Layar ponsel menyala, menampilkan deretan pencapaian teman sebaya: liburan mewah, pekerjaan mapan, hingga standar fisik yang nyaris sempurna. Tanpa sadar, perasaan tidak cukup baik atau rasa tidak aman (insecurity) mulai muncul.
Fenomena ini merupakan tantangan mental yang signifikan dan semakin umum dihadapi oleh banyak generasi muda Indonesia. Di tengah arus informasi yang menuntut kesempurnaan, konsep self love atau mencintai diri sendiri sering kali disalahartikan sebagai narsisme, padahal ini adalah mekanisme pertahanan bagi kesehatan mental.
Generasi muda saat ini, yang sering disebut sebagai digital natives, menghadapi tekanan psikologis yang spesifik, terutama dipengaruhi oleh lingkungan digital, dibandingkan dengan bentuk tekanan pada generasi sebelumnya. Paparan terus-menerus terhadap kehidupan sempurna” di media sosial menciptakan standar yang tidak realistis. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan mental mereka.
Mengacu pada hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei tersebut menemukan fakta bahwa satu dari tiga remaja Indonesia (setara dengan 15,5 juta remaja) memiliki masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja (sekitar 2,45 juta) memiliki gangguan mental. Studi ini menyoroti bahwa gangguan kecemasan (anxiety disorder) merupakan gangguan yang paling umum.
Ketidakmampuan untuk menerima diri sendiri menjadi salah satu pemicu utama kecemasan tersebut. Ketika seseorang gagal memenuhi standar eksternal, kritik terhadap diri sendiri (self-criticism) cenderung meningkat, yang jika dibiarkan, dapat bermuara pada depresi.
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk meluruskan definisi self love yang sering kali kabur di media sosial. Banyak yang mengira self love sebatas memanjakan diri seperti membeli barang mewah, liburan, atau perawatan kulit mahal. Padahal, esensinya jauh lebih dalam dari sekadar kesenangan sesaat.
Secara psikologis, self love adalah sebuah kondisi apresiasi terhadap diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual seseorang. Mencintai diri sendiri berarti memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendiri. Hal ini mencakup penerimaan utuh terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki tanpa syarat.
Mencintai diri sendiri juga berarti tidak mengorbankan kesejahteraan diri demi menyenangkan orang lain. Ini adalah praktik aktif, bukan sekadar perasaan. Ia terwujud dalam cara seseorang berbicara pada dirinya sendiri, cara memprioritaskan kebutuhan tidur, hingga keberanian untuk meninggalkan lingkungan toksik yang menghambat perkembangan diri. Jadi, self love bukanlah tentang menjadi egois, melainkan tentang membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri sebagai fondasi untuk berhubungan dengan orang lain.
Sering kali masyarakat keliru menyamakan self love dengan narsisme atau egoisme. Padahal, dalam kacamata psikologi, keduanya bertolak belakang. Narsisme melibatkan perasaan superioritas dan kebutuhan akan validasi eksternal yang berlebihan. Sebaliknya, self love berkaitan erat dengan konsep self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri.
Self love adalah kemampuan untuk bersikap hangat dan pengertian kepada diri sendiri ketika menghadapi kegagalan, serta menyadari bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia yang wajar.
Penerapan self love memiliki dampak fisiologis dan psikologis yang nyata. Self love memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Individu yang memiliki tingkat penerimaan diri yang tinggi cenderung lebih tangguh saat menghadapi tekanan sosial.
Secara biologis, sikap keras terhadap diri sendiri memicu sistem ancaman tubuh, melepaskan kortisol (hormon stres). Sebaliknya, sikap lembut dan suportif terhadap diri sendiri memicu pelepasan oksitosin dan endorfin, hormon yang memberikan rasa aman dan tenang. Oleh karena itu, self love bukan sekadar jargon motivasi, melainkan kebutuhan biologis untuk meredam stres kronis yang kerap dialami anak muda perkotaan maupun pedesaan.
Fungsi self love adalah sebagai salah satu pilar utama untuk membangun ketahanan dan perlindungan diri bagi kesehatan mental. Berikut adalah alasan mengapa mencintai diri sendiri tidak bisa ditawar lagi:
1. Meredam Kecemasan dan Depresi
Generasi muda yang memiliki tingkat self love rendah cenderung rentan terhadap kritik diri yang ekstrem. Individu yang gagal berwelas asih pada diri sendiri lebih mudah jatuh ke dalam pusaran emosi negatif saat menghadapi kegagalan. Dengan self love, seseorang mampu memandang kegagalan sebagai pelajaran, bukan vonis atas ketidakmampuan diri, sehingga risiko depresi dapat ditekan.
2. Meningkatkan Ketahanan Mental
Hidup penuh dengan ketidakpastian. Saat menghadapi masalah, individu yang mencintai dirinya sendiri memiliki bantalan emosional yang lebih tebal. Mereka lebih cepat bangkit dari keterpurukan karena tidak menghabiskan energi untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan fokus pada solusi dan pemulihan.
3. Membentuk Pola Hubungan yang Sehat
Seseorang yang tidak menghargai dirinya sendiri cenderung mentoleransi perlakuan buruk dari orang lain, baik dalam pertemanan maupun hubungan romantis. Self love menetapkan standar bagaimana orang lain boleh memperlakukan seseorang. Ini adalah filter alami untuk menjauhkan hubungan yang manipulatif atau merugikan.
4. Mendorong Produktivitas yang Berkelanjutan
Berbeda dengan praktik produktivitas berlebihan (hustle culture) yang dapat merusak kesehatan, self love mengajarkan produktivitas yang memprioritaskan keseimbangan dan pemulihan diri. Seseorang yang mencintai dirinya tahu kapan harus memacu diri dan kapan harus berhenti untuk istirahat. Kesadaran ini mencegah burnout atau kelelahan kronis yang justru bisa mematikan kreativitas dalam jangka panjang.
Membangun rasa cinta pada diri sendiri adalah proses berkelanjutan, bukan hasil instan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan:
1. Mulai dengan Kesadaran Penuh
Mulai dengan menyadari dialog internal. Apakah suara di kepala cenderung mengkritik atau mendukung? Mengganti narasi “Saya bodoh karena gagal” menjadi “Saya kecewa, tapi saya sudah berusaha dan bisa belajar dari ini” adalah sebuah langkah awal penting.
2. Detoksifikasi Media Sosial
Melakukan kurasi terhadap konten yang dikonsumsi. Kurangi mengikuti akun yang memicu rasa tidak aman, dan ganti dengan konten yang edukatif dan inspiratif.
3. Menetapkan Batasan Sehat
Berani berkata “tidak” pada hal-hal yang merugikan kesehatan mental atau fisik, baik itu dalam pergaulan maupun pekerjaan.
4. Mencari Bantuan Profesional
Jika perasaan benci terhadap diri sendiri sudah mengganggu fungsi sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui puskesmas atau rumah sakit adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri.
Di tengah maraknya dunia digital dan tuntutan sosial yang tinggi, self love hadir sebagai jangkar yang menjaga kewarasan generasi muda. Ia bukanlah tindakan memanjakan diri, melainkan disiplin untuk menghargai keberadaan diri sendiri secara utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Membangun kesehatan mental yang tangguh dimulai dengan penerimaan utuh terhadap sosok yang terpantul di cermin, tanpa syarat.







