Seorang peneliti asal Jepang meneliti kemungkinan manusia menyerap oksigen melalui saluran pencernaan, tepatnya lewat rektum. Penelitian ini dipimpin oleh Takanori Takebe, dokter sekaligus ahli biologi sel punca yang selama ini dikenal mengembangkan organ hati buatan di laboratorium untuk menangani gagal organ.
Ketertarikan Takebe pada konsep “pernapasan alternatif” berawal dari pengalaman pribadi. Beberapa tahun lalu, ayahnya menderita pneumonia dan harus menjalani perawatan dengan ventilator.
“Saya benar-benar terkejut betapa invasifnya prosedur ini,” kata Takabe, dari dari Cincinnati Children’s Hospital Medical Center di Ohio dan Osaka University di Jepang, dikutip dari Science News.
Kekhawatiran Takebe semakin besar karena ayahnya sebelumnya pernah menjalani pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi. Kondisi tersebut mendorongnya mempertanyakan kemungkinan lain untuk membantu pasien memperoleh oksigen tanpa sepenuhnya bergantung pada fungsi paru-paru.
Inspirasi muncul ketika seorang mahasiswa pascasarjana membawa buku ke laboratoriumnya. Buku itu menjelaskan cara sejumlah hewan memperoleh oksigen melalui kulit, alat kelamin, atau usus. Beberapa ikan air tawar, seperti loach, diketahui menelan udara untuk bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.
Dengan latar belakang gastroenterologi, Takebe memahami bahwa usus manusia memiliki jaringan pembuluh darah yang sangat kaya. Kondisi ini memungkinkan obat yang diberikan melalui enema langsung masuk ke aliran darah. Dari pemahaman tersebut, Takebe menduga oksigen juga berpotensi diserap melalui jalur yang sama.
Berdasarkan gagasan itu, Takebe dan timnya mengembangkan metode perawatan mirip enema dengan memasukkan cairan bernama perfluorodecalin ke dalam rektum. Cairan ini telah digunakan dalam sejumlah prosedur medis dan memiliki kemampuan mengikat oksigen. Saat melepaskan oksigen ke dalam tubuh, struktur kimia cairan tersebut membuka ruang untuk menyerap karbon dioksida yang dikeluarkan tubuh.
Uji coba pada hewan menunjukkan hasil awal yang menjanjikan. Dalam eksperimen terhadap tikus dan babi, enema berisi perfluorodecalin kaya oksigen membantu hewan bertahan hidup dalam kondisi kekurangan oksigen. Pada babi, pemberian dosis 400 mililiter mampu meningkatkan kadar oksigen darah selama sekitar 19 menit.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Med pada 2021. Uji lanjutan yang dilakukan pada 2023 menunjukkan efek peningkatan oksigen darah dapat bertahan hingga sekitar 30 menit.
Takebe mengingat secara jelas perubahan yang terjadi selama uji coba tersebut. Darah babi yang semula tampak gelap berubah menjadi merah cerah setelah terapi diberikan. Perubahan itu menjadi indikator kuat bahwa metode yang terkesan tidak lazim tersebut memang bekerja.
“Itu adalah momen pencerahan saya,” katanya lagi.
Pada 2024, penelitian ini meraih Ig Nobel Prize, penghargaan yang diberikan kepada riset yang awalnya mengundang tawa, tetapi kemudian memicu pemikiran ilmiah yang serius.
“Terima kasih banyak karena telah percaya pada potensi anus,” kata Takebe saat menerima penghargaan tersebut sambil mengenakan topi berbentuk ikan loach.
Tahap berikutnya, tim peneliti menguji keamanan metode ini pada manusia. Sebanyak 27 pria sehat di Jepang menerima perfluorodecalin tanpa oksigen melalui rektum dan diminta menahannya selama satu jam. Dosis terendah yang diberikan sebesar 25 mililiter, sementara dosis tertinggi mencapai 1,5 liter, sesuai batas maksimum cairan kontras yang diizinkan untuk pemeriksaan saluran pencernaan.
Empat dari enam peserta yang menerima dosis 1,5 liter menghentikan prosedur lebih awal karena mengalami nyeri perut. Sementara itu, sebagian besar peserta yang menerima hingga 1 liter hanya melaporkan kembung dan ketidaknyamanan ringan. Temuan ini dilaporkan dalam edisi 12 Desember jurnal Med. Penelitian tersebut mendapat pendanaan dari EVA Therapeutics, perusahaan rintisan yang turut didirikan Takebe.
Uji klinis selanjutnya akan menilai kemampuan perfluorodecalin yang diperkaya oksigen dalam meningkatkan kadar oksigen darah manusia. Meski demikian, pendekatan ini memunculkan beragam tanggapan dari kalangan medis.
Salah satu pihak yang menyatakan sikap skeptis adalah John Laffey, dokter sekaligus peneliti gangguan pernapasan akut dari University of Galway, Irlandia. Ia menilai upaya medis seharusnya difokuskan pada pengobatan yang mendukung fungsi paru-paru.
“Paru-paru, bahkan paru-paru yang cedera, akan selalu melakukan pertukaran gas jauh lebih baik daripada organ lain mana pun, karena memang itulah fungsinya,” kata John Laffey.
Artikel ini telah tayang di .
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.







