Dikenal sebagai sentra penjualan kacamata di Bandung, Jalan ABC ternyata menyimpan sejarah panjang yang bermula dari lapak jam tangan bekas di pinggir jalan. Digitalisasi dan meningkatnya gangguan penglihatan akibat penggunaan gawai menjadi pemicu utama kawasan ini berubah menjadi pusat optik sejak tahun 2000-an.
Pada sekitar tahun 1970-an, Jalan ABC bukanlah sentra kacamata. Kawasan ini merupakan pusat perdagangan jam tangan sederhana yang dijajakan di pinggir jalan.
Amir, salah satu pedagang di kawasan Jalan ABC menceritakan, cara berdagang pada masa itu sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah seperti toko optik saat ini.
“Pertama mah ABC mah dari dulu teh sentra jam bekas. Dulu mah pakai kas kecil segini nih, pakai wadah apa, buat kemasan buah-buahan ya, kaya dipeti gitu” ujarnya kepada infoJabar belum lama ini.
Wadah kayu tersebut biasanya dialasi dengan kain lap bersih agar jam tangan tetap terawat, dan sistem pajang ini memudahkan pedagang untuk membereskan dagangan dengan cepat. Kawasan ini pun pada mulanya belum seramai sekarang. Aktivitas jual beli masih didominasi oleh para pedagang di pinggir jalan yang menawarkan berbagai jam tangan antik.
Transformasi mulai terlihat pada tahun 1980-an ketika kacamata mulai diperkenalkan sebagai barang dagangan di kawasan ini. Kacamata saat itu masih dianggap sebagai barang kebutuhan tersier yang belum memiliki banyak peminat seperti sekarang.
“Kacamata mulai tahun 80-an, tapi baru berapa orang itu juga yang jual. Dulu mah kan kebutuhan kacamata belum kayak sekarang. Pajangannya kayak koper yang dibikin dari triplek, dipajangin, ditutupin gitu” ungkap Amir.
Munculnya pedagang kacamata ini awalnya hanya bersifat sampingan, sementara jam tangan masih mendominasi. Para pembeli kacamata saat itu sangat terbatas dan belum menjadi tren fesyen seperti saat ini.
Puncak meningkatnya kebutuhan kacamata terjadi di tahun 2000-an dan semakin memuncak setelah tahun 2010. Amir menyebutkan, lonjakan popularitas kacamata beriringan dengan masuknya era digitalisasi di masyarakat.
Melonjaknya penggunaan komputer dan telepon seluler (HP) secara tidak langsung membuat banyak orang mengalami masalah penglihatan, sehingga permintaan kacamata melonjak tajam.
“Pas datang HP masuk ya ke kita, nah itu kan makin banyak orang yang butuh kacamata, rusak matanya, makin ke sini kacamata makin booming, (tahun) 2010-2012 ke sini lah” ujarnya.
Kondisi ini memicu munculnya optik-optik besar dengan modal kuat yang mulai mendirikan toko permanen. Secara bertahap, kacamata menggeser posisi jam tangan yang mulai kehilangan pamor akibat serbuan produk jam digital murah dari luar negeri.
Jalan ABC kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi sentra kacamata di Bandung. Para pedagang tradisional seperti Amir, yang telah berjualan sejak 1997, kini menghadapi tantangan baru, yaitu persaingan dengan toko online. Transparansi harga di internet membuat sistem tawar-menawar konvensional mulai ditinggalkan pembeli.
“Dulu mah ada aja tiap hari, sekarang boro-boro, pengin satu potong aja, pengin 100 ribu aja ya susah. Intinya mah itu, ada online,” ucap Amir.
Meskipun persaingan modal kian ketat, sejarah panjang Jalan ABC sebagai cikal bakal perdagangan kacamata di Bandung tetap melekat kuat pada deretan toko di sepanjang jalan itu.
Berawal dari Jam Tangan Bekas
Masuknya Komoditas Kacamata
Meningkatnya Popularitas Kacamata dan Bermulanya Era Digital









