Setiap hari, ribuan orang melintasi sejumlah jalan di Kota Bandung. Nama-nama berbeda terpampang di papan petunjuk jalan yang menjadi identitas dan pembeda kawasan tersebut.
Dalam kajian sejarah, nama jalan tidak hanya berfungsi sebagai penanda lokasi, melainkan sebagai medium simbolik. Sejarawan perkotaan, Anthony D. King menyebut penamaan ruang publik merupakan bagian dari politik representasi yang merupakan cara kekuasaan membingkai ingatan masyarakat terhadap masa lalu.
Jalan-jalan di Kota Bandung, seperti Jalan Asia Afrika, Ir. H Juanda, sampai Jalan L.L.R.E. Martadinata mungkin terdengar tidak asing. Namun, ternyata nama-nama itu sempat mengalami perubahan sebelum dikenal seperti sekarang.
Pada masa Hindia Belanda, penamaan jalan di Kota Bandung didominasi bahasa Belanda sebagai representasi fungsi administratif, militer, dan sosial kawasan tersebut.
Menurut sejarawan Haryoto Kunto dalam buku ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’, nama jalan pada masa kolonial sengaja dirancang untuk menegaskan segregasi ruang. Kawasan Eropa diberi nama yang ‘bersih’ dan formal, sementara kawasan pribumi tetap menggunakan nama lokal tanpa legitimasi administratif yang kuat.
Berikut adalah beberapa jalan yang mengalami perubahan:
Salah satu jalan yang namanya mengalami perubahan signifikan adalah Jalan Asia Afrika. Jalan ini awalnya merupakan bagian dari Groote Postweg, jalur pos yang dibangun atas perintah Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19 untuk kepentingan logistik kolonial.
Momentum Konferensi Asia Afrika tahun 1955 mengubah makna jalan tersebut. Pemerintah Indonesia mengabadikan peristiwa bersejarah itu menjadi nama Jalan Asia Afrika, menjadikannya simbol solidaritas negara-negara pascakolonial.
Jalan Ir. H. DJuanda secara administratif menggantikan nama Jalan Dago. Pada 1970, nama Jalan Ir. H. Djuanda mulai dipakai sebagai bentuk penghormatan kepada Ir. H Djuanda Kartawidjaja yang merupakan Perdana Menteri terakhir Indonesia yang terkenal dengan Deklarasi Djuanda.
Namun, hingga saat ini, nama Jalan Dago masih digunakan dan melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenomena ini memperlihatkan nama lokal seringkali bertahan karena memiliki ikatan emosional dan historis yang lebih dekat dengan pengalaman warga.
Pada masa kolonial, jalan ini dinamai Riau Straat, yang merujuk pada kebiasaan Belanda menggunakan nama wilayah jajahan sebagai penanda jalan. Setelah kemerdekaan, nama tersebut diganti menjadi Jalan L.L.R.E. Martadinata untuk menghormati pahlawan nasional dari angkatan laut.
Menurut arsip Pemerintahan Kota Bandung, perubahan nama ini merupakan bagian dari kebijakan nasionalisasi nama jalan pada era 1950-1960-an. Tujuannya jelas untuk menghapus simbol kolonial dan menggantinya dengan figur pejuang bangsa.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Perubahan nama Tjimindi Weg menjadi Jalan Sudirman serta penggunaan nama Jalan Merdeka menjadi cerminan semangat revolusi pasca kemerdekaan. Nama-nama tersebut dipilih untuk menanamkan nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Penamaan Jalan Merdeka merupakan strategi simbolik negara untuk memperkuat identitas nasional di ruang publik.
Itulah beberapa jalan yang mengalami perubahan nama. Perubahan nama-nama jalan tersebut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan cerminan sejarah, kekuasaan, dan identitas kota.
Jalan Asia Afrika
Jalan Ir. H. Djuanda
Jalan L.L.R.E. Martadinata
Jalan Sudirman dan Jalan Merdeka
Pada masa kolonial, jalan ini dinamai Riau Straat, yang merujuk pada kebiasaan Belanda menggunakan nama wilayah jajahan sebagai penanda jalan. Setelah kemerdekaan, nama tersebut diganti menjadi Jalan L.L.R.E. Martadinata untuk menghormati pahlawan nasional dari angkatan laut.
Menurut arsip Pemerintahan Kota Bandung, perubahan nama ini merupakan bagian dari kebijakan nasionalisasi nama jalan pada era 1950-1960-an. Tujuannya jelas untuk menghapus simbol kolonial dan menggantinya dengan figur pejuang bangsa.
Perubahan nama Tjimindi Weg menjadi Jalan Sudirman serta penggunaan nama Jalan Merdeka menjadi cerminan semangat revolusi pasca kemerdekaan. Nama-nama tersebut dipilih untuk menanamkan nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Penamaan Jalan Merdeka merupakan strategi simbolik negara untuk memperkuat identitas nasional di ruang publik.
Itulah beberapa jalan yang mengalami perubahan nama. Perubahan nama-nama jalan tersebut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan cerminan sejarah, kekuasaan, dan identitas kota.







