Masalah hormon testosteron bukan hanya monopoli orang dewasa. Ketidakseimbangan hormon akibat gaya hidup dan pola makan juga mengintai anak-anak serta remaja, terutama pada masa pertumbuhan dan pubertas.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pakar Andrologi Wimpie Pangkahila mengungkapkan pengalamannya menangani kasus mikropenis pada remaja akibat rendahnya kadar testosteron. Dalam sebuah kasus, gangguan hormon yang disertai obesitas menyebabkan organ reproduksi pasien tidak berkembang normal.
“Pasien umur 17 tahun, ukuran penis kurang dari 1 sentimeter karena hormonnya rendah. Setelah mendapatkan pengobatan, ukuran penisnya menjadi 3 sentimeter, namun testisnya tetap tidak berubah,” ungkap Wimpie.
Menurut Wimpie, rendahnya testosteron di usia muda dipicu berbagai faktor, mulai dari paparan lingkungan hingga pola makan tidak seimbang. Pada anak obesitas, timbunan lemak di perut bawah (pubis) sering kali menutupi penis sehingga tampak kecil atau terpendam, kondisi ini dikenal sebagai buried penis.
Secara medis, jaringan lemak berlebih pada laki-laki dapat mengonversi hormon testosteron menjadi estrogen. Proses ini menghambat pematangan organ reproduksi selama pubertas. Tanpa kadar testosteron yang memadai, fungsi reproduksi tidak akan berkembang optimal dan berisiko memicu gangguan kesuburan saat dewasa.
“Terapi hormon pada penderita mikropenis yang baru dilakukan saat dewasa berisiko memicu kemandulan. Hal ini karena terapi testosteron hanya berdampak pada pembesaran penis, sementara fungsi testisnya sudah tidak bisa berkembang lagi,” imbuh Prof. Wimpie.
Untuk mencegah keterlambatan penanganan, orang tua wajib memahami standar medis ukuran organ reproduksi anak. Berdasarkan panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mikropenis didefinisikan sebagai panjang penis di bawah -2,5 standar deviasi dari rata-rata ukuran normal sesuai usia.
Sebagai acuan, bayi cukup bulan memiliki rata-rata panjang penis sekitar 3,5 cm, dengan batas bawah mikropenis 2,5 cm. Pada usia 1 hingga 2 tahun, panjang rata-rata mencapai 4,7 cm dengan batas bawah 3,5 cm. Sementara itu, anak usia 5 hingga 6 tahun umumnya memiliki panjang penis sekitar 6 cm. Orang tua perlu waspada jika pada usia tersebut panjang penis anak kurang dari 4,3 cm.
Wimpie menekankan pentingnya peran orang tua dalam memantau perkembangan organ intim anak laki-laki sejak dini melalui pemeriksaan rutin.
“Ukuran testis dan penis anak laki-laki harus diperiksa. Sebaiknya saat usia 5 tahun sudah dicek,” tandasnya.
Artikel ini telah tayang di .
