap dilupakan.
“Sebetulnya kan ini mah pasti ada reasoning ya, setiap penamaan dari yang lalu seperti apa. Cuma memang kalau didikembalikan lagi ke kaidah yang toponimi, itu diharapkan orang lebih mengenal,” katanya.
“Karena gini, ini salah satu contoh ya. Kita pernah dalam satu kesempatan dialog dengan para seniman musik. Kemudian ditanyakan, ini ada Taman Musik, terus ditanya, cocok ga dipakai untuk ruang terbuka. Pernyataannya enggak. Sehingga dari sana, dikembalikan ke nama-nama sesuai toponiminya,” pungkasnya.
