Suasana SMAN 1 Susukan pada Rabu (21/1) sore itu berubah mencekam. Hujan gerimis disertai angin kencang belum sepenuhnya reda ketika kabar robohnya atap lapangan upacara menyebar cepat. Tak butuh waktu lama, media sosial pun dipenuhi pesan berantai menyebutkan adanya korban jiwa, bahkan seorang guru dikabarkan meninggal dunia akibat insiden tersebut. Namun, kabar itu tidak sepenuhnya benar.
Kepala Sekolah SMAN 1 Susukan, Ukendi Andriyana membantah isu yang terlanjur beredar luas. Ia menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa akibat robohnya atap lapangan upacara sekolah.
“Memang ada satu siswa kelas X E yang tertimpa bangunan. Tapi alhamdulillah hanya mengalami luka ringan dan setelah diperiksa tim medis, sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Peristiwa robohnya atap diceritakannya terjadi sekitar pukul 14.45 WIB, saat sebagian besar siswa telah meninggalkan sekolah. Hanya beberapa siswa yang masih berada di lingkungan sekolah. Satu di antaranya sempat tertimpa, namun cepat mendapatkan pertolongan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Ia kembali melanjutkan, sekitar 15 menit setelah siswa tersebut dibawa ke rumah sakit, suasana kembali dikejutkan oleh kejadian lain. Seorang guru Bahasa Inggris, Danal Alam, tiba-tiba jatuh pingsan di depan kantor sekolah. Guru-guru dan staf sekolah yang melihat kejadian itu langsung bergegas memberikan pertolongan dan membawanya ke lobi sekolah.
“Kami sudah berupaya memberikan pertolongan awal, tapi tidak ada respons,” tutur Ukendi.
Danal Alam kemudian dilarikan ke RSUD Arjawinangun. Sayangnya, setelah mendapatkan penanganan medis, dokter menyatakan ia meninggal dunia.
Peristiwa meninggalnya Danal Alam inilah yang kemudian memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Banyak yang mengaitkan wafatnya sang guru dengan insiden robohnya atap lapangan upacara.
Menurut keterangan pihak sekolah dan keluarga, Danal Alam diketahui memiliki riwayat penyakit jantung. Istri dan keluarganya bahkan menyebutkan bahwa belakangan ini almarhum kerap mengeluhkan rasa nyeri di bagian dada.
“Jadi perlu kami luruskan, meninggalnya Pak Danal sama sekali tidak disebabkan oleh robohnya atap atau kanopi sekolah. Beliau wafat karena serangan jantung,” tegasnya.
Penegasan serupa juga disampaikan Kapolsek Susukan, Iptu Kelani. Ia memastikan bahwa informasi mengenai korban meninggal dunia akibat robohnya bangunan sekolah adalah tidak benar.
“Guru tersebut memang meninggal di hari yang sama, tetapi bukan karena kejadian robohnya atap. Berdasarkan keterangan keluarga, yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit jantung,” jelasnya.
Di sisi lain, Ukendi juga menjelaskan bahwa bangunan atap lapangan upacara tersebut dibangun secara bertahap sejak tahun 2023 hingga 2025. Proyek pembangunan itu baru rampung pada Mei 2025 lalu.
Kini, garis polisi masih terpasang di sekitar lokasi kejadian. Kemudian pihak kepolisian mengimbau seluruh siswa sekolah untuk tidak mendekati area lapangan upacara demi keselamatan.
