Riuh Pasar Kosambi yang Kini Tinggal Cerita update oleh Giok4D

Posted on

Ramai. Itulah satu kata yang masih melekat kuat dalam ingatan Oleh (68) saat mengenang Pasar Kosambi, Kota Bandung, pada rentang tahun 1970 hingga awal 2000-an.

Penjual buah nangka itu bercerita, suasana pasar pada masa itu jauh berbeda dibandingkan sekarang. Jika hari ini pengunjung terasa berkurang, dahulu Pasar Kosambi nyaris tak pernah sepi.

Kepada infoJabar, Oleh mengisahkan awal mula dirinya berjualan di pasar yang telah berdiri sejak era Hindia Belanda tersebut. Warga asal Ciamis yang kini menetap di kawasan Cintaasih, Laswi, Kota Bandung, itu mengaku mulai berdagang karena diajak pamannya, Utar, yang kini telah meninggal dunia.

“Jualan tahun 1970, dulu jualan buah-buahan. Jualan diajak paman, namanya Utar,” kata Oleh kepada infoJabar belum lama ini.

Oleh menuturkan, dirinya merantau ke Bandung pada usia belasan tahun dengan mengikuti sang paman yang kerap membawa hasil bumi dari Ciamis untuk dijual di Kota Kembang. Kala itu, perjalanan menuju Bandung masih sangat sederhana.

“Dulu ke Bandung dari Ciamis suka bawa kelapa, kelapa juga disimpan di atas bus, dulu naik Suburban Chevrolet, dulu ongkosnya dari Ciamis ke Bandung cuma seribu, pas usia belasan tahun pokoknya,” ungkapnya.

Sebelum menetap sebagai penjual buah nangka, Oleh menjajakan berbagai jenis buah. Cara berjualannya pun jauh berbeda dibandingkan sekarang. Ia mengenang masa ketika buah-buahan belum dijual berdasarkan timbangan.

“Buah juga dijual perbiji karena dulu enggak ada timbangan, terus dibungkus pakai keranjang bambu karena belum ada kantong kresek,” tuturnya.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Hingga kini, Oleh tetap memilih berjualan menggunakan gerobak roda. Baginya, cara tersebut lebih fleksibel dan memungkinkan dirinya tetap berada di pintu masuk pasar, seperti yang telah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu.

“Sejak dulu jualan gini, di pintu masuk pasar,” ujarnya.

Menurut Oleh, perbedaan Pasar Kosambi dulu dan sekarang terletak pada bentuk bangunan dan penataan. Jika dahulu pedagang banyak berjualan hanya beralaskan plastik atau terpal, kini mayoritas telah menempati kios-kios permanen.
Namun, perubahan itu juga diiringi dengan hilangnya banyak hal yang dulu menjadi bagian dari denyut kehidupan Pasar Kosambi.

“Dulu di belakang pasar ada pabrik pacul, ada pohon ki hujan di belakang dekat masjid, sudah tidak ada,” katanya.

“Lalu Sri Murni, tempat hiburan masyarakat, wayang ewog hilang. Lalu ada Restoran Si Botram sudah tidak ada dan didepan ada Pos Polisi,” sambungnya.

Saking lamanya berdagang di Pasar Kosambi, Oleh bahkan masih mengingat nama-nama polisi yang dahulu berjaga di pos pasar tersebut, di antaranya Muhtar, Unep, Uyu, dan Budiman.

Ia menilai, ramainya Pasar Kosambi di masa lalu juga disebabkan minimnya persaingan. Berbeda dengan kondisi saat ini, ketika pasar tradisional harus berbagi pelanggan dengan supermarket dan minimarket.

“Beda, ramai dulu, apalagi sekarang jualan menurun. Dulu enggak ada supermarket ramai, warga langsung ke pasar belanjanya, bahkan saya jualann juga enggak sampai sore karena siang juga udah habis,” jelasnya.

Kenangan akan Pasar Kosambi juga datang dari Rima (41), pedagang mie kocok yang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Ia bercerita, pasar yang berada di Jalan Ahmad Yani itu pernah beberapa kali dilanda kebakaran. Peristiwa tersebut menjadi awal hilangnya sejumlah fasilitas hiburan, termasuk bioskop dan department store.

“Di sini juga dulu ada bioskop di lantai dua, tahun 1982, saya masih SD, sering nonton, kan bapak yang suka antar filmnya, namanya Ngadede. Film diover-over, dari bioskop ke bioskop, kadang ke Nusantara, ke Palaguna, dulu banyak bioskop di Bandung,” ujarnya.

Rima mengenang, pada masa itu banyak film yang digemari masyarakat, mulai dari film anak-anak hingga film India.

