Tradisi Rajaban di Jawa Barat, Botram Jadi Simbol Kebersamaan

Posted on

Tradisi Rajaban atau peringatan Isra Mi’raj di Jawa Barat tak sekadar diisi pengajian dan doa bersama. Momentum ini identik dengan botram, tradisi makan bersama di atas daun pisang yang mencerminkan kebersamaan dan kesederhanaan warga Sunda.

Merujuk KBBI, botram berasal dari bahasa Sunda yang bermakna acara makan bersama secara santai dan kekeluargaan dengan saling berbagi bekal yang dibawa dari rumah masing-masing.

Botram biasanya digelar seusai pengajian Isra Mi’raj. Bertempat di halaman masjid, madrasah, atau balai kampung, makanan disusun memanjang di atas daun pisang lalu dinikmati bersama tanpa sekat status sosial.

Tradisi ini memperkuat ikatan warga dalam suasana religius. Pada peringatan Isra Mi’raj 27 Rajab 1447 H yang jatuh pada 16 Januari 2026 mendatang, tradisi makan bersama ini diprediksi tetap lestari di berbagai pelosok Jawa Barat.

Tradisi makan bersama telah mengakar kuat dalam kehidupan religius masyarakat Jawa Barat, termasuk saat memuliakan Rajab, bulan terjadinya peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam praktik masyarakat Sunda, Rajaban tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah individual, melainkan upacara kolektif yang menggabungkan doa, sajian makanan, dan kebersamaan sosial.

Studi Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari dalam jurnal Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta (2017) menyebutkan, upacara keagamaan dalam tradisi Sunda umumnya terdiri atas unsur pokok: bersaji, berkorban, berdoa, dan makan bersama.

Dalam konteks Rajaban, makan bersama adalah bagian inti dari peringatan. Makanan dipersiapkan secara khusus dan didoakan sebelum disantap. Praktik ini menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan media pengiring doa dan simbol rasa syukur kepada Allah SWT.

Buku karya Dra. Yetti Herayati, dkk. (1986) berjudul Makanan: Wujud Variasi dan Fungsi serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda Daerah Jawa Barat menjelaskan bahwa upacara tradisional Sunda selalu berkaitan dengan peristiwa penting, seperti daur hidup, pemuliaan bulan tertentu, hingga momentum religius.

Memperingati Isra Miraj pada bulan Rajab adalah bagian dari ‘memuliakan bulan’. Di dalamnya terdapat aturan waktu, tempat, keterlibatan warga, hingga jenis makanan yang disajikan secara khas. Dokumentasi budaya Sunda mencatat Rajaban biasanya digelar pada 27 Rajab malam, selepas salat Magrib. Upacara dipimpin tokoh agama dan diikuti seluruh anggota keluarga atau masyarakat.

Sajian yang dihadirkan mencerminkan nilai simbolik, seperti nasi tumpeng, seupan cau (pisang kukus), wajit, angleng, rengginang, serta minuman teh dan kopi. Nasi tumpeng disajikan dalam porsi besar sebagai pusat hidangan. Seluruh makanan tersebut disiapkan sebagai pengiring doa, kemudian disantap bersama tanpa pengecualian.

Berikut adalah lima menu botram yang hampir selalu hadir saat acara Rajaban di Jawa Barat:

Tak lengkap botram tanpa nasi liwet. Inilah menu utama yang paling identik dengan tradisi makan bersama di Jawa Barat. Nasi liwet menjadi pilihan karena cara memasaknya yang praktis. Beras dimasak bersama daun salam, serai, dan bawang hingga menghasilkan aroma gurih yang khas. Hidangan ini disajikan hangat di atas daun pisang untuk disantap ramai-ramai.

Di sebagian wilayah Sunda, menyembelih ayam adalah momen langka yang biasanya hanya dilakukan pada hari besar, termasuk saat menghormati bulan Rajab. Ayam bumbu kuning hampir selalu hadir dalam botram Rajaban. Menu ini dimasak sederhana agar mudah dibagi rata. Dalam konteks Isra Mi’raj, ayam melambangkan syukur dan kelimpahan rezeki.

Makan bersama terasa hambar tanpa sambal. Meski terkadang hanya menggunakan nasi kukus biasa, kehadiran sambal terasi dan sayuran segar seperti timun, kemangi, kol, dan terong rebus menjadi keistimewaan tersendiri. Sambal dan lalapan menjadi simbol kesederhanaan yang kaya rasa.

Menu botram Rajaban hampir selalu menyertakan tempe dan tahu goreng. Selain mudah disiapkan dalam jumlah besar, keduanya mencerminkan nilai kesederhanaan yang sejalan dengan semangat Isra Mi’raj. Menu ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak diukur dari kemewahan hidangan.

Di beberapa daerah, terutama pada peringatan berskala besar, nasi tumpeng kuning menjadi hidangan utama. Warna kuning pada tumpeng melambangkan harapan, kemakmuran, dan keberkahan. Setelah doa bersama, tumpeng dipotong dan dibagikan kepada jemaah, menyatu dalam suasana botram yang akrab.

Sejarah Ringkas Makan Bersama dalam Memuliakan Bulan di Jawa Barat

5 Menu Botram Saat Rajaban di Jawa Barat

1. Nasi Liwet

2. Ayam Goreng Bumbu Kuning

3. Sambal Terasi dan Lalapan Segar

4. Tempe dan Tahu Goreng

5. Nasi Tumpeng

Berikut adalah lima menu botram yang hampir selalu hadir saat acara Rajaban di Jawa Barat:

Tak lengkap botram tanpa nasi liwet. Inilah menu utama yang paling identik dengan tradisi makan bersama di Jawa Barat. Nasi liwet menjadi pilihan karena cara memasaknya yang praktis. Beras dimasak bersama daun salam, serai, dan bawang hingga menghasilkan aroma gurih yang khas. Hidangan ini disajikan hangat di atas daun pisang untuk disantap ramai-ramai.

Di sebagian wilayah Sunda, menyembelih ayam adalah momen langka yang biasanya hanya dilakukan pada hari besar, termasuk saat menghormati bulan Rajab. Ayam bumbu kuning hampir selalu hadir dalam botram Rajaban. Menu ini dimasak sederhana agar mudah dibagi rata. Dalam konteks Isra Mi’raj, ayam melambangkan syukur dan kelimpahan rezeki.

Makan bersama terasa hambar tanpa sambal. Meski terkadang hanya menggunakan nasi kukus biasa, kehadiran sambal terasi dan sayuran segar seperti timun, kemangi, kol, dan terong rebus menjadi keistimewaan tersendiri. Sambal dan lalapan menjadi simbol kesederhanaan yang kaya rasa.

Menu botram Rajaban hampir selalu menyertakan tempe dan tahu goreng. Selain mudah disiapkan dalam jumlah besar, keduanya mencerminkan nilai kesederhanaan yang sejalan dengan semangat Isra Mi’raj. Menu ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak diukur dari kemewahan hidangan.

Di beberapa daerah, terutama pada peringatan berskala besar, nasi tumpeng kuning menjadi hidangan utama. Warna kuning pada tumpeng melambangkan harapan, kemakmuran, dan keberkahan. Setelah doa bersama, tumpeng dipotong dan dibagikan kepada jemaah, menyatu dalam suasana botram yang akrab.

5 Menu Botram Saat Rajaban di Jawa Barat

1. Nasi Liwet

2. Ayam Goreng Bumbu Kuning

3. Sambal Terasi dan Lalapan Segar

4. Tempe dan Tahu Goreng

5. Nasi Tumpeng