Tombol Darurat di Alun-alun Bandung, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Posted on

Di salah satu sudut ramainya kawasan Palestine Walk atau Alun-alun Bandung, sebuah tiang dengan tombol darurat (Panic Button) hadir sebagai fasilitas garda depan keselamatan warga.

Ripal (21), seorang fotografer jalanan yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Palestine Walk, membenarkan klaim respons cepat ini. Menurutnya, alat tersebut berfungsi sangat baik dan petugas di seberang sana langsung merespons ketika tombol ditekan.

“Bagus sih. Ketika ditekan, saya langsung berbicara dengan petugas di sana, suaranya langsung keluar,” ujar Ripal saat ditemui di lokasi baru-baru ini.

Ripal menuturkan, sejauh pengamatannya, tombol tersebut lebih sering digunakan untuk penertiban umum dibandingkan penanganan kasus kriminalitas berat.

“Warga berkerumun di jalan, saya menekan tombol. Langsung ada respons. Petugas memberikan informasi lewat speaker agar tidak berkerumun di jalan atau memberi peringatan hati-hati copet,” tambahnya.

Meskipun perangkat ini dilengkapi CCTV tipe PTZ (Pan-Tilt-Zoom) dan diklaim didesain anti-vandalisme, ada potensi masalah desain yang disoroti Ripal yakni posisi tombol yang terlalu rendah.

Ripal menyayangkan seringnya perangkat penting ini dijadikan mainan oleh anak-anak yang berkunjung ke Alun-alun.

“Takutnya kan seperti kejadian sebelumnya, dimainkan sama anak. Karena kalau tingginya segini, masih tergapai. Makanya suka saya marahi,” ungkap Ripal.

Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi tinggi tiang tombol tersebut. “Kalau bisa agak tinggian sedikit, biar tidak dimainkan anak-anak. Orang dewasa rata-rata masih bisa menjangkau,” katanya.

Di sisi lain, keberadaan ‘Panic Button’ ternyata belum banyak diketahui oleh pengunjung, terutama wisatawan. Nadia (20), seorang pengunjung asal Bandung, mengaku baru mengetahui fungsi alat tersebut saat diwawancarai.

“Saya baru tahu juga. Tapi bagus, jika ada apa-apa kita mudah, tinggal tekan saja,” kata Nadia.

Nadia berharap inovasi-inovasi pelayanan publik seperti ini tidak hanya diperbanyak, tetapi juga dibarengi dengan sosialisasi yang masif agar tidak membingungkan warga saat keadaan darurat.

“Harapannya, ini lebih disosialisasikan lagi agar masyarakat yang lain juga mengetahui. Dengan begitu, mereka yang belum tahu menjadi sadar dan bisa menggunakannya saat dibutuhkan,” pungkasnya.

Saat ini, ‘Panic Button’ baru tersedia di dua titik strategis dengan mobilitas tinggi, yakni Taman Supratman dan Palestine Walk.

Fasilitas yang dihadirkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung ini dirancang sebagai bagian dari sistem Bandung Siaga 112 untuk respons cepat situasi darurat.

Kepala Diskominfo Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menjelaskan bahwa fasilitas ini memungkinkan komunikasi dua arah antara warga dan petugas.

“Panic Button ini berguna ketika terjadi hal mendesak di sekitar lokasi. Begitu tombol ditekan, sistem langsung terhubung ke Bandung Siaga 112 dan bisa dilakukan komunikasi dua arah serta terpantau melalui CCTV,” ujar Yayan, dikutip dari laman jabarprov.go.id.