Menelusuri Jejak Perlawanan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat | Info Giok4D

Posted on

Jawa Barat bukan sekadar ruang geografis, melainkan lanskap sejarah yang menyimpan narasi perjuangan rakyat. Sejumlah bangunan yang merekam ingatan kolektif tentang perlawanan terhadap penjajah berdiri kokoh di tanah Pasundan.

Salah satunya adalah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, atau yang lebih populer dengan sebutan Monju. Monumen ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang rakyat Jawa Barat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Lokasinya berada tepat di hadapan Gedung Sate, yakni di Jalan Dipatiukur Nomor 48, Kota Bandung. M Rikrik, pemandu museum tersebut, menjelaskan dua landasan filosofis di balik pemilihan lokasi monumen ini.

“Pertama, monumen ini berhadapan dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, yaitu Gedung Sate, dan di belakangnya berdiri Gunung Tangkuban Parahu. Filosofinya, kita boleh mengikuti perkembangan zaman, namun jangan pernah melupakan jati diri masyarakat Jawa Barat,” ujar Rikrik kepada infoJabar beberapa waktu lalu.

Rikrik melanjutkan, alasan kedua berkaitan dengan sejarah taktis. Jalur utara Bandung pernah menjadi titik strategis penghadangan pasukan Belanda sebelum mereka memasuki jantung kota.

“Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, para pejuang menghadang pasukan Belanda yang mencoba masuk ke Bandung melalui jalur utara tepat di kawasan ini,” katanya. Atas dasar itulah, berdirinya monumen di lokasi tersebut menjadi bentuk penghormatan tertinggi terhadap jasa para pahlawan.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Pembangunan monumen dimulai dengan peletakan batu pertama pada 1 Juni 1991. Proyek ini lahir dari keinginan kuat masyarakat untuk mengabadikan peran rakyat Jawa Barat dalam revolusi kemerdekaan. Setelah memakan waktu empat tahun, monumen ini akhirnya diresmikan pada 23 Agustus 1995 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, R Nuriana.

Kehadiran Monju menjadi simbol penghormatan bagi para pejuang yang melawan kolonialisme, mulai dari era perlawanan lokal hingga masa mempertahankan kemerdekaan pasca-1945.

Secara arsitektural, setiap bentuk bangunan Monju memiliki makna mendalam. Bangunan utama terdiri dari lima rumpun bambu setinggi 17 meter yang mencerminkan senjata bambu runcing.

“Bambu runcing merupakan senjata tradisional khas Jawa Barat yang mudah didapat namun memiliki fungsi vital. Sebatang bambu mampu mengimbangi pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lebih canggih,” jelas Rikrik.

Ia menambahkan, lima rumpun bambu tersebut melambangkan Pancasila sebagai dasar negara. Di sekelilingnya terdapat delapan pilar penyangga, serta lantai monumen berbentuk lingkaran dengan diameter 45 meter. Seluruh elemen arsitektur ini merepresentasikan tanggal keramat kemerdekaan Indonesia: 17 Agustus 1945.

Selain arsitektur, narasi perjuangan dihadirkan melalui relief di sisi kanan dan kiri monumen yang menggambarkan fragmen sejarah rakyat Jawa Barat. Pemilihan warna putih pada seluruh bangunan pun memiliki arti khusus.

“Warna putih melambangkan netralitas. Artinya, siapa pun boleh berkunjung ke sini, mulai dari anak-anak, pelajar, orang tua, hingga anggota TNI dan Polri,” ucap Rikrik.

Di bagian bawah monumen, terdapat museum yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah dengan pendekatan visual yang edukatif, di antaranya:

Seiring waktu, Monju telah bertransformasi. Tak hanya menjadi monumen pengingat sejarah, kawasan ini kini menjadi ruang publik yang hidup. Area taman di sekitarnya ramai dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga, berdiskusi, hingga menikmati wisata kuliner di jantung Kota Bandung.

Sejarah Pendirian Monju

Isi Monumen