Nasib Pedagang Pasar Cikurubuk Jadi Atensi Pemkot Tasikmalaya

Posted on

Kondisi ratusan pedagang Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya yang gulung tikar akibat sepi pembeli mulai mendapatkan perhatian dari Pemkot Tasikmalaya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengaku sudah mengoordinasikan masalah itu dengan instansi terkait. Diky menyebut ada beberapa persoalan yang terdeteksi dan solusi yang bisa dilakukan.

“Tiga hari yang lalu sudah saya sampaikan masalah pedagang Pasar Cikurubuk ini kepada Sekda, Asda 2, Bappelitbangda termasuk Disperindag, untuk segera mengambil solusi,” kata Diky, Senin (19/1/2026).

Diky menjelaskan salah satu hal yang harus dievaluasi adalah soal tarif retribusi pasar. Pasalnya belum lama ini Pemkot memberlakukan kenaikan retribusi kepada pedagang. Evaluasi harus dilakukan, dengan target mengurangi beban pedagang yang sedang menghadapi masa sulit.

“Kita harus cek retribusi, apa itu memberatkan atau bagaimana. Harus dikaji lagi,” kata Diky.

Selain itu Diky juga mendorong agar pembangunan sarana prasarana infrastruktur Pasar Cikurubuk dibenahi. Walau pun kemampuan anggaran Pemkot Tasikmalaya terbatas, penataan pasar menurut Diky harus masuk prioritas.

“Walau pun kita lagi efisiensi tolong diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur di pasar,” kata Diky.

Hal lain yang tak kalah penting adalah menggencarkan pelatihan digital marketing. Dia meminta Pemkot Tasikmalaya membangun ekosistem pasar digital sendiri.

“Kemudian pelatihan digitalisasi bagi pedagang, karena kita sedang menghadapi persaingan yang luar biasa. Tasik harus punya POT, pasar online Tasikmalaya, yang bisa membantu warga Kota Tasikmalaya. Kita harus memikirkan juga bahwa para pedagang itu butuh bantuan promosi,” kata Diky.

Diky juga mengaku siap membantu secara langsung upaya promosi produk pedagang Tasikmalaya. “Kalau dianggap penting, dianggap perlu, untuk menjadi ikon gratis bagi produk Tasikmalaya, saya siap,” kata Diky.

Terakhir dia juga menyoroti soal persaingan usaha yang tidak sehat. Hal ini berkaitan dengan keluhan pedagang bahan sandang terkait keberadaan grosir besar yang ikut menjual secara eceran. Sehingga ini dituding sebagai salah satu penyebab banyak pedagang Pasar Cikurubuk gulung tikar.

“Pengaturan itu juga harus diperhatikan. Persaingan-persaingan ini kalau tidak diatur atau dibantu oleh pemerintah, yang kasihan itu adalah sebagian besar pedagang. makanya itu harus diatur,” kata Diky.

Sementara itu Amir Mahmud, pemerhati ekonomi di Tasikmalaya mengatakan fenomena pasar tradisional yang lesu transaksi terjadi hampir di semua daerah. Dia menyebut disrupsi digital menjadi salah satu pemicunya, tren belanja online sudah menyasar semua kalangan masyarakat.

“Menurut saya, Cikurubuk hari ini seperti di Tanah Abang, banyak kios gulung tikar karena perubahan pola belanja masyarakat, bukan hanya karena regulasi atau kondisi fisik kios,” ujar Amir.

Amir menambahkan, kondisi fisik Pasar Cikurubuk memang memperparah masalah.

Namun, menurut dia penyebab paling besar tetap pada pergeseran pola belanja masyarakat ke daring, yang kini lebih praktis, cepat, dan mudah dibandingkan berbelanja langsung di pasar.

Menurut Amir, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pasar tradisional. Jika pedagang dan pengelola pasar tidak segera beradaptasi, aktivitas jual beli yang selama ini menjadi denyut ekonomi lokal bisa tergilas.

“Jika pasar hanya mengandalkan cara lama, maka konsekuensinya ditinggalkan. Pelanggan kini beralih ke platform digital,” kata Amir.

Meski digitalisasi harus dilakukan, tapi keberadaan pasar tradisional tetap harus terjaga. Karena pasar tradisional tak sekedar tempat jual beli.

“Pasar itu pusat interaksi sosial, budaya, dan identitas lokal. Semua pihak perlu bekerja sama menjaga agar pasar tetap hidup,” kata Amir.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 1.000 kios pedagang tutup, paling banyak di Blok B dan area kebutuhan sandang. Perputaran uang tersendat, denyut ekonomi melemah. Seribuan pedagang gulung tikar menjadi alarm keras bahwa pasar sedang sakit.

Di tengah kelesuan itu, pedagang yang tersisa masih bertahan. “Ibaratnya kita sedang mode bertahan hidup. Hidup segan, mati tak sudi,” ujar Ai dan Budi, pedagang pakaian Blok B2.

Kedua pedagang yang kiosnya berhadapan ini masih bertahan, karena kios mereka berada di posisi yang masih dianggap punya potensi, tak jauh dari jalan utama Blok B.

“Kalau yang belakang sudah banyak yang tutup, kita saja yang agak depan sepi. Nah sekarang sudah mau tengah hari, saya belum dapat penglaris,” kata Ai.

Ai dan Budi menyebut salah satu penyebab kebangkrutan banyak pedagang sandang di Pasar Cikurubuk disebabkan oleh kehadiran toko grosir yang melayani penjualan eceran. Lokasi toko itu berada tak jauh dari Pasar Cikurubuk.

“Sejak toko grosir itu menjual eceran semua pedagang di pasar kolaps. Jadi hitungannya toko itu berubah seperti toserba atau mall. Jelas kami yang jadi korban,” kata Ai.

Padahal jika konsepnya toko modern atau mall, menurut Ai, lokasinya harus mengikuti regulasi. “Kan aturannya kalau toko modern, toserba atau mall harus jauh dari pasar tradisional. Harus sekian kilometer dari pasar tradisional,” kata Ai.