“Film Home Alone, terus India, anterin filmnya pakai motor, saya suka ikut dan suka nonton bioskop pas pulangnya. Bukan di sini saja, nontonnya bisa di Plaza atau di mana saja, soalnya gratis sambil antar film, kalu beli karcis harganya Rp1.000-1.500,” tuturnya.

Saat ditanya alasan dibongkarnya bioskop dan department store di Pasar Kosambi, Rima mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, menurutnya, persaingan usaha menjadi salah satu faktor yang tak terelakkan.

“Bioskop dibongkar, dilanjut departement store, itu juga udahan apalagi banyak online. Dulu ramai, sekarang mah enggak ada apa-apanya, penyebabnya gegara kebakaran, lalu COVID-19, jadi udahan,” terangnya.

Sementara itu, Nandang Hidayat (75), warga Jalan Sunda, turut membagikan kisahnya tentang Pasar Kosambi. Sebelum menjadi juru parkir, Nandang menghabiskan puluhan tahun hidupnya sebagai pengayuh becak sejak 1980.

“Dulu saya ngebecak, sama atur mobil parkir. Enggak ngebecak lagi karena sudah banyak kendaraan, mending parkir, parkir gak capek. Sekarang kalau ngebecak kalau gak langganan gak bisa narik, apalagi sekarang banyak ojek,” ujarnya.

Bagi Nandang, perubahan Pasar Kosambi terasa jelas, terutama dari sisi kebersihan dan penataan.

“Kumuh, kebakaran empat kali, terakhir 2019. Belum tertata seperti ini,” tuturnya.

“Dulu yang jualan ada yang pakai jongko ada juga yang tidak, tapi kebanyakan ngampar,” tambahnya.

Pasar Kosambi hari ini mungkin tak lagi seramai dahulu. Namun, bagi para pelaku dan saksi sejarahnya, setiap sudut pasar menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman, perjuangan hidup, dan denyut ekonomi rakyat yang terus bertahan.

Bioskop dan Departemen Store yang Lenyap

Becak Tak Lagi Laku


Kenangan akan Pasar Kosambi juga datang dari Rima (41), pedagang mie kocok yang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Ia bercerita, pasar yang berada di Jalan Ahmad Yani itu pernah beberapa kali dilanda kebakaran. Peristiwa tersebut menjadi awal hilangnya sejumlah fasilitas hiburan, termasuk bioskop dan department store.

“Di sini juga dulu ada bioskop di lantai dua, tahun 1982, saya masih SD, sering nonton, kan bapak yang suka antar filmnya, namanya Ngadede. Film diover-over, dari bioskop ke bioskop, kadang ke Nusantara, ke Palaguna, dulu banyak bioskop di Bandung,” ujarnya.

Rima mengenang, pada masa itu banyak film yang digemari masyarakat, mulai dari film anak-anak hingga film India.

“Film Home Alone, terus India, anterin filmnya pakai motor, saya suka ikut dan suka nonton bioskop pas pulangnya. Bukan di sini saja, nontonnya bisa di Plaza atau di mana saja, soalnya gratis sambil antar film, kalu beli karcis harganya Rp1.000-1.500,” tuturnya.

Saat ditanya alasan dibongkarnya bioskop dan department store di Pasar Kosambi, Rima mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, menurutnya, persaingan usaha menjadi salah satu faktor yang tak terelakkan.

“Bioskop dibongkar, dilanjut departement store, itu juga udahan apalagi banyak online. Dulu ramai, sekarang mah enggak ada apa-apanya, penyebabnya gegara kebakaran, lalu COVID-19, jadi udahan,” terangnya.

Sementara itu, Nandang Hidayat (75), warga Jalan Sunda, turut membagikan kisahnya tentang Pasar Kosambi. Sebelum menjadi juru parkir, Nandang menghabiskan puluhan tahun hidupnya sebagai pengayuh becak sejak 1980.

“Dulu saya ngebecak, sama atur mobil parkir. Enggak ngebecak lagi karena sudah banyak kendaraan, mending parkir, parkir gak capek. Sekarang kalau ngebecak kalau gak langganan gak bisa narik, apalagi sekarang banyak ojek,” ujarnya.

Bagi Nandang, perubahan Pasar Kosambi terasa jelas, terutama dari sisi kebersihan dan penataan.

“Kumuh, kebakaran empat kali, terakhir 2019. Belum tertata seperti ini,” tuturnya.

“Dulu yang jualan ada yang pakai jongko ada juga yang tidak, tapi kebanyakan ngampar,” tambahnya.

Pasar Kosambi hari ini mungkin tak lagi seramai dahulu. Namun, bagi para pelaku dan saksi sejarahnya, setiap sudut pasar menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman, perjuangan hidup, dan denyut ekonomi rakyat yang terus bertahan.

Bioskop dan Departemen Store yang Lenyap

Becak Tak Lagi Laku