Lubang kecil yang terletak di kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon mendadak viral. Isu yang beredar, lubang itu berbentuk persegi itu dinarasikan sebagai ‘jalan’ Sunan Gunung Jati menuju Mekkah. Benarkah demikian ?
Juru Kunci Komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati Cirebon, Nasirudin menegaskan, cerita tentang lorong gaib yang tembus ke Mekkah sama sekali tidak benar.
“Ini yang kemarin viral itu sebenarnya salah total. Cerita bahwa tempat itu tembus ke Mekkah, atau seperti lorong gaib, itu tidak benar,” ujar Nasirudin, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Nasirudin, informasi keliru tersebut dipicu oleh penjelasan seorang pemandu ziarah yang belum berkompeten dan belum memahami sejarah secara utuh.
“Yang memviralkan itu seorang pemandu ziarah yang memang baru belajar. Karena itu saya mengimbau kepada para peziarah, carilah pemandu yang memang kompeten, petugas resmi kami yang memakai pakaian adat. Tanyakan langsung kepada juru kunci supaya sejarahnya tidak viral dalam arti salah,” katanya.
Sebagai Jeneng atau Juru Kunci Astana Gunung Jati, Nasirudin menegaskan bahwa petugas resmi di kawasan makam selalu siaga selama 24 jam untuk memberikan penjelasan yang benar kepada para peziarah. Ia juga meluruskan pemahaman tentang istilah Puser Bumi yang kerap dikaitkan dengan lokasi lubang tersebut.
“Yang dinamakan Puser Bumi itu bukan pusat dunia. Itu hanya titik nol dari perbukitan yang ada di Astana Gunung Jati. Jadi bukan Puser Bumi yang isinya dunia, apalagi lorong ke Mekkah,” jelas juru kunci yang membawahi 121 pengurus makam tersebut.
Lebih lanjut, Nasirudin menegaskan bahwa para Wali tidak pernah mengajarkan hal-hal yang berada di luar nalar manusia.
“Wali itu bersyariat. Hakikat, tarekat, dan makrifat itu urusan pribadi masing-masing. Tetapi Wali tidak mengajarkan sesuatu yang di luar akal manusia,” tegasnya.
Ia menjelaskan, lokasi yang kini ramai diperbincangkan sejatinya merupakan tempat spiritual yang memiliki fungsi berbeda dari klaim yang berkembang di media sosial.
“Tempat itu adalah tempat munajat, tempat istikamah, tempat beliau untuk mengingat kepada Yang Maha Kuasa. Tujuannya untuk mendapatkan ketenangan batin, bukan sebagai lorong menuju Mekkah,” ujarnya.
Nasirudin kembali menegaskan bahwa cerita tentang lubang tembus Mekkah merupakan kesalahan besar yang harus diluruskan.
“Tidak benar bahwa Puser Bumi ini adalah lorong menuju Mekkah. Itu salah besar, karena Wali tidak mengajarkan seperti itu,” katanya.
Sebelumnya, sebuah video yang diunggah akun Instagram @reset.feeds memperlihatkan sebuah lubang berpagar besi di kawasan pemakaman Sunan Gunung Jati. Dalam rekaman tersebut, kamera menyorot lubang berbentuk persegi dengan perkiraan diameter sekitar satu meter.
Lubang itu dibatasi pagar besi berwarna merah di setiap sudutnya, menandakan area tersebut tidak boleh dimasuki. Di dalamnya tampak tumpukan batu alam berukuran besar, dengan beberapa bunga tabur di atasnya. Tak jauh dari lokasi, terlihat pula sebuah kotak amal berwarna hijau.
Dalam video tersebut, seorang pria berbaju batik dan berpeci yang belakangan diketahui sebagai pemandu ziarah memberikan penjelasan kepada pengunjung. Melalui narasi suara dan teks, ia menyebut lubang itu sebagai “jalan menuju Mekkah” yang dahulu digunakan Sunan Gunung Jati.
Kerumunan peziarah terlihat antusias, mengangkat ponsel untuk mengabadikan lokasi yang sarat cerita itu.
Meski viral, tidak semua peziarah menelan cerita tersebut mentah-mentah. Haryadi (49), warga Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, mengaku bersikap di tengah antara percaya dan tidak.
“Kalau dibilang percaya atau tidak, ya percaya atau tidak. Karena zaman dulu para Wali juga punya ilmu yang lebih tinggi. Bisa saja seperti itu. Tapi sekarang kan zaman sudah modern, jadi masih abu-abu,” ujarnya.
Menurutnya, secara logika sulit membayangkan lubang yang sempit bisa menjadi jalur menuju Mekkah.
“Ruang segitu dan tembusnya ke mana, kita juga nggak tahu. Apakah itu hanya lubang biasa atau saluran air, kita juga nggak tahu,” katanya.
Meski demikian, ia tetap menghormati kepercayaan yang berkembang di masyarakat. “Kalau zaman dulu, para Wali itu ilmunya sangat tinggi. Jadi kembali ke masing-masing manusianya, percaya atau tidak,” pungkasnya.
Diviralkan Pemandu Tak Kompeten

Meski viral, tidak semua peziarah menelan cerita tersebut mentah-mentah. Haryadi (49), warga Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, mengaku bersikap di tengah antara percaya dan tidak.
“Kalau dibilang percaya atau tidak, ya percaya atau tidak. Karena zaman dulu para Wali juga punya ilmu yang lebih tinggi. Bisa saja seperti itu. Tapi sekarang kan zaman sudah modern, jadi masih abu-abu,” ujarnya.
Menurutnya, secara logika sulit membayangkan lubang yang sempit bisa menjadi jalur menuju Mekkah.
“Ruang segitu dan tembusnya ke mana, kita juga nggak tahu. Apakah itu hanya lubang biasa atau saluran air, kita juga nggak tahu,” katanya.
Meski demikian, ia tetap menghormati kepercayaan yang berkembang di masyarakat. “Kalau zaman dulu, para Wali itu ilmunya sangat tinggi. Jadi kembali ke masing-masing manusianya, percaya atau tidak,” pungkasnya.







