Kabar mengejutkan datang dari Kota Cimahi, setelah muncul soal kabar Hotel Tjimahi hendak dijual oleh pemiliknya. Hotel yang ada di pinggir Jalan Raya Amir Machmud itu merupakan bangunan bersejarah.
Kabar soal penjualan hotel yang berdiri sejak tahun 1927 silam itu muncul di media sosial. Salah satu akun TikTok mengunggah harga jual hotel yang dibangun di atas tanah seluas 3.254-an meter persegi itu senilai Rp35 miliar.
Hotel tersebut menjadi saksi sejarah perjalanan kemerdekaan bangsa serta perkembangan Kota Cimahi dari tahun ke tahun. Hotel Tjimahi didirikan oleh pasangan suami istri Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan suaminya seorang pria berkewarganegaraan Belanda, Veen.
Dulunya, Hotel Tjimahi merupakan sebuah villa dan kebun mawar tempat tinggal Nyi Fatimah dan Veen. Kemudian bangunan itu dijadikan pension. Barulah di tahun 1927, izin bangunan diubah menjadi hotel sekaligus menandai tahun berdirinya Hotel Tjimahi.
Kini hotel itu dikelola oleh cucu Nyi Rd Fatimah, yakni Theresia Gerungan Soetamanggala. Lantas apa alasan generasi ketiga itu memutuskan menjual Hotel Tjimahi?
“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya bahasa sundanya. Terus memang mungkin sudah waktunya, ya. Sudah waktunya saya melepas ini,” kata Theresia saat ditemui, Selasa (6/1/2026).
Ia menyebut selain karena cost operasional yang sudah tak sanggup ia bayar, penyebab lainnya yakni tak ada lagi anggota keluarga yang mau meneruskan mengelola hotel tersebut.
“Bayangkan, buat PBB saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena kan ini premium. Kemudian anak saya ada 3, itu enggak ada yang mau ngelanjutin juga. Mereka udah fokus di jalannya masing-masing, tapi semuanya di dunia selam. 2 sudah jadi instruktur, 1 lagi nyusul,” kata Theresia.
Kesulitannya menjalankan roda pengelolaan hotel yang kini berusia 99 tahun itu sangat dirasakan saat pandemi COVID-19 melanda. Hotel dipaksa tutup namun ia berusaha tak memangkas pegawainya yang sudah lama mengabdi.
“Jadi waktu pandemi COVID-19 itu enggak ada yang saya rumahkan, padahal kan hotel tutup. Kemudian enggak ada bantuan dari pemerintah, kan misalnya ada diskon PBB, seperti teman saya di Tangerang itu dapat potongan 30 persen. Waktu saya ke pemkot, malah didenda. Ya nangis saya,” kata Theresia.
Banyak yang berharap hotel bersejarah itu tak dijual, pun demikian dengan Theresia. Jika memang akhirnya berganti kepemilikan, Theresia berharap rumah masa kecilnya itu tak dirombak besar-besaran bahkan dipertahankan bentuk dan fungsinya.
“Jujur saya berat, perlu waktu sekitar 6 tahun saya bergelut untuk menjual hotel atau enggak. Cuma akhirnya sekarang saya sudah ikhlas, cuma ada harapan hotel enggak berubah bangunannya. Atau barangkali ada investor yang mau bantu saya, saya sangat terbuka dengan segala opsi,” kata Theresia.







