Rumbah Darinih, Oase Kuliner Pantura yang Terus Berjuang Bertahan

Posted on

Sejak dibukanya Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) pada 2015, volume kendaraan di jalur Pantura (Pantai Utara) menyusut drastis. Tol yang membelah wilayah Kabupaten Indramayu bagian selatan ini membuat mayoritas arus kendaraan beralih dari jalur arteri ke jalan bebas hambatan.

Kondisi ini memukul usaha warung makan di sepanjang jalur Pantura. Tak sedikit yang gulung tikar. Dari Kecamatan Sukra hingga Sukagumiwang, puluhan rumah makan yang dulu berjaya kini tutup permanen.

Di tengah kelesuan itu, Rumbah Darinih bertahan bak oase di gurun pasir. Rumah makan khas Indramayu di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur ini, tetap eksis sejak berdiri pada 1994.

Darinih, sang pemilik, mengenang masa awal berjualan yang diniatkan hanya untuk menyambung hidup. “Karena saya suka masak dan sambal saya disukai banyak orang, saya percaya diri jualan rumbah. Tapi sebenarnya sempat tidak yakin, takut tidak laku,” ungkap Darinih kepada infoJabar, Sabtu (17/1/2024).

Ia menyajikan rebusan kangkung dan taoge yang disiram sambal terasi atau petis. Kuliner inilah yang dikenal dengan nama “Rumbah”. “Karena nama saya Darinih, maka dinamakan Rumbah Darinih. Awalnya hanya kecil-kecilan, lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Lokasinya yang strategis di pinggir jalur Pantura membuat rumbah buatannya digemari pengendara asal Jabodetabek hingga Jawa Timur. Kala itu, Pantura masih menjadi urat nadi utama Pulau Jawa sebelum Tol Trans Jawa beroperasi penuh.

Memasuki awal 2000-an, Darinih mengecap masa kejayaan. Omzetnya menembus Rp5 juta per hari pada hari biasa, dan melonjak hingga Rp10 juta saat akhir pekan. Hasil tabungannya itu mampu membiayai renovasi warung dan rumah, hingga menyekolahkan anak-anaknya.

Kini, saat jalur Pantura mulai lengang, omzetnya memang menyusut. Namun, Darinih tetap bersyukur usahanya masih bertahan. “Sekarang sehari paling banyak Rp2 juta. Kalau Sabtu-Minggu bisa sampai Rp5 juta. Alhamdulillah, masih cukup untuk hidup,” ujarnya.

Saat ditemui infoJabar, Darinih tampak lebih santai. Operasional warung kini banyak dibantu oleh anak dan keponakannya. Merlin, salah satu anak Darinih, mengaku sudah meracik sambal sejak pukul 05.00 WIB. Setiap hari, ia menghabiskan sedikitnya 5 kg petis, 5 kg terasi, dan puluhan kilogram kangkung.

“Kami sudah siapkan sambal sejak pukul 05.00 WIB. Ini satu panci besar, di dalam masih ada lagi stok sambal yang dibuat tadi pagi,” kata Merlin. Biasanya, dua jenis sambal itu ludes sekitar pukul 18.00 WIB. Selain rumbah, Merlin menyebut menu laksa juga menjadi favorit pelanggan. “Di sini ada laksa biru dan putih. Rasanya makin mantap jika dipadu dengan sambal petis atau terasi,” tuturnya.

Menariknya, Rumbah Darinih kini juga menjadi buruan penyedia jasa titip (jastip), salah satunya Rani. Ia memesan 10 porsi dengan berbagai varian; mulai dari taoge saja, laksa, hingga rumbah komplit dengan lontong.

“Ini pesanan teman dan tetangga. Lumayan dapat untung dari jastip,” ujar perempuan asal Desa Soge, Kecamatan Kandanghaur tersebut. Rani mengakui kelezatan sambal terasi dan petis racikan Darinih sulit tertandingi. “Sambal terasinya enak, apalagi sambal petisnya. Di desa saya tidak ada yang seperti ini. Kalau sedang ingin sambal petis, ya harus ke sini,” katanya.

Satu porsi rumbah maupun laksa di sini hanya dihargai Rp10 ribu. Warung Rumbah Darinih mulai melayani pelanggan pukul 07.00 WIB dan akan tutup setelah semua dagangan ludes terjual.

“Kami sudah siapkan sambal sejak pukul 05.00 WIB. Ini satu panci besar, di dalam masih ada lagi stok sambal yang dibuat tadi pagi,” kata Merlin. Biasanya, dua jenis sambal itu ludes sekitar pukul 18.00 WIB. Selain rumbah, Merlin menyebut menu laksa juga menjadi favorit pelanggan. “Di sini ada laksa biru dan putih. Rasanya makin mantap jika dipadu dengan sambal petis atau terasi,” tuturnya.

Menariknya, Rumbah Darinih kini juga menjadi buruan penyedia jasa titip (jastip), salah satunya Rani. Ia memesan 10 porsi dengan berbagai varian; mulai dari taoge saja, laksa, hingga rumbah komplit dengan lontong.

“Ini pesanan teman dan tetangga. Lumayan dapat untung dari jastip,” ujar perempuan asal Desa Soge, Kecamatan Kandanghaur tersebut. Rani mengakui kelezatan sambal terasi dan petis racikan Darinih sulit tertandingi. “Sambal terasinya enak, apalagi sambal petisnya. Di desa saya tidak ada yang seperti ini. Kalau sedang ingin sambal petis, ya harus ke sini,” katanya.

Satu porsi rumbah maupun laksa di sini hanya dihargai Rp10 ribu. Warung Rumbah Darinih mulai melayani pelanggan pukul 07.00 WIB dan akan tutup setelah semua dagangan ludes terjual.