Upaya Tingkatkan Kesadaran Tanggap Bencana Lewat Pameran Visual | Giok4D

Posted on

Institut Teknologi Bandung (ITB) membuka pameran visual tanggap bencana bertajuk “Abhinaya” di Galeri Soemardja ITB, Senin (12/1/2025). Pameran ini digelar untuk membangun kesadaran publik terhadap kondisi Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana.

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan, selama ini diskusi mengenai kebencanaan lebih banyak berlangsung di ruang akademik yang tertutup. Menurutnya, perlu pendekatan baru agar kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap risiko bencana dapat tumbuh.

“Kegiatan seperti ini jarang dilakukan karena diskusi kebanyakan dilakukan di ruangan tertutup. (Pameran) ini kita buka untuk publik dengan tujuan membangun kepedulian tentang risiko bencana dan semangat gotong royong,” jelas Tata.

Pameran yang terbuka untuk umum tersebut menampilkan kumpulan dokumentasi kegiatan tanggap darurat dan pemulihan area bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat oleh tim ITB serta sejumlah kampus lainnya. Dokumentasi tersebut dikemas dalam bentuk kolase foto, tayangan audio visual, hingga buku catatan perjalanan yang ditulis oleh Rektor ITB.

“Ini contoh kerja dengan pendekatan multidisiplin; aspek teknis dibawa dengan pendekatan seni rupa dan desain. Semoga jadi wahana untuk meningkatkan kepedulian bahwa kita hidup di wilayah rawan dan bagaimana kita menghadapinya,” ungkap Tata.

Selama beberapa hari, tim ITB bekerja sama dengan kampus lain serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan sejumlah kegiatan tanggap bencana di kawasan terdampak. Mulai dari instalasi teknologi tepat guna, pengadaan pembangkit listrik tenaga surya, program ketahanan pangan, hingga penyediaan air bersih dan sanitasi.

Selain perbaikan infrastruktur, terdapat pula program Art as Therapy seperti menggambar, mewarnai, merajut, dan membuat boneka. Program ini menjadi sarana pengelolaan emosi korban bencana, termasuk anak-anak, agar tersalurkan secara positif. Sejumlah sampel karya seni masyarakat tersebut turut dipajang dalam pameran.

Lebih lanjut, Tatacipta mengatakan pameran tersebut memberikan gambaran terkait pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana. Pasalnya, kompleksitas persoalan bencana membuat kerja lintas keilmuan menjadi krusial.

“Kita tahu bahwa bencana tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu orang atau satu bidang saja. Maka, kolaborasi itu kemudian kita inisiasi melalui pertemuan dan pembicaraan,” ujarnya.

Tatacipta menyebutkan, begitu inisiatif tersebut berjalan, respons berbagai pihak datang dengan cepat. Dukungan mengalir dari masyarakat hingga pemerintah pusat. “Sebetulnya semua mungkin berpikiran sama, cuma belum terkoneksi saja. Akhirnya simpul ini sampai ke Kemendiktisaintek dan disambut baik oleh BNPB,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kampus memiliki peran strategis, terutama dalam upaya jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana. “Kampus tidak punya cukup sumber daya jika harus mengerahkan tentara. Namun, untuk jangka panjang seperti mengurangi risiko, mencegah kerugian, dan mencegah korban jiwa, tugas kampus sangat strategis,” ungkap Tatacipta.

Terkait kontribusi konkret, Tatacipta memaparkan berbagai upaya ITB dalam penanganan bencana di wilayah Sumatra, terutama penyediaan air bersih. “Fokus utama tentu saja penyediaan air bersih, mulai dari kapasitas 1.000 liter sampai 7.000 liter per jam,” katanya. Instalasi tersebut telah terpasang di puluhan titik melalui kerja sama dengan perguruan tinggi setempat. “Kami tidak bekerja sendiri, kami juga menggelar workshop pembuatan alat penjernih air tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengatakan, penanganan bencana berlanjut hingga masa transisi dan pemulihan dengan pendekatan yang berpusat pada masyarakat. “Tidak hanya delivering goods atau teknologi, tapi juga memberikan harapan (*deliver hopes) kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi harus mencakup aspek infrastruktur hingga psikososial. “Tahun 2004 kita mendapat wake-up call dari Aceh. Sekarang kita tidak bisa lagi sendiri-sendiri, harus berkolaborasi lintas keilmuan,” tegas Radit.

“Harapannya bukan hanya saat tanggap darurat saja, tapi bagaimana upaya mengurangi risiko dan membangun kapasitas menjadi kesadaran kolektif,” tutupnya.

Pameran tanggap bencana Abhinaya berlangsung pada 12-18 Januari 2025. Pameran ini bisa dikunjungi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB di Galeri Soemardja ITB.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Tatacipta menyebutkan, begitu inisiatif tersebut berjalan, respons berbagai pihak datang dengan cepat. Dukungan mengalir dari masyarakat hingga pemerintah pusat. “Sebetulnya semua mungkin berpikiran sama, cuma belum terkoneksi saja. Akhirnya simpul ini sampai ke Kemendiktisaintek dan disambut baik oleh BNPB,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kampus memiliki peran strategis, terutama dalam upaya jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana. “Kampus tidak punya cukup sumber daya jika harus mengerahkan tentara. Namun, untuk jangka panjang seperti mengurangi risiko, mencegah kerugian, dan mencegah korban jiwa, tugas kampus sangat strategis,” ungkap Tatacipta.

Terkait kontribusi konkret, Tatacipta memaparkan berbagai upaya ITB dalam penanganan bencana di wilayah Sumatra, terutama penyediaan air bersih. “Fokus utama tentu saja penyediaan air bersih, mulai dari kapasitas 1.000 liter sampai 7.000 liter per jam,” katanya. Instalasi tersebut telah terpasang di puluhan titik melalui kerja sama dengan perguruan tinggi setempat. “Kami tidak bekerja sendiri, kami juga menggelar workshop pembuatan alat penjernih air tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengatakan, penanganan bencana berlanjut hingga masa transisi dan pemulihan dengan pendekatan yang berpusat pada masyarakat. “Tidak hanya delivering goods atau teknologi, tapi juga memberikan harapan (*deliver hopes) kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi harus mencakup aspek infrastruktur hingga psikososial. “Tahun 2004 kita mendapat wake-up call dari Aceh. Sekarang kita tidak bisa lagi sendiri-sendiri, harus berkolaborasi lintas keilmuan,” tegas Radit.

“Harapannya bukan hanya saat tanggap darurat saja, tapi bagaimana upaya mengurangi risiko dan membangun kapasitas menjadi kesadaran kolektif,” tutupnya.

Pameran tanggap bencana Abhinaya berlangsung pada 12-18 Januari 2025. Pameran ini bisa dikunjungi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB di Galeri Soemardja ITB.

Gambar ilustrasi

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.