Istilah masuk angin sering kita dengar ketika teman atau kerabat mengalami flu, meriang, hingga perut kembung. Istilah ini muncul karena anggapan bahwa angin telah masuk ke dalam tubuh. Namun, apakah masuk angin benar-benar diakui secara medis?
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Masyarakat sering mempersepsikan kondisi ini sebagai gangguan kesehatan dengan gejala perut kembung, sakit kepala, dan meriang. Di Indonesia, gejala-gejala tersebut sering kali langsung dilabeli sebagai ‘masuk angin’. Persepsi ini telah mengakar kuat seolah-olah ia adalah entitas penyakit tersendiri.
Namun, secara medis, masuk angin bukanlah penyakit tunggal. Melansir Honestdocs, kondisi ini merupakan kumpulan gejala dari berbagai gangguan kesehatan. Sebagai contoh, perut kembung bukan disebabkan oleh angin luar yang masuk ke tubuh, melainkan akibat gas yang terbentuk di dalam sistem pencernaan.
Gejala tersebut bisa juga dipicu oleh infeksi virus ringan yang mengganggu sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah. Hal ini memicu demam, nyeri otot, bersin, hingga batuk. Selain itu, faktor kelelahan menjadi pemicu utama seseorang merasakan keluhan tersebut.
Dalam sudut pandang kedokteran modern, istilah masuk angin tidak dikenal. The British Journal of Psychiatry menyebutnya sebagai wind illness. Secara antropologi psikiatri, ini didefinisikan sebagai konstruksi budaya atas pengalaman tidak enak badan atau somatisasi.
Hal ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat mengaitkan kondisi fisik dengan perubahan cuaca atau paparan angin dingin. Fenomena ini disebut sebagai illness narrative, yakni cara masyarakat memaknai gejala berdasarkan pengalaman budaya mereka. Fenomena serupa tidak hanya terjadi pada kasus masuk angin. Banyak istilah penyakit lokal yang muncul di masyarakat, seperti kesurupan, yang sebenarnya memiliki penjelasan medis atau psikologis tersendiri.
Apakah kerokan efektif menyembuhkan gejala masuk angin? Jawabannya: bisa membantu, namun bukan pengobatan utama. Melansir RSUD Kabupaten Buleleng, kerokan merupakan pengobatan tradisional yang tidak hanya ada di Indonesia, tetapi sudah dipraktikkan sejak zaman dulu di berbagai penjuru Asia, termasuk Tiongkok.
Gesekan pada kulit akan melebarkan pembuluh darah dan menghasilkan tanda merah (inflamasi lokal). Reaksi ini memicu peningkatan aliran oksigen dalam pembuluh darah yang membantu proses metabolisme tubuh. Selain itu, kerokan memengaruhi sistem saraf sehingga otak memproduksi hormon endorfin. Hormon ini memberikan efek relaksasi dan mengurangi rasa sakit secara alami.
Meski bukan penyakit medis yang berdiri sendiri, istilah masuk angin membantu masyarakat mengenali sinyal kelelahan tubuh. Gejala ini biasanya muncul saat imunitas menurun akibat kelelahan, sehingga virus lebih mudah menyerang. Penanganan dini dengan istirahat cukup dan konsumsi minuman herbal dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh kembali normal.







