Sosok Bersahaja dan Kenangan Terakhir Lansia Korban Penganiayaan

Posted on

Bendera kuning masih terpasang di sebuah gang sempit di Kampung Lio, RT 03 RW 01, Kelurahan Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Dua helai bendera terlihat jelas, satu terikat di gapura, satu lagi menggantung di lorong gang. Penanda itu bukan sekadar penunjuk arah, melainkan isyarat duka bagi warga sekitar.

Di balik gang itu, rumah Ade Dedi (62) berdiri dalam suasana sunyi. Lansia tersebut meninggal dunia setelah menjadi korban penganiayaan. Bendera kuning itu mengarahkan langkah sanak keluarga dan tetangga yang datang bertakziah, sekaligus menjadi saksi bisu peristiwa yang merenggut nyawa warga yang dikenal ramah dan bersahaja itu.

Ade tewas setelah dianiaya Dika Restu Wibowo (21), pemuda asal Depok. Peristiwa bermula saat korban ditegur, namun berujung pada kekerasan. Ade dipukul di bagian rahang hingga terjatuh, lalu diinjak di bagian dada dan leher, serta ditampar. Saat kejadian, pelaku diketahui dalam keadaan mabuk.

Ade sempat mendapatkan perawatan di RSUD Ujungberung. Namun nyawanya tak tertolong akibat pendarahan di bagian kepala.

infoJabar menyambangi rumah duka dan bertemu putri sulung almarhum, Tina (40), serta sang istri, Wati (60) pada Rabu (14/1/2026). Keduanya tengah sibuk mempersiapkan tahlilan keenam sejak kepergian Ade. Suasana rumah terasa hening, sesekali diselingi suara doa dan tamu yang datang bergantian.

Tina menunjukkan sebuah foto lama yang terpajang di ruang tamu. “Ini foto pernikahan adik saya, adik ketiga, bapak itu yang baju kuning,” kata Tina sambil menunjukan foto pernikahan adiknya.

Tina tidak banyak mengisahkan kronologi kejadian. Ia hanya menyebut, malam itu ayahnya mendatangi minimarket di jalan raya setelah mendapat laporan warga soal dugaan kejahatan. Ade, yang dikenal sebagai kepala keamanan kewilayahan di kampungnya, langsung bergegas ke lokasi meski sebelumnya sudah terlelap tidur.

Menurut Tina, ia juga tengah tidur saat peristiwa itu terjadi. Ia baru terbangun setelah warga datang memberi kabar bahwa ayahnya pingsan usai dipukul oleh pelaku.

Bagi keluarga, Ade bukan hanya kepala rumah tangga, tapi juga figur yang hangat dan murah hati. Tina mengenang ayahnya sebagai sosok yang sederhana, penuh kasih pada istri, anak, dan cucu-cucunya. Meski bekerja serabutan ulai dari buruh hingga calo jual beli kendaraan, Ade dikenal tidak pernah pelit berbagi rezeki.

Kenangan terakhir itu masih melekat kuat. Sepekan sebelum kejadian, keluarga besar sempat menghabiskan waktu bersama.

“Kita kan sempat hari Minggu terakhir kita pergi untuk piknik, semua, seluruh keluarga kita. Itu ke kolam renang,” kata Tina.

Tak hanya itu. Di rumah yang kini diselimuti duka itu, mereka juga sempat menikmati kebersamaan saat menyaksikan laga Persib Bandung.

“Masih nobar Persib di rumah disini, bareng-bareng. Kita juga nggak akan tahu bakal seperti ini, abah,” ungkapnya.

Air mata Tina kerap jatuh saat mengenang ayahnya. Di sampingnya, Wati lebih banyak diam, menahan kehilangan yang terlalu berat untuk diucapkan.

“Enggak ada yang nyangka. Tapi kan, kita hanya makhluk biasa. Allah yang menentukan segalanya, jalannya abah. Harus begini, kita hanya ikhlas,” tambah Tina.

Kebaikan Ade tercermin saat prosesi pemakaman. Tina menyebut, almarhum diantar oleh banyak orang menuju TPU di dekat Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Alhamdulillah, antusias, warga. Dari mulai abah ke rumah sakit, banyak yang doain, banyak yang datang. Sampai kemarin abah pulang pun, masya Allah, katanya cuma bisa, ya Allah, terharu. Bahkan, sampai saat ini, bapak lima hari aja, banyak yang datang, banyak yang doain, dari mulai materi dan apapun,” jelasnya.

“Masya Allah, sampai teteh berkata, alhamdulillah, pak, kebaikan bapak apa yang ditanamkan di alam dunia ini? Sampai-sampai kita merasa bangga punya sosok bapak,” tambahnya.

Meski tak pernah membayangkan sang ayah akan pergi meninggalkan istri, empat anak, dan lima cucu, Tina masih mengingat pesan hidup yang selalu ditanamkan Ade.

“Yang ditanamkan kepada anak-anaknya adalah satu, jangan pernah merugikan orang lain. Berbuat baiklah, dalam apapun berbuat baiklah. Karena abah orangnya begitu. Mau anak kecil, mau orang dewasa, mau sepantaranya, selalu menghormati abah. Karena abah itu tidak punya sifat angkuh. Abah memang orangnya tegas. Abah memang ngomongnya tegas. Tapi disayang sama semua. Merasa kehilangan semuanya juga,” pungkasnya.

Sosok Almarhum

Diantar Banyak Orang

Kebaikan Ade tercermin saat prosesi pemakaman. Tina menyebut, almarhum diantar oleh banyak orang menuju TPU di dekat Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Alhamdulillah, antusias, warga. Dari mulai abah ke rumah sakit, banyak yang doain, banyak yang datang. Sampai kemarin abah pulang pun, masya Allah, katanya cuma bisa, ya Allah, terharu. Bahkan, sampai saat ini, bapak lima hari aja, banyak yang datang, banyak yang doain, dari mulai materi dan apapun,” jelasnya.

“Masya Allah, sampai teteh berkata, alhamdulillah, pak, kebaikan bapak apa yang ditanamkan di alam dunia ini? Sampai-sampai kita merasa bangga punya sosok bapak,” tambahnya.

Meski tak pernah membayangkan sang ayah akan pergi meninggalkan istri, empat anak, dan lima cucu, Tina masih mengingat pesan hidup yang selalu ditanamkan Ade.

“Yang ditanamkan kepada anak-anaknya adalah satu, jangan pernah merugikan orang lain. Berbuat baiklah, dalam apapun berbuat baiklah. Karena abah orangnya begitu. Mau anak kecil, mau orang dewasa, mau sepantaranya, selalu menghormati abah. Karena abah itu tidak punya sifat angkuh. Abah memang orangnya tegas. Abah memang ngomongnya tegas. Tapi disayang sama semua. Merasa kehilangan semuanya juga,” pungkasnya.

Diantar Banyak Orang