Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat masih bertahan hingga menjelang magrib. Asap hitam membumbung tinggi dari arah seberang gedung DPRD, di mana sebuah bangunan milik MPR RI hangus dibakar.
Pagar gedung DPRD pun terpantau membara dibakar massa. Di tengah-tengah aksi tersebut, mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung Raya ikut berdatangan menyampaikan tuntutan.
Mereka yang sebelumnya juga melangsungkan aksi di depan Polda Jabar tersebut meminta agar kepolisian segera bertanggungjawab untuk mengadili pelaku pelindasan supir ojek online di Jakarta pada Kamis (28/8) malam.
“Tuntutan pertama kita adalah keadilan dari kejadian kemarin malam, di mana polisi sudah melanggar aturan. Sesama manusia tidak seharusnya melakukan tindakan seperti itu,” ungkap salah satu massa aksi, Muhammad Irsyad (19) pada infoJabar.
“Warga juga punya hak yang diatur Undang-undang untuk menyampaikan aspirasi. Kenapa harus ditabrak dan dilindas. Kalau dalih tidak sengaja, kenapa saat berhenti mobil malah kembali digas,” lanjutnya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Ia yang merupakan mahasiswa salah satu kampus di Bandung Timur juga menyampaikan aspirasinya soal gaji dan tunjangan anggota DPR RI yang dinilai tidak masuk akal. Ia mengeluhkan kondisi sang ibu yang merupakan guru honorer, yang hanya diupah Rp500 ribu per bulan.
“Kedua, ibu saya seorang guru honorer di kampung. Gajinya Rp700 ribu sekarang dipotong jadi tinggal Rp500 ribu, itu pun sering telat. Sedangkan DPR gajinya sampai Rp3 juta per hari di tengah efisiensi, itu bagaimana? Kenapa malah gaji ibu saya yang dipotong?” paparnya.
Irsyad yang datang bersama dua orang rekannya menyatakan bahwa seruan bubarkan DPR merupakan ungkapan kekesalan semata. Mahasiswa disebut tidak bertujuan untuk melenyapkan lembaga legislatif tersebut dari struktur negara, melainkan merombak para anggotanya yang dinilai tidak kompeten.
“Kami berharap kabinet yang sekarang itu dirombak. Ungkapan bubarkan DPR itu hanya luapan amarah masyarakat. Tujuan kita adalah mengeluarkan ‘tikus-tikus’ yang ada di sana, sehingga bisa diisi dengan yang kompeten. Bukan membubarkan lembaganya,” tuturnya.
Selain mahasiswa, massa aksi juga diramaikan oleh kehadiran para pengemudi ojek online dari berbagai perusahaan. Ramsey (21) mengaku datang sejak selepas shalat Jumat bersama rekan-rekannya sesama pengemudi ojek online.
“Kita sengaja hari ini off-bid demi datang ke sini, dari setelah Jumatan sudah kumpul di sini. Ini bentuk solidaritas kami kepada Affan, dan meminta pelaku diadili dengan seadil-adilnya,” ungkap Ramsey saat ditemui infoJabar di sela aksi.
Situasi aksi mulai melandai ketika adzan magrib berkumandang. Meski demikian, lemparan kembang api dan yel-yel massa aksi masih terus berkumandang.