Jalan Dipatiukur adalah wajah modernitas Bandung yang tak pernah tidur. Di antara deretan kafe kekinian dan keriuhan indekos, sebuah unit di lantai dua ruko menawarkan denyut yang berbeda. Tak ada layar digital atau etalase kopi estetik, yang ada hanyalah ribuan kaset pita yang berjajar rapi di rak kayu, menampung album-album lama yang tak lagi mengikuti logika kecepatan zaman.
DU 68 Musik berdiri sebagai anomali di tengah tren. Adalah Om Benz, pria gondrong berkumis tebal, yang merintis ruang ini bersama tiga rekannya. Berawal dari hobi mengoleksi, mereka mengubah gairah bermusik menjadi unit usaha, bukan sekadar mencari untung, melainkan untuk merawat hobi itu agar tetap hidup. “Karena senang musik dan mengoleksi, akhirnya kami butuh uang juga untuk menambah koleksi. Akhirnya, kami jualan,” katanya saat ditemui di toko, Jumat (2/1/2026).
Ia bercerita, pada era 2000-an, toko kaset di Bandung masih didominasi penjualan album baru. Sementara itu, kaset bekas hampir tak memiliki ruang, kecuali di pasar loak. “Waktu itu toko kaset bekas belum ada. Adanya paling di pasar loak seperti Cihapit. Jadi, saya ingin buka toko kaset bekas untuk melawan toko album baru, tentu dengan harga yang jauh lebih murah,” kata Om Benz.
Hal itulah yang mendorong Om Benz dan teman-temannya menjual kaset jadul. Awalnya, barang yang dijual berasal dari koleksi pribadi. “Setelah koleksi menipis, kami mulai berburu atau hunting untuk dijual lagi,” ucapnya.
Sebelum menetap di Dipatiukur, mereka sempat berjualan kaki lima di kawasan Dewi Sartika. Bukan sekadar berdagang, mereka memberi alternatif harga terjangkau, koleksi unik, dan ruang bagi kaset-kaset lama yang tak tersedia di toko besar.
Pada awal 2000-an, saat ruko di kawasan Dipatiukur itu pertama kali berdiri, mereka menjadi penyewa pertama yang bertahan hingga saat ini. DU 68 Musik tak pernah berpindah tempat sejak saat itu. Bahkan saat pandemi COVID-19 melanda dan pengunjung toko fisik menyusut, Om Benz dan rekan-rekannya tidak berhenti bergerak. Media sosial dimanfaatkan sebagai perpanjangan tangan toko fisik.
“Waktu COVID, walaupun toko sepi, kami sudah mulai jualan daring (online),” ujar Om Benz. Langkah ini bukanlah keputusan mendadak. Jauh sebelum pandemi, salah satu rekan Om Benz telah lebih dulu menjajakan kaset melalui Facebook. Pengalaman tersebut menjadi modal penting saat situasi memaksa mereka beradaptasi.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Perubahan zaman memang menjadi ujian bagi DU 68 Musik. Internet mulai menggeser kebiasaan masyarakat dalam menikmati musik, membuat pengunjung tak seramai dulu. Namun menariknya, di tengah perubahan itu, DU 68 Musik justru mengalami regenerasi pengunjung. Wajah-wajah lama yang perlahan menghilang digantikan oleh generasi muda yang bahkan tidak tumbuh di era kaset pita.
“Malah dibanding dulu, sekarang lebih ramai. Orang-orang lama yang seangkatan saya sudah tidak kelihatan, sudah regenerasi,” kata Om Benz.
Pengunjung yang datang saat ini didominasi kalangan muda seperti mahasiswa, pencinta musik, hingga kolektor pemula. Mereka datang bukan karena kebutuhan praktis, melainkan demi mencari pengalaman berbeda dalam menikmati musik.








