Peneliti memecahkan misteri penyebab kematian mumi berusia 1.100 tahun. Ternyata, ada kaitannya dengan aktivitas penambangan abtu pirus.
Mereka mengungkapkan, mumi seorang pria ini kemungkinan meninggal dalam kecelakaan penambahan Pirus (mineral berharga berwarna toska) di Chili.
Menurut sebuah studi, bukti trauma akibat benturan benda tumpul yang ditemukan pada kerangka pria tersebut menunjukkan, ia meninggal karena longsoran batu atau runtuhan tambang, dilansir Live Science, Minggu (10/1/2026).
Jenazah pria ini mengalami mumifikasi secara alami, bersama dengan barang-barang seperti busur dan anak panah, serta perlengkapan untuk menghisap obat-obatan halusinogen. Mumifikasi adalah proses pengawetan jenazah dengan mengeringkan jaringan tubuh untuk mencegah pembusukan, yang biasanya dilakukan sengaja dengan membalsemnya.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 15 Desember di International Journal of Osteoarchaeology, Catalina Morales dan Francisco Garrido, arkeolog di Museum Nasional Sejarah Alam di Santiago, Chili, menggunakan pemindaian CT dan pencitraan sinar-X untuk mengungkap detail rumit dari trauma yang dialami pria tersebut.
Dari analisis yang dilakukan para peneliti, mereka menemukan pria itu berusia antara 25 hingga 40 tahun ketika meninggal. Mereka juga melakukan penanggalan radiokarbon, metode ilmiah untuk menentukan usia bahan organik. Hasil pengujiannya mengungkapkan mumi tersebut berasal dari tahun 894 – 1016 M.
Beberapa patah tulang yang belum sembuh terlihat jelas di tulang belakang bagian atas mumi pria berusia 1.100 tahun ini. Ia juga mengalami patah tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang selangka, yang menunjukkan adanya benturan terhadap benda tumpul.
“Bagian dada kiri atasnya menanggung dampak terberat,” tulis Morales dan Garrido dalam penelitian. Benturan tersebut menggeser beberapa ruas tulang belakangnya dan menyebabkan tulang rusuknya runtuh.
Selain itu, para peneliti mengidentifikasi adanya retakan pada tulang belakang di dekat pangkal tulang punggungnya, yang kemungkinan akibat dari cedera punggung atas sebelumnya. Mereka juga menyinggung, cedera tulang belakang bagian atas dan bawah biasanya dikaitkan dengan kerusakan sumsum tulang belakang yang parah, dengan angka kematian tinggi.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Dengan mempertimbangkan konteks arkeologis, individu ini kemungkinan meninggal saat menambang batu pirus, ketika sebuah batu jatuh menimpa punggungnya dari langit-langit tambang. Tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami kondisi kehidupan para penambang kuno,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di
