Aparat keamanan Irak menangkap 17 pria menyusul viralnya video pelecehan massal terhadap seorang perempuan saat perayaan malam Tahun Baru. Insiden ini memicu kecaman luas di negara yang menjunjung nilai-nilai sosial konservatif tersebut.
Dilansir AFP, Minggu (5/1/2025), rekaman yang viral di media sosial itu memperlihatkan puluhan pria mengerumuni dan mendorong seorang perempuan yang berteriak histeris, sebelum mereka mengangkat tubuh korban di tengah kerumunan. Peristiwa ini terjadi di area terbuka di Kota Basra, Irak selatan, saat warga merayakan pergantian tahun.
Video lain dari sudut berbeda menunjukkan sejumlah pria berusaha memaksa perempuan itu masuk ke dalam mobil dengan cara menekan kepalanya. Pihak berwenang memastikan rekaman tersebut autentik dan terjadi di wilayah hukum mereka.
Gubernur Basra, Asaad al-Eidani, memastikan 17 tersangka telah diringkus. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan berkompromi terhadap tindakan yang melanggar norma sosial dan mengancam ketertiban umum.
“Pemerintah daerah tidak akan menoleransi perilaku apa pun yang melanggar kesopanan publik atau mengganggu keamanan masyarakat,” tegas Asaad.
Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius di Irak yang patriarkal. Praktik yang dikenal sebagai “pembunuhan demi kehormatan” tetap menghantui masyarakat, meski data statistik resmi yang komprehensif belum tersedia hingga saat ini.
Organisasi Kebebasan Perempuan di Irak (OWFI) turut mengutuk keras aksi tersebut. Dalam pernyataannya, lembaga pelindung korban kekerasan ini menyoroti tren peningkatan kasus pelecehan di ruang publik yang kian mengkhawatirkan.
“Pelecehan massal terhadap perempuan dan anak perempuan semakin umum terjadi di acara-acara publik. Jalanan, alun-alun, dan tempat berkumpul berubah menjadi ruang tidak aman yang melanggar martabat serta hak perempuan untuk hidup bebas tanpa ancaman,” tulis OWFI.
OWFI menilai tragedi di Basra merupakan dampak nyata dari kemerosotan struktur sosial dan politik yang dipicu budaya impunitas, serta dilegitimasi oleh sistem tradisional yang mengakar.
Kondisi ini sejalan dengan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebutkan bahwa lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di seluruh Irak saat ini berada dalam risiko tinggi kekerasan berbasis gender.
Artikel ini telah tayang di .







