Pasar Antik Cikapundung: Surga Barang Vintage di Bandung

Posted on

Di Jalan ABC tepatnya di Cikapundung Barat yang terkenal dengan deretan pedagang stempel dan elektronik, terdapat sebuah tempat tersembunyi yang menawarkan pengalaman menarik.

Sebuah ruang di lantai tiga Gedung Cikapundung Electronic Center yang kini dikenal sebagai Pasar Antik Cikapundung. Tempat ini bukan sekadar pusat jual beli barang bekas yang menyimpan ribuan cerita melalui benda-benda vintage.

Suasana berbeda langsung terasa ketika pengunjung menapakkan kaki di lantai paling atas gedung ini. Di sini, sejarah tidak terkunci dalam lemari kaca museum, melainkan dapat disentuh, dibeli, dan dibawa pulang sebagai kenang-kenangan yang bernilai.

Pasar Antik Cikapundung tidak muncul begitu saja. Jojo, Ketua Komunitas Pedagang Pasar Antik Cikapundung periode 2023-2028, menjelaskan bahwa pasar ini telah eksis selama lebih dari satu dekade.

“Ini berdiri 28 Oktober 2012. Jadi kira-kira mungkin 13 tahun. Diresmikan tahun 2013 oleh Pak Ridwan Kamil,” ungkap Jojo dalam wawancara eksklusif di lokasi.

Sebelum bertransformasi menjadi pusat barang antik yang terorganisir, lokasi ini merupakan tempat berkumpulnya para seniman, musisi, dan kolektor yang memiliki hobi serupa. Komunitas pedagang di sini pun terbentuk dari latar belakang yang sangat beragam. Mulai dari pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), purnawirawan TNI, mantan pedagang kaki lima, hingga mereka yang awalnya hanya sekadar hobi mengoleksi barang antik. Keberagaman inilah yang membuat koleksi di Pasar Antik Cikapundung begitu variatif dan memiliki kurasi yang unik dari setiap lapaknya.

Salah satu fenomena menarik yang terjadi pascapandemi adalah perubahan demografi pengunjung. Jika satu dekade lalu pasar ini didominasi oleh kolektor berusia matang, kini wajah-wajah muda mendominasi lorong-lorong pasar.

Berdasarkan wawancara infoJabar pada Rabu (24/12/2025) kepada komunitas pedagang, sebelum pandemi, segmen pasar didominasi oleh usia 40 tahun ke atas dengan persentase mencapai 70 persen. Namun, era digitalisasi mengubah peta tersebut secara drastis.

“Sejak pandemi, terjadi perubahan perilaku konsumen. Sekarang pas balik lagi itu era digitalisasi. Nah yang datang ke sini tuh hampir 80 persen anak-anak muda. Yang usia 40 tahun ke atas mungkin cuman sedikit ya sekarang, paling 10-20 persen aja,” jelas Jojo.

Fenomena ini selaras dengan tren retro dan vintage yang kembali digandrungi oleh Generasi Z . Barang-barang seperti kaset pita, pemutar CD, piringan hitam, hingga kamera analog tua menjadi primadona baru. Kaum muda tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga untuk menikmati suasana. Pasar ini menjadi lokasi favorit untuk tugas visual, penelitian, pembuatan konten media sosial, hingga sekadar tempat nongkrong dan menikmati kopi di tengah nuansa klasik.

Ragam Koleksi Barang Vintage di Pasar Antik Cikapundung

Apa saja yang diburu oleh para pengunjung? Jojo memaparkan bahwa preferensi pembeli sangat bergantung pada hobi masing-masing.

Barang-barang ini diperoleh para pedagang melalui berbagai jalur. Mulai dari sistem borongan rumah yang hendak dijual atau warisan, koleksi dari kolektor lama yang tidak lagi diteruskan oleh anaknya, hingga jaringan perdagangan antar-pedagang barang antik di seluruh Indonesia. Sistem kurasi yang ketat memastikan barang yang dijual memiliki nilai sejarah dan estetika yang tinggi.

Meskipun berlokasi di pusat Kota Bandung dan dekat dengan kawasan wisata Jalan Braga, Pasar Antik Cikapundung masih sering dianggap sebagai hidden gem atau permata tersembunyi. Letaknya yang berada di lantai tiga, di atas pusat elektronik yang ramai, sering kali membuat orang tidak menyadari keberadaannya.

Ironisnya, Jojo mencatat bahwa pengunjung justru didominasi oleh wisatawan dari luar kota seperti Jakarta, bahkan mancanegara. Warga lokal Bandung sendiri justru jarang berkunjung.

“Orang lokalnya sendiri jarang ke sini, mungkin mereka pikir ah dekat nanti lain kali gitu. Justru banyak turis dari luar kota sama dari mancanegara yang datang,” tambah Jojo.

Bagi wisatawan, pasar ini menawarkan pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Konsep one-stop destination untuk barang vintage membuat pengunjung betah berlama-lama. Selain jual beli, pasar ini juga melayani penyewaan properti. Banyak rumah produksi film atau pembuat konten yang menyewa barang-barang di sini untuk keperluan syuting (shooting) harian atau mingguan guna mendapatkan nuansa otentik sesuai tema zaman tertentu.

Meskipun arus digitalisasi membawa banyak anak muda datang ke lokasi fisik, tantangan tetap ada. Jojo mengakui bahwa transaksi daring (online) di pasar barang antik saat ini cenderung sepi dibandingkan masa pandemi, dan pasar konvensional pun belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.

Para pedagang kini beradaptasi dengan mengandalkan interaksi langsung di toko fisik (offline) sembari tetap memelihara kehadiran di media sosial seperti Instagram. Interaksi tatap muka dinilai lebih efektif karena pembeli barang antik sering kali perlu melihat kondisi fisik barang, merasakan teksturnya, dan memvalidasi keasliannya secara langsung.

Penulis adalah peserta Maganghub Kemenaker

Jejak Sejarah di Lantai Tiga

Gen Z Kini jadi Pemburu Barang Vintage

Hidden Gem yang Justru Dicari Wisatawan Luar Bandung